Niniek Elia Kasigit (78) mengenal bisnis batik sejak kanak-kanak. Ibu dan neneknya menggeluti usaha batik di Kota Solo, Jawa Tengah. Bisnis batik keluarga ini berakar jauh pada abad ke-19. Dengan semangat dan kreativitas yang tak pernah digerogoti usia, dia mempertahankan tradisi bisnis batik itu melewati pergantian abad dan jungkir balik selera.
Ketika masa pendudukan Jepang tahun 1942, pabrik batik keluarga Niniek ditutup. Pada usia 12 tahun, ia pun berhenti sekolah karena Jepang menutup sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar.
Namun, berhenti sekolah tak memadamkan semangat belajarnya. Niniek melanjutkan belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan Mandarin secara informal, sekaligus menekuni keterampilan menjahit.
Pada usia 18 tahun, Niniek menikah dengan Somadi Kasigit yang juga berasal dari keluarga pengusaha batik di Solo. Setahun sebelum menikahi Niniek, Somadi mendirikan perusahaan Batik Bodronoyo pada 1947. Bodronoyo adalah nama lain Semar, tokoh panutan dalam pewayangan.
Tahun 1966 nama Batik Bodronoyo diganti menjadi Batik Semar karena nama Semar lebih akrab di masyarakat. Sampai sekarang Batik Semar menjadi salah satu produsen dan eksportir batik utama di Solo.
"Dulu, ibu saya membuat jarik (kain panjang) batik cap. Ketika mulai usaha sendiri, cap-cap dari perusahaan orangtua saya simpan,
kami buat batik tulis," ujar Ny Kasigit, panggilan Niniek.
Cap pada pembatikan dibuat dari kawat tembaga yang membentuk satu blok motif sebagai pengganti canting, alat lukis batik. Produksi batik cap volumenya lebih besar dibandingkan dengan batik tulis agar lebih ekonomis.
Mahalnya harga kain pascapenjajahan Jepang menjadi tantangan berat bagi produsen batik. Pasangan Niniek-Kasigit memilih memproduksi batik tulis dengan sejumlah pembatik di bengkel yang juga menjadi rumah tinggal mereka masa itu. "Batik kami waktu itu seluruhnya bercorak solo asli warna sogan."
Ketika perusahaan mulai berjalan, agresi militer Belanda tahun 1949 memaksa keluarga Kasigit mengungsi ke Surabaya. Di pengungsian, pasangan ini menggandeng beberapa pembatik dari Sidoarjo, memperkenalkan corak solo, dan menjual produksi mereka di sekitar Surabaya.
"Usaha di Surabaya tak berkembang, sulit mencari pembatik, juga karena tempat usahanya di pengungsian," tutur Ny Kasigit.
Kembali ke Solo awal 1950, pasangan ini memulai lagi produksi batik dengan lima karyawan. Kombinasi produksi batik tulis dengan cap baru dilakukan tahun 1953 setelah modal bertambah. "Sekitar tahun 1953 pengusaha batik di Solo juga terbantu karena
dapat jatah pembelian kain mori dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia," ujarnya.
Tahun 1954 mereka menyewalahan seluas hampir 5.000 meter persegi di kawasan Punggawan, Solo. Seiring perkembangan usaha, lahan ini mereka beli di kemudian hari. "Saya bagian ngurus pembatik, suami menyiapkan bahan-bahan warna
dan cari pasar," ujar Niniek tentang pembagian kerja dengan suami, masa itu.
Penyegaran
Menjelang tahun 1960 dia merasa perlu penyegaran kreasi pada batik. "Saya kok kayak bosen, terus kepikir kasih warna-warna lain,
tidak hanya sogan," ujarnya.
Perubahan warna juga mendorong adopsi beragam corak batik dari daerah lain. Namun, perubahan menuntut energi lebih. "Sampai saya tumpuk kain-kain yang sudah dibatik, menunggu warnanya siap. Wis embuh, rusak yo embuh," katanya menceritakan upaya memaksa suaminya mencari warna baru dengan membiarkan hasil pembatikan menumpuk dan terancam rusak.
Pasar menyambut baik kreasi baru ini. Dari 5 karyawan ketika berdiri, Batik Semar berkembang dengan sekitar 200 karyawan pada 1960-an.
Sejak abad ke-19, teknik printing yang diimpor dari Eropa untuk membuat kain bermotif batik mulai berkembang di Indonesia. Pasar pun menuntut produk batik yang lebih murah.
Membaca situasi ini, pada 1972 Batik Semar memproduksi kain cetakan bermotif batik. Produksi printing itu khusus untuk bahan
kemeja, sedangkan batik tulis dan cap tetap dikembangkan. "Setelah punya unit printing, kami baru buka toko dan memproduksi
garmen, bukan hanya batik," ujarnya. Sekarang Batik Semar mempunyai toko dan kantor cabang di 20 kota di Indonesia.
Tahun 1983 Somadi meninggal, dan Niniek terus mengembangkan Batik Semar. Sejak 1989 perusahaan ini mengekspor garmen dan kerajinan tangan berbahan batik ke Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara Asia.
Habis terbakar
Ketika bisnis Batik Semar membesar, ruang pamer utama, bengkel produksi batik tulis, dan rumah tinggal Niniek dalam satu kompleks di Punggawan terbakar habis pada 2002. Kebakaran ini menghanguskan pula koleksi batik kuno yang diproduksi orangtuanya.
Di sini Niniek membuktikan kreativitas dan semangat kerja kerasnya tak terpatahkan. Hanya tiga bulan tutup, Batik Semar membuka toko lagi di bekas pabrik tekstil milik mendiang Somadi Kasigit di Jalan Adisucipto, Solo. Unit printing Batik Semar kembali berproduksi. Untuk batik tulis dan cap, dia bekerja sama dengan sejumlah perajin di sekitar Kota Solo.
Pelan-pelan dia memulihkan usahanya. Tahun 2006 ruang pamer utama Batik Semar selesai dibangun dengan konsep dan tatanan baru.
Kini dia menjadi Komisaris Utama PT Batik Semar. Niniek berkantor selama jam kerja dari Senin hingga Sabtu meski manajemen hanya berkantor Senin sampai Jumat. Desain motif pun tak luput dari perhatiannya. "Kadang saya pusing mikir motif batik, tapi saya enggak pernah bisa lari dari itu," ujarnya.
Bepergian menjadi resep untuk menyegarkan pikiran sekaligus mencari inspirasi desain baru. Ia mulai bepergian ketika mengurus
keikutsertaan Batik Semar pada berbagai pameran di luar negeri. "Sekali-sekali saya ikut jalan-jalan dan oleh-olehnya buku
desain dan inspirasi motif baru," ujarnya.
Usia yang terus bertambah tak menyurutkan semangat belajar Niniek. Itu pun tak hanya dalam lingkup yang berkaitan dengan Batik Semar. Ketika keempat anaknya kuliah di Jerman, misalnya, Niniek pun ikut belajar bahasa Jerman.
Kadang saya pusing mikir motif batik, tapi saya enggak pernah bisa lari dari itu.
Nur Hidayati
Edo Melangkah Lagi
Perancang busana Edward ”Edo” Hutabarat kini melangkah lagi, dua tahun setelah dia membuat batik katun yang bertahun-tahun kalah pamor dibandingkan dengan batik sutra menjadi mode kembali.
Edo tetap memakai batik, kali ini di atas sutra, mulai dari crepe de Chine, satin, hingga organdi. Pembatikan dikerjakan dengan cara tulis dan cap, tetapi dengan tingkat kehalusan prima. ”Batik harus juga tampil mewah dan diterima lebih luas lagi,” kata dia.
Sebelum Edo, batik sudah coba diangkat pamornya menjadi produk mewah. Iwan Tirta memperkenalkan batik sutra dengan prada emas. Sementara Edo menyasar orang muda dan yang merasa muda, meskipun dia menggunakan sutra.
Berulang kali Edo menekankan dia bukan pembatik. Tetapi, minat yang sungguh-sungguh pada batik terasa dalam karyanya. Gaun malam panjang dan pendek atau gaun dan jaket untuk siang hari terlihat dirancang sejak masih berupa selembar kain kosong tanpa motif.
Gaun panjang bermotif parang di atas organdi, misalnya, dibatik cap di atas kain selebar 1,5 meter sepanjang 5 meter untuk menghasilkan satu gaun berpotongan A dengan rok melingkar penuh. ”Tiap lembar kain menjadi satu gaun,” papar Edo.
Dia meminjam banyak motif batik tua, seperti motif buketan—dari kata bouquet, karangan bunga—yang dipopulerkan pada awal abad ke-20 oleh pengusaha batik pesisir keturunan Tionghoa atau peranakan Indo-Belanda untuk keperluan perempuan Belanda atau Indo-Belanda di Jawa.
Juga motif hokokai, populer saat invasi Jepang ke Jawa, yang ditandai oleh motif bunga krisan dan kupu-kupu serta motif banji dan motif mitologi ”anjing-singa” kilin.
Berbagai bangsa
Pilihan MasterCard Asia Pasifik menampilkan karya terbaru Edo di Bali pada Sabtu (15/11) malam dengan tamu dari berbagai bangsa itu memperlihatkan batik Indonesia diakui dan dapat diterima secara internasional.
Karena alasan itu, Edo menggunakan materi yang lebih mewah, yaitu sutra, serta pembatikan tulis maupun cap yang dikerjakan oleh artisan-artisan batik yang ahli di bidangnya masing-masing.
Laweyan yang terkenal karena kualitas batik capnya diserahi membuat batik cap dan pembatik di Kauman diminta membuat batik tulis halus warna sogan bermotif hokokai. Sedangkan artisan batik di Pekalongan diminta membuat batik gaya pesisiran yang memang menjadi keahlian mereka, dengan warna diperbarui.
Edo terus menawarkan kemungkinan-kemungkinan padu-padan dengan materi nonbatik untuk menghasilkan tampilan baru. Dia melakukannya dengan memadukan batik bermotif parang hitam dan putih dengan mantel sutra bermotif bunga merah jambu. Gaun bermotif parang hitam-putih diberi pundak motif bergaris dan mantel bermotif polkadot.
Padu padan ini juga untuk memberi kemungkinan penggunaan yang luas, termasuk ketika dia membuat kerah palsu merah darah yang dapat dilepas yang dipadukan dengan gaun bergaris A motif banji. Warna-warna cerah yang disesuaikan dengan arah mode membuat gaun-gaun ini tampak riang dan muda.
Itulah keyakinan Edo. Orang muda adalah pembawa perubahan dan melalui mereka demam batik dapat bertahan. Artinya, ketika orang terus mau memakai batik—bukan kain print bermotif batik—para perajin batik dapat terus hidup di tengah impitan ekonomi yang saat ini tak tampak cerah.
Ninuk Mardiana Pambudy
Edo tetap memakai batik, kali ini di atas sutra, mulai dari crepe de Chine, satin, hingga organdi. Pembatikan dikerjakan dengan cara tulis dan cap, tetapi dengan tingkat kehalusan prima. ”Batik harus juga tampil mewah dan diterima lebih luas lagi,” kata dia.
Sebelum Edo, batik sudah coba diangkat pamornya menjadi produk mewah. Iwan Tirta memperkenalkan batik sutra dengan prada emas. Sementara Edo menyasar orang muda dan yang merasa muda, meskipun dia menggunakan sutra.
Berulang kali Edo menekankan dia bukan pembatik. Tetapi, minat yang sungguh-sungguh pada batik terasa dalam karyanya. Gaun malam panjang dan pendek atau gaun dan jaket untuk siang hari terlihat dirancang sejak masih berupa selembar kain kosong tanpa motif.
Gaun panjang bermotif parang di atas organdi, misalnya, dibatik cap di atas kain selebar 1,5 meter sepanjang 5 meter untuk menghasilkan satu gaun berpotongan A dengan rok melingkar penuh. ”Tiap lembar kain menjadi satu gaun,” papar Edo.
Dia meminjam banyak motif batik tua, seperti motif buketan—dari kata bouquet, karangan bunga—yang dipopulerkan pada awal abad ke-20 oleh pengusaha batik pesisir keturunan Tionghoa atau peranakan Indo-Belanda untuk keperluan perempuan Belanda atau Indo-Belanda di Jawa.
Juga motif hokokai, populer saat invasi Jepang ke Jawa, yang ditandai oleh motif bunga krisan dan kupu-kupu serta motif banji dan motif mitologi ”anjing-singa” kilin.
Berbagai bangsa
Pilihan MasterCard Asia Pasifik menampilkan karya terbaru Edo di Bali pada Sabtu (15/11) malam dengan tamu dari berbagai bangsa itu memperlihatkan batik Indonesia diakui dan dapat diterima secara internasional.
Karena alasan itu, Edo menggunakan materi yang lebih mewah, yaitu sutra, serta pembatikan tulis maupun cap yang dikerjakan oleh artisan-artisan batik yang ahli di bidangnya masing-masing.
Laweyan yang terkenal karena kualitas batik capnya diserahi membuat batik cap dan pembatik di Kauman diminta membuat batik tulis halus warna sogan bermotif hokokai. Sedangkan artisan batik di Pekalongan diminta membuat batik gaya pesisiran yang memang menjadi keahlian mereka, dengan warna diperbarui.
Edo terus menawarkan kemungkinan-kemungkinan padu-padan dengan materi nonbatik untuk menghasilkan tampilan baru. Dia melakukannya dengan memadukan batik bermotif parang hitam dan putih dengan mantel sutra bermotif bunga merah jambu. Gaun bermotif parang hitam-putih diberi pundak motif bergaris dan mantel bermotif polkadot.
Padu padan ini juga untuk memberi kemungkinan penggunaan yang luas, termasuk ketika dia membuat kerah palsu merah darah yang dapat dilepas yang dipadukan dengan gaun bergaris A motif banji. Warna-warna cerah yang disesuaikan dengan arah mode membuat gaun-gaun ini tampak riang dan muda.
Itulah keyakinan Edo. Orang muda adalah pembawa perubahan dan melalui mereka demam batik dapat bertahan. Artinya, ketika orang terus mau memakai batik—bukan kain print bermotif batik—para perajin batik dapat terus hidup di tengah impitan ekonomi yang saat ini tak tampak cerah.
Ninuk Mardiana Pambudy
Sejarah Motif Batik Kraton
PROF DR SUJOKO (ALM), PAKAR SENI RUPA DARI ITB PERNAH MENYAMPAIKAN DI YOGYAKARTA, BAHWA PELUKIS PERTAMA DARI INDONESIA ADALAH PEREMPUAN JAWA YANG “MELUKIS” DENGAN CANTING DI ATAS BAHAN TENUNANNYA.
Melukis dengan canting, sudah jelas yang dimaksud tentu membantik. Dan, merujuk pada penjelasan waktu pada kalimat sang profesor tersebut, sudah sangat menjelaskan pula bahwa batik Jawa telah lama ada, bahkan merupakan produk seni rupa paling tua di Indonesia.
Secara terminologi, kata batik berasal dari kosa kata bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna.
Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanannya memunculkan Kraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.
Pada abad XVII, batik bertahan menjadi bahan perantara tukar-menukar di Nusantara hingga tahun-tahun permulaan abab XIX. Memang. Ketika itu batik di Pulau Jawa yang menjadi suatu hasil seni di dalam kraton telah menjadi komoditi perdagangan yang menarik di sepanjang pesisir utara.
Menurut Mari S Condronegoro dari trah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, di lingkungan bangsawan kraton di Jawa, kain batik dikenakan sebagai busana mereka. Kain batik di lingkungan kraton merupakan kelengkapan busana yang dipergunakan untuk segala keperluan, busana harian, busana keprabon, busana untuk menghadiri upacara tradisi, dan sebagainya. Busana pria Jawa yang terdiri dari tutup kepala, nyamping, kampuh, semuanya berupa kain batik. Begitu pula dengan kelengkapan busana putri Jawa yang juga berupa kain batik.
Dahulu, kain batik dibuat oleh para putri sultan sejak masih berupa mori, diproses, hingga menjadi kain batik siap pakai. Semuanya dikerjakan oleh para putri dibantu para abdi dalem. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Murdijati Gardjito dari Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad, membatik di lingkungan kraton merupakan pekerjaan domestik para perempuan. Sebagai perempuan Jawa, ada keharusan bisa membatik, karena membatik sama dengan melatih kesabaran, ketekunan, olah rasa, dan olah karsa.
Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, ia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelasuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Kraton Surakarta kepada Kraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan kraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di kraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Kraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri kraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Kraton KasultananYogyakarta dan warna batik Kraton Surakarta.
Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Kraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Kraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Kraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya.
Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.
Barangkali sah-sah saja. Tetapi selama itu masih bernama batik, maka sebenarnya tak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa pemilik aslinya. Bukankah kata “batik” (amba titik), sudah menjelaskan dari mana asal muasal bahasanya?
Melukis dengan canting, sudah jelas yang dimaksud tentu membantik. Dan, merujuk pada penjelasan waktu pada kalimat sang profesor tersebut, sudah sangat menjelaskan pula bahwa batik Jawa telah lama ada, bahkan merupakan produk seni rupa paling tua di Indonesia.
Secara terminologi, kata batik berasal dari kosa kata bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna.
Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanannya memunculkan Kraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.
Pada abad XVII, batik bertahan menjadi bahan perantara tukar-menukar di Nusantara hingga tahun-tahun permulaan abab XIX. Memang. Ketika itu batik di Pulau Jawa yang menjadi suatu hasil seni di dalam kraton telah menjadi komoditi perdagangan yang menarik di sepanjang pesisir utara.
Menurut Mari S Condronegoro dari trah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, di lingkungan bangsawan kraton di Jawa, kain batik dikenakan sebagai busana mereka. Kain batik di lingkungan kraton merupakan kelengkapan busana yang dipergunakan untuk segala keperluan, busana harian, busana keprabon, busana untuk menghadiri upacara tradisi, dan sebagainya. Busana pria Jawa yang terdiri dari tutup kepala, nyamping, kampuh, semuanya berupa kain batik. Begitu pula dengan kelengkapan busana putri Jawa yang juga berupa kain batik.
Dahulu, kain batik dibuat oleh para putri sultan sejak masih berupa mori, diproses, hingga menjadi kain batik siap pakai. Semuanya dikerjakan oleh para putri dibantu para abdi dalem. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Murdijati Gardjito dari Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad, membatik di lingkungan kraton merupakan pekerjaan domestik para perempuan. Sebagai perempuan Jawa, ada keharusan bisa membatik, karena membatik sama dengan melatih kesabaran, ketekunan, olah rasa, dan olah karsa.
Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, ia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelasuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Kraton Surakarta kepada Kraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan kraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di kraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Kraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri kraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Kraton KasultananYogyakarta dan warna batik Kraton Surakarta.
Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Kraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Kraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Kraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya.
Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.
Barangkali sah-sah saja. Tetapi selama itu masih bernama batik, maka sebenarnya tak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa pemilik aslinya. Bukankah kata “batik” (amba titik), sudah menjelaskan dari mana asal muasal bahasanya?
Corak Batik Pamekasan Akan Dipatenkan
Pamekasan - Tidak ingin hasil kerajinan daerah dipatenkan oleh pihak asing, batik khas Pamekasan, Madura, akan dipatenkan. Pematenan hasil karya batik ini bakal dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pamekasan.
Rencana pematenan batik Pamekasan ini sendiri disambut gembira ratusan pengrajin batik di Desa Klampar dan Desa Toket, Kecamatan Propo.
Ahmadi, salah seorang pengrajin batik asal Desa Klampar mengatakan, pematenan corak batik Pamekasan akan memberikan kenyamanan bagi pembatik. Sebab, sejumlah corak batik Pamekasan, banyak ditiru pembatik daerah lain di Jawa.
"Jika dilindungi hak paten atau hak cipta, maka pembatik Pamekasan bisa melayangkan keberatan pada produsen batik luar Madura yang kedapatan meniru corak batik Madura," tegas Ahmadi, saat dihubungi di rumahnya di Desa Klampar, Minggu (14/9/2008)
Selain sebagai pengrajin batik, Ahmadi dikenal sebagai bapak angkat dari 25 orang pengrajin batik di Desa Klampar. Sebagai bapak angkat, Ahmadi memberikan modal dan membantu pemasaran batik buah karya pembatik yang jadi mitranya.
Permintaan kain batik sendiri menjelang lebaran meningkat pesat. Hingga pertengahan puasa ini, Ahmadi mengaku telah mengirimkan masing-masing sepuluh kodi ke pembeli di Surabaya dan Jakarta.
"Pagi tadi, saya mendapat pesanan sepuluh kodi dari pembeli di Jogjakarta," ungkapnya. Pada hari normal, permintaan kain batik tak lebih dari 5 kodi setiap bulan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pamekasan Bahrun, menyatakan hak cipta atas corak batik khas Pamekasan, Madura akan dilakukan setelah lebaran nanti.
Bahrun berjanji, akan membawa sejumlah corak batik khas Pamekasan ke kantor Direktorat Hak Cipta Departemen Hukum dan HAM di Jakarta. "Semoga saja pengajuan hak cipta corak batik khas Pamekasan, akan berjalan lancar dan sukses," kata Bahrun setengah berharap.
Dinas Perindustrian Pamekasan mencatat terdapat 105 orang pengrajin batik. Mereka tersebar di Desa Klampar dan Desa Toket kecamatan Propo. Pemasaran kain batik Pamekasan, tersebar ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya.
Bahkan, kain batik karya pengrajin Pamekasan ini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.(bdh/bdh)
Rencana pematenan batik Pamekasan ini sendiri disambut gembira ratusan pengrajin batik di Desa Klampar dan Desa Toket, Kecamatan Propo.
Ahmadi, salah seorang pengrajin batik asal Desa Klampar mengatakan, pematenan corak batik Pamekasan akan memberikan kenyamanan bagi pembatik. Sebab, sejumlah corak batik Pamekasan, banyak ditiru pembatik daerah lain di Jawa.
"Jika dilindungi hak paten atau hak cipta, maka pembatik Pamekasan bisa melayangkan keberatan pada produsen batik luar Madura yang kedapatan meniru corak batik Madura," tegas Ahmadi, saat dihubungi di rumahnya di Desa Klampar, Minggu (14/9/2008)
Selain sebagai pengrajin batik, Ahmadi dikenal sebagai bapak angkat dari 25 orang pengrajin batik di Desa Klampar. Sebagai bapak angkat, Ahmadi memberikan modal dan membantu pemasaran batik buah karya pembatik yang jadi mitranya.
Permintaan kain batik sendiri menjelang lebaran meningkat pesat. Hingga pertengahan puasa ini, Ahmadi mengaku telah mengirimkan masing-masing sepuluh kodi ke pembeli di Surabaya dan Jakarta.
"Pagi tadi, saya mendapat pesanan sepuluh kodi dari pembeli di Jogjakarta," ungkapnya. Pada hari normal, permintaan kain batik tak lebih dari 5 kodi setiap bulan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pamekasan Bahrun, menyatakan hak cipta atas corak batik khas Pamekasan, Madura akan dilakukan setelah lebaran nanti.
Bahrun berjanji, akan membawa sejumlah corak batik khas Pamekasan ke kantor Direktorat Hak Cipta Departemen Hukum dan HAM di Jakarta. "Semoga saja pengajuan hak cipta corak batik khas Pamekasan, akan berjalan lancar dan sukses," kata Bahrun setengah berharap.
Dinas Perindustrian Pamekasan mencatat terdapat 105 orang pengrajin batik. Mereka tersebar di Desa Klampar dan Desa Toket kecamatan Propo. Pemasaran kain batik Pamekasan, tersebar ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya.
Bahkan, kain batik karya pengrajin Pamekasan ini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.(bdh/bdh)
Pelukis Batik "Nostalgia pada Alam dan Cinta
Amri Yahya, pelopor seni lukis batik itu, telah pulang ke lautan warna yang kekal.
Pertama kali bertemu di Yogya, di kampus ASRI, pada 1958, Amri mengesankan seorang yang periang, humoris, dan dermawan. Ia menyapa dengan akrab siapa pun, termasuk para calon seniman yang culun dari desa-desa di Jawa maupun luar Jawa. Ia bisa mentraktir siapa saja yang tak dikenalnya di warung Bu Karto atau warung Bu Djojo, yang mangkal di sekitar kampus. Ia juga bisa memberi uang kepada mahasiswa yang membutuhkan uang dengan cepat. Waktu itu Amri sudah memiliki rumah yang merangkap studio, di depan kampus ASRI, sementara para mahasiswa lain masih kos di rumah-rumah sekitar kampus, bertahun-tahun.
Kegigihannya dalam mengembangkan seni lukis batik—hal yang sebenarnya dipandang dengan sebelah mata oleh para seniman yang dewasa itu gandrung dengan Picasso, Van Gogh, Modigliani, ataupun Dali—tentu saja menimbulkan keanehan. Bahkan ada pelukis senior yang tidak mengakui seni lukis batik karena dikerjakan banyak orang. Ia lupa bahwa karya-karya Vasarely juga dikerjakan tenaga yang berjibun jumlahnya. "Kalau mau jadi seniman besar, tutuplah telinga," begitulah filosofi Amri tentang cara kerjanya.
Proses pengerjaan lukisan batik sebenarnya persis membatik tulis. Di atas kain katun, sang pelukis menyapu dengan malam (lilin batik yang kental) lewat kuas. Lalu kain itu diguyur pewarna menurut kebutuhan akan warna. Kain yang tertutup malam tidak tersentuh. Setelah itu, garis-garis malam yang centang-perenang itu digebyok atau dilorot dengan air mendidih. Nah, begitu bersih, garis yang silang-selungkang itu tetap putih. Jika garis-ga-ris itu akan diberi warna, tinggal dicelup ke dalam warna yang dimaksud.
Sedangkan garis-garis yang tidak diberi warna harus ditutup kembali dengan malam. Begitu seterusnya, proses tutup malam dan gores warna itu bisa berlangsung berkali-kali menurut kebutuhan artistik sang seniman. Amri biasa bekerja mendetail. Untuk lukisan ukuran 4 meter kali 2 meter, misalnya, Amri bisa memproses lukisan batiknya sampai lebih dari seratus kali. Tentu saja Amri dibantu sejumlah pekerja yang ahli memproses batik.
Lukisan-lukisan Amri dengan teknik batik bak pelangi dengan warna-warna primer. Merah, kuning, biru, hijau, violet, mencuat-menebah-menghambur, laksana meteor yang memenuhi angkasa. Ada juga yang mengesankan sebuah konser jazz dengan nada-nada mengentak, mengalun, mendayu-dayu yang menimbulkan nostalgia pada alam dan cinta. Ringan, bahagia, dan apa adanya, itulah kesan dari karya-karya lukis batik Amri. Ia tak merasa berkesenian itu butuh suatu beban filosofi yang berat. Kerjanya cepat sehingga produktif seperti dapur yang menghasilkan kacang goreng, begitu komentar seorang pelukis senior.
Barang tentu Amri sama masyhurnya dengan Affandi, maestro yang melegenda di dunia itu. Amri berkeliling dunia sejak 1974 hingga 1979, untuk berpameran lukisan batik, berdemo melukis batik, mengajar kesenian Indonesia dan lukisan batik, mempromosikan pariwisata Indonesia. Di Amerika, Amri mengajar selama empat bulan di Universitas Oklahoma dan enam bulan di Universitas Iowa. Ia juga berpameran di New York, Chicago, dan California. Sepanjang 1976-1979, Amri berpameran di Eropa dan negara-negara Timur Tengah. Di Paris, Amri berpameran di markas besar UNESCO dan dibuka oleh sekjennya, Dr M'bow.
Dewasa ini ada empat orang maestro yang harga jual lukisannya mencapai miliaran rupiah: Amri Yahya, Srihadi Soedarsono, Djoko Pekik, dan Sunaryo. Satu di antara maestro itu bahkan di studionya sudah menyediakan belasan kanvas kosong berderet-deret dengan nama-nama kolektornya. Dalam satu tarikan kuasnya, belasan kanvas kosong itu mentransformasikan diri menjadi lukisan-lukisan yang tak tepermanai.
Lahir di Palembang, 29 September 1939, Amri menikah dengan Soed Sri Suzamti pada 1960 dan dikaruniai empat putra-putri: Emi Amri (sarjana hukum), Adwi Amri (sarjana seni), Yanipan Amri (sarjana ekonomi), dan Feriqo Amri (sarjana arsitektur). Mendapat gelar profesor doktor dari almamaternya, Universitas Negeri Yogyakarta, dan mengajar di sana sampai tutup mata, kompletlah darma-bakti Amri sebagai seniman dan pendidik seni. Ia bersahabat dengan penyair Taufiq Ismail sejak tahun 60-an, yang sudah dianggap saudaranya.
Pada 14 September 2004 pukul 23:30, Amri dikaruniai musibah. Rumahnya terbakar. Sekitar 60 persen dari 3.000 lembar lukisannya (batik, cat minyak, akrilik, cat air) musnah, termasuk file, katalog, dan dokumentasi. Kebakaran ini cukup aneh karena api berkobar dari atap, sementara listrik tidak mati beberapa saat. Tiga bulan kemudian, pada 19 Desember 2004 pukul 11:30, Amri meninggal karena komplikasi penyakit diabetes dan radang paru-paru. Amri adalah pembaru seni lukis Indonesia yang telah mempertahankan harkat seni tradisi yang luar biasa. Amri adalah gambaran manusia yang utuh, dan semoga dikaruniai surga.
Danarto, penulis, pelukis
Pertama kali bertemu di Yogya, di kampus ASRI, pada 1958, Amri mengesankan seorang yang periang, humoris, dan dermawan. Ia menyapa dengan akrab siapa pun, termasuk para calon seniman yang culun dari desa-desa di Jawa maupun luar Jawa. Ia bisa mentraktir siapa saja yang tak dikenalnya di warung Bu Karto atau warung Bu Djojo, yang mangkal di sekitar kampus. Ia juga bisa memberi uang kepada mahasiswa yang membutuhkan uang dengan cepat. Waktu itu Amri sudah memiliki rumah yang merangkap studio, di depan kampus ASRI, sementara para mahasiswa lain masih kos di rumah-rumah sekitar kampus, bertahun-tahun.
Kegigihannya dalam mengembangkan seni lukis batik—hal yang sebenarnya dipandang dengan sebelah mata oleh para seniman yang dewasa itu gandrung dengan Picasso, Van Gogh, Modigliani, ataupun Dali—tentu saja menimbulkan keanehan. Bahkan ada pelukis senior yang tidak mengakui seni lukis batik karena dikerjakan banyak orang. Ia lupa bahwa karya-karya Vasarely juga dikerjakan tenaga yang berjibun jumlahnya. "Kalau mau jadi seniman besar, tutuplah telinga," begitulah filosofi Amri tentang cara kerjanya.
Proses pengerjaan lukisan batik sebenarnya persis membatik tulis. Di atas kain katun, sang pelukis menyapu dengan malam (lilin batik yang kental) lewat kuas. Lalu kain itu diguyur pewarna menurut kebutuhan akan warna. Kain yang tertutup malam tidak tersentuh. Setelah itu, garis-garis malam yang centang-perenang itu digebyok atau dilorot dengan air mendidih. Nah, begitu bersih, garis yang silang-selungkang itu tetap putih. Jika garis-ga-ris itu akan diberi warna, tinggal dicelup ke dalam warna yang dimaksud.
Sedangkan garis-garis yang tidak diberi warna harus ditutup kembali dengan malam. Begitu seterusnya, proses tutup malam dan gores warna itu bisa berlangsung berkali-kali menurut kebutuhan artistik sang seniman. Amri biasa bekerja mendetail. Untuk lukisan ukuran 4 meter kali 2 meter, misalnya, Amri bisa memproses lukisan batiknya sampai lebih dari seratus kali. Tentu saja Amri dibantu sejumlah pekerja yang ahli memproses batik.
Lukisan-lukisan Amri dengan teknik batik bak pelangi dengan warna-warna primer. Merah, kuning, biru, hijau, violet, mencuat-menebah-menghambur, laksana meteor yang memenuhi angkasa. Ada juga yang mengesankan sebuah konser jazz dengan nada-nada mengentak, mengalun, mendayu-dayu yang menimbulkan nostalgia pada alam dan cinta. Ringan, bahagia, dan apa adanya, itulah kesan dari karya-karya lukis batik Amri. Ia tak merasa berkesenian itu butuh suatu beban filosofi yang berat. Kerjanya cepat sehingga produktif seperti dapur yang menghasilkan kacang goreng, begitu komentar seorang pelukis senior.
Barang tentu Amri sama masyhurnya dengan Affandi, maestro yang melegenda di dunia itu. Amri berkeliling dunia sejak 1974 hingga 1979, untuk berpameran lukisan batik, berdemo melukis batik, mengajar kesenian Indonesia dan lukisan batik, mempromosikan pariwisata Indonesia. Di Amerika, Amri mengajar selama empat bulan di Universitas Oklahoma dan enam bulan di Universitas Iowa. Ia juga berpameran di New York, Chicago, dan California. Sepanjang 1976-1979, Amri berpameran di Eropa dan negara-negara Timur Tengah. Di Paris, Amri berpameran di markas besar UNESCO dan dibuka oleh sekjennya, Dr M'bow.
Dewasa ini ada empat orang maestro yang harga jual lukisannya mencapai miliaran rupiah: Amri Yahya, Srihadi Soedarsono, Djoko Pekik, dan Sunaryo. Satu di antara maestro itu bahkan di studionya sudah menyediakan belasan kanvas kosong berderet-deret dengan nama-nama kolektornya. Dalam satu tarikan kuasnya, belasan kanvas kosong itu mentransformasikan diri menjadi lukisan-lukisan yang tak tepermanai.
Lahir di Palembang, 29 September 1939, Amri menikah dengan Soed Sri Suzamti pada 1960 dan dikaruniai empat putra-putri: Emi Amri (sarjana hukum), Adwi Amri (sarjana seni), Yanipan Amri (sarjana ekonomi), dan Feriqo Amri (sarjana arsitektur). Mendapat gelar profesor doktor dari almamaternya, Universitas Negeri Yogyakarta, dan mengajar di sana sampai tutup mata, kompletlah darma-bakti Amri sebagai seniman dan pendidik seni. Ia bersahabat dengan penyair Taufiq Ismail sejak tahun 60-an, yang sudah dianggap saudaranya.
Pada 14 September 2004 pukul 23:30, Amri dikaruniai musibah. Rumahnya terbakar. Sekitar 60 persen dari 3.000 lembar lukisannya (batik, cat minyak, akrilik, cat air) musnah, termasuk file, katalog, dan dokumentasi. Kebakaran ini cukup aneh karena api berkobar dari atap, sementara listrik tidak mati beberapa saat. Tiga bulan kemudian, pada 19 Desember 2004 pukul 11:30, Amri meninggal karena komplikasi penyakit diabetes dan radang paru-paru. Amri adalah pembaru seni lukis Indonesia yang telah mempertahankan harkat seni tradisi yang luar biasa. Amri adalah gambaran manusia yang utuh, dan semoga dikaruniai surga.
Danarto, penulis, pelukis
Batik Alami Berbahan Ulat Liar
kokon atau kepompong ulat sutra liar yang banyak bertebaran di kawasan pedesaan di Yogyakarta sering disia-siakan masyarakat. Paling-paling ulatnya dimakan manusia, dan kupunya dijadikan makanan ayam.
Tapi kini tidak lagi. Kepompong-kepompong itu telah bersalin rupa menjadi benang dan kain berharga hingga jutaan rupiah. Semuanya berkat kreativitas 41 orang perajin di perusahaan kerajinan tangan PT Yarsilk Gora Mahottama.
Pemimpin Yarsilk, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, menjelaskan bahwa perusahaan ini bergiat di usaha pengolahan kokon, pembuatan benang, serta pengerjaan aneka kerajinan. "Kepompong sutra liar itu jenis yang spesial," kata putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X ini kepada Tempo di Yogyakarta, Rabu lalu.
Kepompong sutra liar yang dimaksud Pembayun adalah jenis Attacus dan Criculla. Berbeda dengan kepompong ulat sutra budidaya yang hidup di pohon murbei, ulat sutra liar hidup alami di pohon-pohon inangnya, seperti mahoni, jambu mete, sirsak, dan alpukat.
Keunggulan kepompong ulat sutra liar itu disebutkan pula dalam hasil penelitian guru besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, J. Situmorang, pada 1995. Ia menemukan warna sutra liar lebih natural dan tidak memerlukan pewarnaan lagi.
Warna asli Criculla adalah kuning emas, dan Attacus cokelat. Warna-warna ini bergantung pada masing-masing pohon inangnya. Keunggulan lainnya, jika dibuat pakaian, tidak menimbulkan gatal, tidak panas, mampu menyerap keringat, serta lebih lembut.
Temuan itulah yang memicu Pembayun merintis usaha lewat pendirian Yarsilk, yang berlokasi di Jalan Ahmad Dahlan, Yogyakarta, pada 1998 dengan modal awal Rp 500 juta.
Kegiatan produksi Yarsilk dimulai pada 1 Juni 1999 dengan membuat kebun percontohan hingga mempunyai lahan sendiri pada 2002 di Desa Karangtengah, Bantul. Letaknya di sisi selatan Yogyakarta seluas 55 hektare, yang diolah warga setempat bersama 100 keluarga transmigran.
Lahan tersebut dikelola Yayasan Royal Silk, yang berkolaborasi dengan Yarsilk. Di Yayasan Royal, Pembayun menjadi pembina, sedangkan ketuanya adalah Fitriana Kuroda, yang sekaligus menjadi Direktur Pemasaran Yarsilk.
Dalam sehari Yarsilk bisa membeli kepompong dari warga sebanyak 3 kilogram atau sekitar 7.500 buah kepompong. Satu kilogram benang Attacus dihargai Rp 1,5 juta. Adapun 1 kilogram benang Criculla dibanderol Rp 1,7 juta. "Tujuan kami adalah ekspor ke Jepang," tutur Pembayun.
Untuk mencapai tujuan itu, perajin Yarsilk dibimbing tim ahli dari Jepang mulai dari riset hingga pembuatan benang. "Kami menganggap, kalau sudah bisa diterima di Jepang, di negara lain pasti lebih mudah," ucapnya. Kini Yarsilk telah mempunyai ruang pamer di Tokyo, Jepang.
Dalam sebulan, sekitar 20-23 kilogram benang sutra liar telah dikirim ke Jepang. Sampai di sana, barulah benang tersebut diolah menjadi kain untuk dibuat kimono. "Menurut orang Jepang, kualitas kimono yang baik adalah yang keawetannya bisa sampai 50 tahun," ucapnya.
Kain yang ditenun dari benang sutra liar bisa berwujud kain dengan motif batik yang langsung dari alatnya. Itu berkat keunggulan kepompong sutra liar yang selain menghasilkan warna kemilau, mempunyai gradasi garis yang unik.
Dia pun mantap menjadikan Jepang sebagai pangsa pasar utamanya. Alasannya, baru negara itu yang bisa mengapresiasi produk-produk mereka. "Tidak cuma untuk dikenakan, orang Jepang juga mengapresiasi produknya dari sisi seni," tutur Pembayun.
Konsumen di Yogyakarta maupun Indonesia belum banyak. Meski demikian, Yarsilk tetap menjual benang yang dibutuhkan konsumen dalam negeri untuk membuat stola dan aneka kerajinan dari benang sutra liar.
Perusahaan Pembayun mampu membuat benang sebanyak 25 kilogram dalam sebulan. Satu kilogram kokon bisa menghasilkan benang sekitar 10 meter. Sisa benang ekspor digunakannya membuat produk yang dipasarkan sendiri di Indonesia, seperti stola, kain, dan aneka kerajinan tangan.
Pembayun menjelaskan, ada dua alasan yang menggerakkan Yarsilk memilih usaha pemintalan sutra liar. Pertama, mereka ingin memanfaatkan barang berharga yang selama ini terabaikan, sekaligus membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kedua, produknya ramah lingkungan. Artinya, tidak satu pun hewan serangga yang dikorbankan. Seluruh proses berlangsung secara alamiah. Yakni, setelah kepompong itu menjadi kupu-kupu, maka pelindungnya (sutranya) akan jatuh.
Produk-produk yang dihasilkan dari bahan baku kepompong ulat sutra pun cukup banyak, sebagaimana yang dipajang di ruang pamer Ahmad Dahlan. Di dalam bangunan kuno yang dulu dipakai penjajah Belanda sebagai balai kota itu terdapat aneka kerajinan tangan dengan bermacam bentuk.
Misalnya tas, buku, sampul payung, penyekat ruangan, kain, kimono, obi atau pengikat pinggang pada kimono, dan baju. Harga kerajinan tangan berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 300 ribu. Aneka tas Rp 60-380 ribu. Sedangkan kain bisa mencapai Rp 500 ribu per meter.
Pembuatan produk Yarsilk saat ini masih bersifat non-mass production, sehingga kapasitas produknya pun terbatas. "Karena kami ingin kualitas yang baik, bukan pada banyaknya produk," kata Pembayun.
Kendala yang dihadapi Yarsilk adalah mahalnya harga jual produk karena proses produksinya yang sangat panjang dan rumit. Ihwal itu pula yang membuat minimnya minat konsumen Indonesia.
Tantangan lain, kedua jenis ulat sutra itu hanya menghasilkan kokon selama musim penghujan. Akibatnya, Yarsilk selalu harus menimbun berton-ton bahan baku pada musim penghujan untuk mencukupi kebutuhan produksi selama sembilan bulan. "Jangan khawatir, benang sutra bisa tahan hingga puluhan tahun," ujarnya.
Pito Agustin Rudiana
Tapi kini tidak lagi. Kepompong-kepompong itu telah bersalin rupa menjadi benang dan kain berharga hingga jutaan rupiah. Semuanya berkat kreativitas 41 orang perajin di perusahaan kerajinan tangan PT Yarsilk Gora Mahottama.
Pemimpin Yarsilk, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, menjelaskan bahwa perusahaan ini bergiat di usaha pengolahan kokon, pembuatan benang, serta pengerjaan aneka kerajinan. "Kepompong sutra liar itu jenis yang spesial," kata putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X ini kepada Tempo di Yogyakarta, Rabu lalu.
Kepompong sutra liar yang dimaksud Pembayun adalah jenis Attacus dan Criculla. Berbeda dengan kepompong ulat sutra budidaya yang hidup di pohon murbei, ulat sutra liar hidup alami di pohon-pohon inangnya, seperti mahoni, jambu mete, sirsak, dan alpukat.
Keunggulan kepompong ulat sutra liar itu disebutkan pula dalam hasil penelitian guru besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, J. Situmorang, pada 1995. Ia menemukan warna sutra liar lebih natural dan tidak memerlukan pewarnaan lagi.
Warna asli Criculla adalah kuning emas, dan Attacus cokelat. Warna-warna ini bergantung pada masing-masing pohon inangnya. Keunggulan lainnya, jika dibuat pakaian, tidak menimbulkan gatal, tidak panas, mampu menyerap keringat, serta lebih lembut.
Temuan itulah yang memicu Pembayun merintis usaha lewat pendirian Yarsilk, yang berlokasi di Jalan Ahmad Dahlan, Yogyakarta, pada 1998 dengan modal awal Rp 500 juta.
Kegiatan produksi Yarsilk dimulai pada 1 Juni 1999 dengan membuat kebun percontohan hingga mempunyai lahan sendiri pada 2002 di Desa Karangtengah, Bantul. Letaknya di sisi selatan Yogyakarta seluas 55 hektare, yang diolah warga setempat bersama 100 keluarga transmigran.
Lahan tersebut dikelola Yayasan Royal Silk, yang berkolaborasi dengan Yarsilk. Di Yayasan Royal, Pembayun menjadi pembina, sedangkan ketuanya adalah Fitriana Kuroda, yang sekaligus menjadi Direktur Pemasaran Yarsilk.
Dalam sehari Yarsilk bisa membeli kepompong dari warga sebanyak 3 kilogram atau sekitar 7.500 buah kepompong. Satu kilogram benang Attacus dihargai Rp 1,5 juta. Adapun 1 kilogram benang Criculla dibanderol Rp 1,7 juta. "Tujuan kami adalah ekspor ke Jepang," tutur Pembayun.
Untuk mencapai tujuan itu, perajin Yarsilk dibimbing tim ahli dari Jepang mulai dari riset hingga pembuatan benang. "Kami menganggap, kalau sudah bisa diterima di Jepang, di negara lain pasti lebih mudah," ucapnya. Kini Yarsilk telah mempunyai ruang pamer di Tokyo, Jepang.
Dalam sebulan, sekitar 20-23 kilogram benang sutra liar telah dikirim ke Jepang. Sampai di sana, barulah benang tersebut diolah menjadi kain untuk dibuat kimono. "Menurut orang Jepang, kualitas kimono yang baik adalah yang keawetannya bisa sampai 50 tahun," ucapnya.
Kain yang ditenun dari benang sutra liar bisa berwujud kain dengan motif batik yang langsung dari alatnya. Itu berkat keunggulan kepompong sutra liar yang selain menghasilkan warna kemilau, mempunyai gradasi garis yang unik.
Dia pun mantap menjadikan Jepang sebagai pangsa pasar utamanya. Alasannya, baru negara itu yang bisa mengapresiasi produk-produk mereka. "Tidak cuma untuk dikenakan, orang Jepang juga mengapresiasi produknya dari sisi seni," tutur Pembayun.
Konsumen di Yogyakarta maupun Indonesia belum banyak. Meski demikian, Yarsilk tetap menjual benang yang dibutuhkan konsumen dalam negeri untuk membuat stola dan aneka kerajinan dari benang sutra liar.
Perusahaan Pembayun mampu membuat benang sebanyak 25 kilogram dalam sebulan. Satu kilogram kokon bisa menghasilkan benang sekitar 10 meter. Sisa benang ekspor digunakannya membuat produk yang dipasarkan sendiri di Indonesia, seperti stola, kain, dan aneka kerajinan tangan.
Pembayun menjelaskan, ada dua alasan yang menggerakkan Yarsilk memilih usaha pemintalan sutra liar. Pertama, mereka ingin memanfaatkan barang berharga yang selama ini terabaikan, sekaligus membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kedua, produknya ramah lingkungan. Artinya, tidak satu pun hewan serangga yang dikorbankan. Seluruh proses berlangsung secara alamiah. Yakni, setelah kepompong itu menjadi kupu-kupu, maka pelindungnya (sutranya) akan jatuh.
Produk-produk yang dihasilkan dari bahan baku kepompong ulat sutra pun cukup banyak, sebagaimana yang dipajang di ruang pamer Ahmad Dahlan. Di dalam bangunan kuno yang dulu dipakai penjajah Belanda sebagai balai kota itu terdapat aneka kerajinan tangan dengan bermacam bentuk.
Misalnya tas, buku, sampul payung, penyekat ruangan, kain, kimono, obi atau pengikat pinggang pada kimono, dan baju. Harga kerajinan tangan berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 300 ribu. Aneka tas Rp 60-380 ribu. Sedangkan kain bisa mencapai Rp 500 ribu per meter.
Pembuatan produk Yarsilk saat ini masih bersifat non-mass production, sehingga kapasitas produknya pun terbatas. "Karena kami ingin kualitas yang baik, bukan pada banyaknya produk," kata Pembayun.
Kendala yang dihadapi Yarsilk adalah mahalnya harga jual produk karena proses produksinya yang sangat panjang dan rumit. Ihwal itu pula yang membuat minimnya minat konsumen Indonesia.
Tantangan lain, kedua jenis ulat sutra itu hanya menghasilkan kokon selama musim penghujan. Akibatnya, Yarsilk selalu harus menimbun berton-ton bahan baku pada musim penghujan untuk mencukupi kebutuhan produksi selama sembilan bulan. "Jangan khawatir, benang sutra bisa tahan hingga puluhan tahun," ujarnya.
Pito Agustin Rudiana
Sayang kalau hilang ( Suka duka berjualan batik)
Sayang kalau hilang
Carmi, 60, buruh batik yang bekerja pada perusahaan batik "soe tjoen", tetap hidup sederhana. karyanya dikenal sampai ke eropa & dikukuhkan sebagai batik hebat oleh gubernur jenderal belanda pada thn 1939. (sd)
TERSEBUTLAH Carmi, seorang buruh batik di Pekalongan berusia lebih 60 tahun. Orang tua ini adalah sebuah potret yang pas untuk peribahasa ang berbunyi: "Kerbau punya susu, sapi punya nama." Kenapa Kata orang ia sudah dikenal dunia karena karya-karyanya. Tapi ia sendiri tetap jadi kecoak, dengan hidup yang tak pernah berubah sejak puluhan tahun.
"Saya jadi buruh batik sejak perawan kecil," kata Carmi memulai kisahnya kepada Churozi Mulyo dari TEMPO. Ia bekerja di perusahaan batik 'Soe Tjoen milik Kwee Tjoen Giok, alias Nyah Seneng, yang kini berusia 72 tahun. Menurut Musa Dimyati, Wakil Ketua DPRD (45 tahun) yang merangkap Pengurus Kooperasi Batik Pekajangan, di Eropa orang lebih kenal batik 'Soe Tjoen' daripada batik 'Indonesia'.
Gubernur Jenderal Charda
Sepotong batik Soe Tjoen yang kelas jempol bisa mencapai harga Rp 160 ribu. Mereka yang mabok batik mengatakan, bahwa letak kemahalan batik tersebut ada pada disainnya yang kuno, halus, dan akurat. Carmi dan 14 orang buruh di perusahaan itu telah bekerja dengan cermat, penuh kasih sayang, sehingga hasilnya tidak hanya merupakan hasil kerajinan tapi barang seni.
Semua proses digarap oleh wanita, kecuali nglorot (membuang lilin) yang ditangani oleh Mulyadi Wijaya (40 tahun), anak bungsu mendiang Soe Tjoen. Setiap titik diletakkan dengan hati-hati dan pada tempatnya. Batik-batik tidak disentuh colet (warna dengan kwas). Semua hasil celupan. Di seantero Pekalongan batik karya Carmi memang tidak ada tandingannya. Tapi Carmi sendiri tak menikmati apa-apa.
Ia masih tetap juga berjalan kaki 3 km dari rumahnya ke pabrik setiap hari, sebagaimana dikerjakannya puluhan tahun. Dengan gigi merah karena kapursirih, Carmi beruntung punya sifat periang. Sedikit lucu ia cepat tertawa ngekeh. Setiap hari tubuhnya yang ceking dalam bungkusan kain lusuh dan kutang tua membungkuk di depan tungku. Matanya juga sudah rusak. Untung masih dapat disambung dengan lensa yang digaet dari loakan, tanpa resep dokter. Pukul 15.00 sore, kalau Nyah Seneng tidak terlambat menggoyang lonceng, ia baru boleh pulang. Kesibukan tersebut sudah dapat dipastikan akan tetap begitu-begitu juga, sampai Carmi nanti tidak kuat membatik lagi.
Sementara itu di Singapura, tahun 1972 sudah terbit buku bernama Guide To Java. Salah satu isinya yang penting adalah batik buah tangan Carmi. Ini dapat dibuktikan karena para tamu yang gencar menginjak tanah Jawa tidak sudi melewatkan kesempatan menjenguk Carmi. Ratusan turis memasuki Pekalongan, khususnya dapur kerja Garmi.
Di antara mereka ada orang sepenting nyonya Duta Besar Australia yang sengaja datang untuk beli. Ini tidak mengherankan orang tua itu. Di jaman Soekarno, ia juga mendapat pesanan dua lembar kain khusus dengan motif Orang Iyu Sogan. Masing-masing untuk Nyonya Fatmawati dan Ny. Hartini. "Kalau bung Hatta, sempat datang ke Pekalongan dan membawa 4 potong," kata Nyah Seneng menimpali dengan rasa bangga banget.
Tapi begitulah. Soe Tjoen terkenal. Pabrik ini memang ditegakkan oleh sebuah keluarga batik sejak abad ke-XIX. Di jaman normal ia pernah mendapat saingan hebat dari van Sollen. Orang Belanda itu sempat mengukir namanya dalam sejarah batik dengan hasil gemilang. Kalau orang bicara tentang batik yang jempolan, batik van Sollen harus disebut.
Tetapi apa yang kemudian terjadi di di tahun 1949 setelah Belanda kalah perang? Nyonya van Sollen sengaja datang ke tempat Nyah Seneng. "Ia kasi tangan sama saya," kata Nyah Seneng mengenang. "Dia mengaku batiknya kalah halus." Sayang sekali tidak disebutkan bahwa Nyonya van Sollen tidak sempat menjabat tangan Carmi.
Kekalahan batik van Sollen disaksikan orang banyak. Tahun 1939 karyakarya Carmi sudah dikukuhkan Gubernur Jenderal Belanda sebagai batik hebat. Gubernur Jenderal Tjarda sempat menerimakan sebuah medali emas dan sebuah piagam penghargaan untuk batik yang terpuji itu. Tentu saja, Carmi hanya menerima uang borongan. Oey Soe Tjoen sebagai pemilik pabrik dianggap berkah menyimpan kehormatan itu. Demikianlah batik Soe Tjoen sejak itu makin santer saja pamornya.
Sepiring Nasi Putih
Carmi hanya salah satu dari begitu banyak buruh batik yang hanya menerima asap, selain nasi. Kelas Carmi hanya kelas kasar dengan nilai Rp 300 satu hari. Bahkan Carmi, si tua yang sempat menembus buku Guide To Java itu, mengaku lebih rendah dari kelas tiga ratusan.
Bayangkan, selembar batik paling banter dapat diselesaikannya dalam seminggu sampai 10 hari. Untuk itu ia hanya mendapat Rp 1100. Padahal Carmi menurut ranking Nyah Seneng termasuk buruh batik yang paling top ongkosnya. Jelas sekarang, betapa melatanya hidup kecoak-kecoak yang telah menghasilkan batik-batik yang melilit tubuh ibu-ibu penggede itu.
Pendapatan Carmi yang luar biasa rendahnya itu agak tertolong oleh uang lauk-pauk sebesar Rp 30 satu hari. Plus sepiring nasi putih. Setiap hari selalu ada jatah sekilo beras dibagi oleh 6 buah mulut. Karena Carmi sudah tua dan perutnya agak kempes, jatah sepiring itu masih sempat dibaginya 2 bagian. Separo dimakan siang hari. Separonya lagi dibawa pulang untuk makan malam.
Carmi sudah lama jadi janda. Tuhan sama sekali tidak menitipkan seorang keturunan kepadanya. Namun ia tidak hidup sendirian. Mungkin mengingat masa tuanya, ia memungut kemenakannya jadi anak. Dari mereka ia mendapat 11 orang cucu. Ke sanalah seluruh penghasilannya sebagai buruh batik tertumpah. Ongkos hidupnya sendiri sangat murah.
Lebih-lebih dia tidak memiliki ambisi apa-apa lagi, kecuali meneruskan kerja yang dilakukannya dengan rasa cinta dan butuh, sama sekali bukan sebagai beban. Sekali-sekali ia prei membatik, kalau sudah musim menuai padi di sawah. Itulah satu-satunya kesenangan orang tua ini. Agaknya begitu sajalah kelak hidupnya akan berakhir. Ia tidak punya perhatian untuk merisaukan arti peribahasa: "Kerbau punya susu, sapi punya nama."
Nasib Carmi terasa lebih parah lagi kalau kita lihat apa yang diterima oleh bakul-bakul batik di dalam pasar. Orang-orang yang hanya menjadi perantara itu, dalam sebuah pasar batik yang ramai perti Pasar Beringharjo, Yogya, misalnya, berhasil menarik keuntungan sampai ribuan dalam sehari. Ambillah Ibu Sadono dari Godean yang mangkal di los nomor satu Pasar Beringharjo dan berusia 45 tahun. Ia hanya cukup bersimpuh sejak pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore di antara kain batik. Rata-rata di dalam sehari uang yang berputar di antara batik-batiknya Rp 75 ribu Paling sedikit Rp 3 ribu sudah dapat dipastikan sebagai laba bersih.
"Hasilnya ya ternyata kita bisa beli apa-apa dan bisa ngurusi anak," kata ibu yang masih memiliki putera di bangku sekolah menengah itu. Ia mengaku jualan batik merupakan kerja yang menurun dari orang tuanya. "Karena ibu jualan batik, dengan sendirinya saya juga kepengin," kata ibu itu kepada Syahril Chili dari TEMPO. Ia sendiri berniat juga akan mewariskan pekerjaan itu kepada anaknya yang paling buntut. "Umumnya di Jawa Tengah ini perempuan harus bisa bekerja," katanya.
Harga batik di pasar Beringharjo tentu saja lebih rendah dari batik Carmi. Yang paling rendah sudah bisa diangkat dengan harga Rp 600. Harga yang sedang bergerak antara Rp 3000 dan Rp 5000. Batik paling mahal paling banter hanya Rp 15 ribu. Yang laris adalah batik sedang. Tapi meskipun harga batiknya lebih rendah, seorang pedagang batik tidak seperti seorang pengusaha batik yang bekerja terus-menerus. Dengan adanya sistim candak-kulak, mereka tidak perlu terlalu ngotot menjual dan mencari barang dagangan. Cukup duduk dan menunggu. Batik dari Solo, Pekalongan maupun Yogya, datang dengan sendirinya. Pembayaran bisa kontan, bisa pakai tahapan. Tapi umumnya tidak kontan.
Semalang-malang seorang penjual batik -- pada tanggal tua misalnya -- masih dapat diharapkan ada uang Rp 15 ribu yang berputar. Tapi semalang-malang seorang Carmi, karena ia pekerja borongan, tak ada uang kalau tak ada kerja. Apalagi di kalangan penjual batik di Beringharjo ada sikap bahu-membahu yang sudah menjadi ikatan tak tertulis. Misalnya saja kalau ada seorang pembeli gagal menawar di tempat pertma, tapi kemudian diluluskan di tempat kedua dengan tawaran yang sama, maka tempat pertama berhak menerima bagian sepertiga keuntungan. Hal ini tidak dijumpai pada hidup buruh batik seperti Carmi.
Kembali kepada Carmi. Barangkali yang dapat dicatat di sini adalah bahwa kesehatannya tetap baik sampai sekarang. Bertahun-tahun dia duduk di lincak, alhamdulillah ginjalnya tidak pernah rewel. Kendati makannya tidak istimewa, toh ia tetap kuat menempuh 3 km setiap pagi. Dengan pendapatan yang begitu kecil, tanpa diketahuinya ia telah memberi sumbangan yang hebat pada kesenian batik. "Sayang kalau kesenian itu hilang," kata Nyonya Mulyadi, mendampingi suaminya kini memegang tampuk pimpinan di pabrik Carmi.
Memang perhatian terhadap karya seni batik sekarang meletup. Yang dikerjakan sampai sekarang ialah menyelamatkan mutu batik -- bukan mutu hidup pekerja-pekerjanya. Perhatian terhadap jam kerja misalnya amat diutamakan. Seorang buruh tidak boleh terlalu ngotot bekerja. Artinya uang borongan juga tidak bisa terlalu dikebut. Sebab kata majikan, kalau buruh terlalu capek, kwalitet batik bisa berubah.
Carmi, 60, buruh batik yang bekerja pada perusahaan batik "soe tjoen", tetap hidup sederhana. karyanya dikenal sampai ke eropa & dikukuhkan sebagai batik hebat oleh gubernur jenderal belanda pada thn 1939. (sd)
TERSEBUTLAH Carmi, seorang buruh batik di Pekalongan berusia lebih 60 tahun. Orang tua ini adalah sebuah potret yang pas untuk peribahasa ang berbunyi: "Kerbau punya susu, sapi punya nama." Kenapa Kata orang ia sudah dikenal dunia karena karya-karyanya. Tapi ia sendiri tetap jadi kecoak, dengan hidup yang tak pernah berubah sejak puluhan tahun.
"Saya jadi buruh batik sejak perawan kecil," kata Carmi memulai kisahnya kepada Churozi Mulyo dari TEMPO. Ia bekerja di perusahaan batik 'Soe Tjoen milik Kwee Tjoen Giok, alias Nyah Seneng, yang kini berusia 72 tahun. Menurut Musa Dimyati, Wakil Ketua DPRD (45 tahun) yang merangkap Pengurus Kooperasi Batik Pekajangan, di Eropa orang lebih kenal batik 'Soe Tjoen' daripada batik 'Indonesia'.
Gubernur Jenderal Charda
Sepotong batik Soe Tjoen yang kelas jempol bisa mencapai harga Rp 160 ribu. Mereka yang mabok batik mengatakan, bahwa letak kemahalan batik tersebut ada pada disainnya yang kuno, halus, dan akurat. Carmi dan 14 orang buruh di perusahaan itu telah bekerja dengan cermat, penuh kasih sayang, sehingga hasilnya tidak hanya merupakan hasil kerajinan tapi barang seni.
Semua proses digarap oleh wanita, kecuali nglorot (membuang lilin) yang ditangani oleh Mulyadi Wijaya (40 tahun), anak bungsu mendiang Soe Tjoen. Setiap titik diletakkan dengan hati-hati dan pada tempatnya. Batik-batik tidak disentuh colet (warna dengan kwas). Semua hasil celupan. Di seantero Pekalongan batik karya Carmi memang tidak ada tandingannya. Tapi Carmi sendiri tak menikmati apa-apa.
Ia masih tetap juga berjalan kaki 3 km dari rumahnya ke pabrik setiap hari, sebagaimana dikerjakannya puluhan tahun. Dengan gigi merah karena kapursirih, Carmi beruntung punya sifat periang. Sedikit lucu ia cepat tertawa ngekeh. Setiap hari tubuhnya yang ceking dalam bungkusan kain lusuh dan kutang tua membungkuk di depan tungku. Matanya juga sudah rusak. Untung masih dapat disambung dengan lensa yang digaet dari loakan, tanpa resep dokter. Pukul 15.00 sore, kalau Nyah Seneng tidak terlambat menggoyang lonceng, ia baru boleh pulang. Kesibukan tersebut sudah dapat dipastikan akan tetap begitu-begitu juga, sampai Carmi nanti tidak kuat membatik lagi.
Sementara itu di Singapura, tahun 1972 sudah terbit buku bernama Guide To Java. Salah satu isinya yang penting adalah batik buah tangan Carmi. Ini dapat dibuktikan karena para tamu yang gencar menginjak tanah Jawa tidak sudi melewatkan kesempatan menjenguk Carmi. Ratusan turis memasuki Pekalongan, khususnya dapur kerja Garmi.
Di antara mereka ada orang sepenting nyonya Duta Besar Australia yang sengaja datang untuk beli. Ini tidak mengherankan orang tua itu. Di jaman Soekarno, ia juga mendapat pesanan dua lembar kain khusus dengan motif Orang Iyu Sogan. Masing-masing untuk Nyonya Fatmawati dan Ny. Hartini. "Kalau bung Hatta, sempat datang ke Pekalongan dan membawa 4 potong," kata Nyah Seneng menimpali dengan rasa bangga banget.
Tapi begitulah. Soe Tjoen terkenal. Pabrik ini memang ditegakkan oleh sebuah keluarga batik sejak abad ke-XIX. Di jaman normal ia pernah mendapat saingan hebat dari van Sollen. Orang Belanda itu sempat mengukir namanya dalam sejarah batik dengan hasil gemilang. Kalau orang bicara tentang batik yang jempolan, batik van Sollen harus disebut.
Tetapi apa yang kemudian terjadi di di tahun 1949 setelah Belanda kalah perang? Nyonya van Sollen sengaja datang ke tempat Nyah Seneng. "Ia kasi tangan sama saya," kata Nyah Seneng mengenang. "Dia mengaku batiknya kalah halus." Sayang sekali tidak disebutkan bahwa Nyonya van Sollen tidak sempat menjabat tangan Carmi.
Kekalahan batik van Sollen disaksikan orang banyak. Tahun 1939 karyakarya Carmi sudah dikukuhkan Gubernur Jenderal Belanda sebagai batik hebat. Gubernur Jenderal Tjarda sempat menerimakan sebuah medali emas dan sebuah piagam penghargaan untuk batik yang terpuji itu. Tentu saja, Carmi hanya menerima uang borongan. Oey Soe Tjoen sebagai pemilik pabrik dianggap berkah menyimpan kehormatan itu. Demikianlah batik Soe Tjoen sejak itu makin santer saja pamornya.
Sepiring Nasi Putih
Carmi hanya salah satu dari begitu banyak buruh batik yang hanya menerima asap, selain nasi. Kelas Carmi hanya kelas kasar dengan nilai Rp 300 satu hari. Bahkan Carmi, si tua yang sempat menembus buku Guide To Java itu, mengaku lebih rendah dari kelas tiga ratusan.
Bayangkan, selembar batik paling banter dapat diselesaikannya dalam seminggu sampai 10 hari. Untuk itu ia hanya mendapat Rp 1100. Padahal Carmi menurut ranking Nyah Seneng termasuk buruh batik yang paling top ongkosnya. Jelas sekarang, betapa melatanya hidup kecoak-kecoak yang telah menghasilkan batik-batik yang melilit tubuh ibu-ibu penggede itu.
Pendapatan Carmi yang luar biasa rendahnya itu agak tertolong oleh uang lauk-pauk sebesar Rp 30 satu hari. Plus sepiring nasi putih. Setiap hari selalu ada jatah sekilo beras dibagi oleh 6 buah mulut. Karena Carmi sudah tua dan perutnya agak kempes, jatah sepiring itu masih sempat dibaginya 2 bagian. Separo dimakan siang hari. Separonya lagi dibawa pulang untuk makan malam.
Carmi sudah lama jadi janda. Tuhan sama sekali tidak menitipkan seorang keturunan kepadanya. Namun ia tidak hidup sendirian. Mungkin mengingat masa tuanya, ia memungut kemenakannya jadi anak. Dari mereka ia mendapat 11 orang cucu. Ke sanalah seluruh penghasilannya sebagai buruh batik tertumpah. Ongkos hidupnya sendiri sangat murah.
Lebih-lebih dia tidak memiliki ambisi apa-apa lagi, kecuali meneruskan kerja yang dilakukannya dengan rasa cinta dan butuh, sama sekali bukan sebagai beban. Sekali-sekali ia prei membatik, kalau sudah musim menuai padi di sawah. Itulah satu-satunya kesenangan orang tua ini. Agaknya begitu sajalah kelak hidupnya akan berakhir. Ia tidak punya perhatian untuk merisaukan arti peribahasa: "Kerbau punya susu, sapi punya nama."
Nasib Carmi terasa lebih parah lagi kalau kita lihat apa yang diterima oleh bakul-bakul batik di dalam pasar. Orang-orang yang hanya menjadi perantara itu, dalam sebuah pasar batik yang ramai perti Pasar Beringharjo, Yogya, misalnya, berhasil menarik keuntungan sampai ribuan dalam sehari. Ambillah Ibu Sadono dari Godean yang mangkal di los nomor satu Pasar Beringharjo dan berusia 45 tahun. Ia hanya cukup bersimpuh sejak pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore di antara kain batik. Rata-rata di dalam sehari uang yang berputar di antara batik-batiknya Rp 75 ribu Paling sedikit Rp 3 ribu sudah dapat dipastikan sebagai laba bersih.
"Hasilnya ya ternyata kita bisa beli apa-apa dan bisa ngurusi anak," kata ibu yang masih memiliki putera di bangku sekolah menengah itu. Ia mengaku jualan batik merupakan kerja yang menurun dari orang tuanya. "Karena ibu jualan batik, dengan sendirinya saya juga kepengin," kata ibu itu kepada Syahril Chili dari TEMPO. Ia sendiri berniat juga akan mewariskan pekerjaan itu kepada anaknya yang paling buntut. "Umumnya di Jawa Tengah ini perempuan harus bisa bekerja," katanya.
Harga batik di pasar Beringharjo tentu saja lebih rendah dari batik Carmi. Yang paling rendah sudah bisa diangkat dengan harga Rp 600. Harga yang sedang bergerak antara Rp 3000 dan Rp 5000. Batik paling mahal paling banter hanya Rp 15 ribu. Yang laris adalah batik sedang. Tapi meskipun harga batiknya lebih rendah, seorang pedagang batik tidak seperti seorang pengusaha batik yang bekerja terus-menerus. Dengan adanya sistim candak-kulak, mereka tidak perlu terlalu ngotot menjual dan mencari barang dagangan. Cukup duduk dan menunggu. Batik dari Solo, Pekalongan maupun Yogya, datang dengan sendirinya. Pembayaran bisa kontan, bisa pakai tahapan. Tapi umumnya tidak kontan.
Semalang-malang seorang penjual batik -- pada tanggal tua misalnya -- masih dapat diharapkan ada uang Rp 15 ribu yang berputar. Tapi semalang-malang seorang Carmi, karena ia pekerja borongan, tak ada uang kalau tak ada kerja. Apalagi di kalangan penjual batik di Beringharjo ada sikap bahu-membahu yang sudah menjadi ikatan tak tertulis. Misalnya saja kalau ada seorang pembeli gagal menawar di tempat pertma, tapi kemudian diluluskan di tempat kedua dengan tawaran yang sama, maka tempat pertama berhak menerima bagian sepertiga keuntungan. Hal ini tidak dijumpai pada hidup buruh batik seperti Carmi.
Kembali kepada Carmi. Barangkali yang dapat dicatat di sini adalah bahwa kesehatannya tetap baik sampai sekarang. Bertahun-tahun dia duduk di lincak, alhamdulillah ginjalnya tidak pernah rewel. Kendati makannya tidak istimewa, toh ia tetap kuat menempuh 3 km setiap pagi. Dengan pendapatan yang begitu kecil, tanpa diketahuinya ia telah memberi sumbangan yang hebat pada kesenian batik. "Sayang kalau kesenian itu hilang," kata Nyonya Mulyadi, mendampingi suaminya kini memegang tampuk pimpinan di pabrik Carmi.
Memang perhatian terhadap karya seni batik sekarang meletup. Yang dikerjakan sampai sekarang ialah menyelamatkan mutu batik -- bukan mutu hidup pekerja-pekerjanya. Perhatian terhadap jam kerja misalnya amat diutamakan. Seorang buruh tidak boleh terlalu ngotot bekerja. Artinya uang borongan juga tidak bisa terlalu dikebut. Sebab kata majikan, kalau buruh terlalu capek, kwalitet batik bisa berubah.
Langganan:
Postingan (Atom)