BATIK merupakan salah satu kerajinan khas Indonesia. Sebagian besar masyarakat sudah mengenal berbagai coraknya, baik yang tradisional maupun modern. Sayangnya, kini banyak perajin batik yang kesulitan meningkatkan produksinya, karena harga bahan baku yang makin mahal, termasuk pewarna sintetis.
Selama ini, kebanyakan perajin masih menggunakan pewarna sintetis impor. Selain harganya cukup mahal, penggunaan pewarna sistesis juga membahayakan manusia serta lingkungan hidup, karena bersifat karsinogenik dan merusak lingkungan.
Sebagian industri batik rumahan di Pekalongan, yang merupakan sentra batik, membuang limbahnya ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dulu. Akibatnya, air sungai menjadi tercemar dan tak dapat dimanfaatkan lagi.
Lebih dari itu, air sungai yang telah tercemar meresap ke sumur-sumyur penduduk. Padahal, sumur itu menjadi sumber air utama untuk keperluan hidup sehari-hari. Keadaan ini sudah berlangsung lama dan hingga kini belum teratasi.
Pemerintah Jerman dan Belanda telah melarang penggunaan pewarna yang terbuat dari bahan kimia, naphtol, maupun garam diazonium yang dapat menyebabkan kanker kulit. Pewarna alami lebih ramah lingkungan, dan tidak mempunyai efek samping terhadap kesehatan manusia.
Penggunaan pewarna alami menyebabkan warna batik terasa lebih sejuk. Itu sebabnya, batik warna alami lebih diminati wisatawan mancanegara daripada batik dengan pewarna sintetis.
Pemanfaatan Manggis
Penggunaan pewarna alami perlu disosialisasikan kepada masyarakat terutama perajin batik. Apalagi proses pembuatannya sederhana, dengan menggunakan bahan yang banyak dijumpai di Indonesia, yaitu kulit buah manggis (Garcinia mangostana).
Kulit buah manggis mengandung flavan-3,4-diols, yang tergolong senyawa tanin, dan bisa digunakan sebagai pewarna alami pada kain. Tanin termasuk salah satu zat pewarna alami yang terdapat pada berbagai tumbuhan, termasuk kulit manggis.
Ketika bereaksi dengan logam, senyawa tanin membentuk zat warna mordan. Untuk mendapatkan pewarna kuning sampai coklat, yang sering digunakan pada batik tradisional, dapat memanfaatkan kulit manggis yang kaya tanin tersebut.
Prosedur yang perlu dilakukan untuk menghasilkan pewarna alami dari kulit manggis adalah sebagai berikut. Pertama, buah manggis dipisahkan dari buahnya, kemudian kulit dikeringkan. Setelah kering dihaluskan agar dalam ekstraksi bisa mendapatkan hasil sempurna.
Kedua, melarutkan kulit manggis yang telah diblender ke dalam petroleum eter. Bahan-bahan dari tanaman biasanya mengandung lemak atau lilin yang sangat non-polar. Petroleum eter termasuk senyawa non-polar, sehingga sering menyebabkan terbentuknya emulsi.
Karena itulah, senyawa-senyawa ini perlu dipisahkan dari bahan tanaman dengan cara perkolasi atau sokletsasi bahan tanaman dengan petroleum eter.
Ketiga, setelah lemak dipisahkan, kulit manggis diekstrak dengan menggunakan pelarut etanol 95 %. Etanol merupakan pelarut organik yang biasa digunakan dalam mengekstraksi senyawa alkaloid dari berbagai tumbuhan. Selain itu, etanol lebih ramah lingkungan daripada metanol.
Keempat, larutan basa berair diekstrak dengan kloroform. Proses ini dimaksudkan untuk memisahkan tanin dengan senyawa-senyawa lain.
Kelima, senyawa tanin yang didapatkan ini kemudian diuapkan untuk mendapatkan kristal berwarna coklat. Kristal inilah yang nantinya digunakan untuk mewarnai batik, melalui pencelupan warna. Selain kulit manggis, masih banyak senyawa yang bisa digunakan sebagai zat pewarna alami. Lebih bagus lagi ketika yang digunakan merupakan sesuatu yang selama ini dibuang begitu saja. Dengan begitu, otomatis kita telah meminimalisasi limbah di alam. (Miranita Khusniati, mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA Unnes-32)
Akar Tumbuhan Bisa Menjadi Pewarna Kain Batik
Liputan6.com, Pekalongan: Haris Riadi, seniman batik Desa Pekajangan, Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, kembali menemukan terobosan baru di dunia batik, belum lama ini. Ia mengolah berbagai tumbuhan dan akar seperti temulawak, akar mengkudu, kayu manis, dan jelawe menjadi zat pewarna batik. Selama ini tetumbuhan tersebut dikenal sebagai bahan baku pembuat jamu.
Haris menjelaskan selain wangi, zat pewarna batik dari tumbuhan dan akar diyakini mampu memberi rasa hangat pada pemakai batik. Selain itu, harga bahan-bahan alami ini juga jauh lebih murah dibanding zat-zat pewarna kimia yang selama ini digunakan para pembatik umumnya. Yang lebih penting lagi, kata Haris, limbah dari pewarna alami aman dan tidak merusak lingkungan.
Haris mengatakan, untuk menghasilkan warna-warna alami, tumbuhan serta akar-akaran terlebih dulu direbus hingga mendidih. Agar bisa menghasilkan warna kecoklatan, diperlukan kombinasi kayu manis, akar mengkudu, dan jelawe.
Haris berharap dengan penemuan bahan pewarna alami ini, pencemaran lingkungan akibat limbah batik bisa dikurangi. Apalagi selain mudah didapat, karya batik dari warna alami itu juga memiliki harga jual yang relatif lebih mahal dibanding batik pewarna kimia.(MAK/Budi Harto)
Haris menjelaskan selain wangi, zat pewarna batik dari tumbuhan dan akar diyakini mampu memberi rasa hangat pada pemakai batik. Selain itu, harga bahan-bahan alami ini juga jauh lebih murah dibanding zat-zat pewarna kimia yang selama ini digunakan para pembatik umumnya. Yang lebih penting lagi, kata Haris, limbah dari pewarna alami aman dan tidak merusak lingkungan.
Haris mengatakan, untuk menghasilkan warna-warna alami, tumbuhan serta akar-akaran terlebih dulu direbus hingga mendidih. Agar bisa menghasilkan warna kecoklatan, diperlukan kombinasi kayu manis, akar mengkudu, dan jelawe.
Haris berharap dengan penemuan bahan pewarna alami ini, pencemaran lingkungan akibat limbah batik bisa dikurangi. Apalagi selain mudah didapat, karya batik dari warna alami itu juga memiliki harga jual yang relatif lebih mahal dibanding batik pewarna kimia.(MAK/Budi Harto)
Haryani Winotosastro, Melestarikan Pewarna Alami Batik
Sebagai warisan budaya, kerajinan batik harus tetap dilestarikan. Itulah yang dilakukan oleh Haryani Winotosastro, pengelola dan pemilik perusahaan kerajinan Batik Winotosastro di Yogyakarta. Pesan dari sang ayah, Winotosastro itu selalu diingatnya.
Sejak 1967 hingga sekarang Hani, panggilan akrab Haryani, selalu membantu orangtuanya -- Winotosastro dan Mudinah Winotosastro -- di perusahaan Kerajinan Batik Winotosastro. Walaupun sang ayah, yang kini berusia 84 tahun, masih menjadi pimpinan Batik Winotosastro, Hani berperan cukup besar di bagian produksi untuk tetap melestarikan batik tradisional. Motif-motif batik ini klasik dan pewarnaannya alami.
Langkah melestarikan pewarna alami itu antara lain dilakukan Hani dengan mengoleksi tanaman yang bisa dipakai sebagai pewarna alami. Tanaman itu ada di halaman rumahnya, yang sekaligus sebagai showroom Batik Winotosastro, dan di sekitar halaman hotel Winotosastro di Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta.
Bila menemukan sedikit saja lahan kosong, ia langsung memanfaatkan untuk memperbanyak koleksi tanaman pewarna batik, seperti indigo/tom/nila (Indigofera tinctoria L), tingi (Ceripus tagal), jambal (Ceriops candolleana), tegeran (Cudrania javanensis), putri malu (Mimosa pidica), mengkudu (Morinda citrifolia L), jambu biji, mangga, secang (Caiesalpinia), nangka (Artocarpus integra M), dan sebagainya.
Hani juga memberikan biji tanaman indigo kepada sejumlah petani di Bantul, Yogyakarta, untuk ditanam. Bila daunnya dipetik, dia akan membelinya untuk dibuat pasta dan dimanfaatkan oleh Batik Winotosastro sebagai bahan pewarna biru. ''Warna biru merupakan salah satu ciri khas batik klasik Yogyakarta disamping warna soga coklat dan warna dasar putih,''ungkap Hani sambil menunjukkan berbagai koleksi batik tulis khas Yogyakarta.
Awalnya batik Winotosastro, yang berdiri sejak 1940, hanya menggunakan pewarna alami. Dengan adanya pewarna kimia yang lebih bervariasi, batik Winotosastro juga menggunakan pewarna tersebut. Meskipun demikian sebagian besar kerajinan batiknya tetap menggunakan warna alami. Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang warna alami, Hani aktif mengikuti seminar-seminar dan workshop mengenai pewarnaan alam untuk tekstil yang diselenggarakan di Indonesia maupun di luar negeri.
Latar belakang pendidikannya, yaitu sarjana muda Teknik Kimia UGM, mendukung keinginan untuk terus mendalami warna alami. Ia senang bereksperimen untuk menghasilkan warna dari bahan alami lainnya yang belum pernah atau jarang dipakai orang sebagai pewarna batik.
Di berbagai kesempatan seminar dan workshop, Hani selalu berbicara tentang batik tradisional maupun praktek pembuatan batik tradisional dengan pewarnaan alam. ''Sayang kalau batik dari warisan leluhur bangsa Indonesia tidak dilestarikan. Corak batik Yogyakarta ada yang sudah dipatenkan di Amerika. Padahal batik ini betul-betul asli warisan leluhur kita,''ungkap Hani sambil menunjukkan batik tulis corak parang yang dikoleksinya.
Batik Winotosastro dikenal di dunia. Dulu Winotosastro maupun Hani sering keliling dunia untuk mengikut pameran di Eropa, Amerika, dan Asia yang dikoordinir oleh pemerintah. Juga mengikuti misi dagang yang disponsori oleh UNDP, MEE, JETRO dan UNIDO. Pada 1998 ia mengikuti workshop di Chiangmai untuk membangkitkan warna alam. Di sana para peserta tukar-menukar biji tanaman indigo dengan peserta dari berbagai negara seperti Korea, Jepang, India, Pakistan.
Diakui Hani, sejak krisis moneter dan ledakan bom di berbagai tempat, jumlah turis asing yang datang dan membeli produk batik Winotosastro menurun drastis. Bahkan, batik Winotosastro yang dulu banyak diekspor ke berbagai negara atas pesanan departement store di Eropa, Amerika, dan Jepang, sekarang hanya ekspor sedikit dan umumnya hanya pesanan pribadi.
Namun demikian, keluarga Winotosastro tetap konsisten dalam melestarikan batik. ''Alhamdulillah meskipun sedikit-sedikit masih ada pesanan dari luar maupun dalam negeri,'' kata Hani yang berkarya membuat desain motif batik kontemporer dengan pewarna alam. ''Batik warna alam dapat bertahan ratusan tahun. Ini terbukti dari batik milik leluhur dulu yang hingga sekarang masih ada, terutama yang berwarna coklat soga, biru atau hitam dan putih. Ini warna-warna batik tradisional Yogyakarta,'' kata Hani. nri ( )
Sejak 1967 hingga sekarang Hani, panggilan akrab Haryani, selalu membantu orangtuanya -- Winotosastro dan Mudinah Winotosastro -- di perusahaan Kerajinan Batik Winotosastro. Walaupun sang ayah, yang kini berusia 84 tahun, masih menjadi pimpinan Batik Winotosastro, Hani berperan cukup besar di bagian produksi untuk tetap melestarikan batik tradisional. Motif-motif batik ini klasik dan pewarnaannya alami.
Langkah melestarikan pewarna alami itu antara lain dilakukan Hani dengan mengoleksi tanaman yang bisa dipakai sebagai pewarna alami. Tanaman itu ada di halaman rumahnya, yang sekaligus sebagai showroom Batik Winotosastro, dan di sekitar halaman hotel Winotosastro di Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta.
Bila menemukan sedikit saja lahan kosong, ia langsung memanfaatkan untuk memperbanyak koleksi tanaman pewarna batik, seperti indigo/tom/nila (Indigofera tinctoria L), tingi (Ceripus tagal), jambal (Ceriops candolleana), tegeran (Cudrania javanensis), putri malu (Mimosa pidica), mengkudu (Morinda citrifolia L), jambu biji, mangga, secang (Caiesalpinia), nangka (Artocarpus integra M), dan sebagainya.
Hani juga memberikan biji tanaman indigo kepada sejumlah petani di Bantul, Yogyakarta, untuk ditanam. Bila daunnya dipetik, dia akan membelinya untuk dibuat pasta dan dimanfaatkan oleh Batik Winotosastro sebagai bahan pewarna biru. ''Warna biru merupakan salah satu ciri khas batik klasik Yogyakarta disamping warna soga coklat dan warna dasar putih,''ungkap Hani sambil menunjukkan berbagai koleksi batik tulis khas Yogyakarta.
Awalnya batik Winotosastro, yang berdiri sejak 1940, hanya menggunakan pewarna alami. Dengan adanya pewarna kimia yang lebih bervariasi, batik Winotosastro juga menggunakan pewarna tersebut. Meskipun demikian sebagian besar kerajinan batiknya tetap menggunakan warna alami. Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang warna alami, Hani aktif mengikuti seminar-seminar dan workshop mengenai pewarnaan alam untuk tekstil yang diselenggarakan di Indonesia maupun di luar negeri.
Latar belakang pendidikannya, yaitu sarjana muda Teknik Kimia UGM, mendukung keinginan untuk terus mendalami warna alami. Ia senang bereksperimen untuk menghasilkan warna dari bahan alami lainnya yang belum pernah atau jarang dipakai orang sebagai pewarna batik.
Di berbagai kesempatan seminar dan workshop, Hani selalu berbicara tentang batik tradisional maupun praktek pembuatan batik tradisional dengan pewarnaan alam. ''Sayang kalau batik dari warisan leluhur bangsa Indonesia tidak dilestarikan. Corak batik Yogyakarta ada yang sudah dipatenkan di Amerika. Padahal batik ini betul-betul asli warisan leluhur kita,''ungkap Hani sambil menunjukkan batik tulis corak parang yang dikoleksinya.
Batik Winotosastro dikenal di dunia. Dulu Winotosastro maupun Hani sering keliling dunia untuk mengikut pameran di Eropa, Amerika, dan Asia yang dikoordinir oleh pemerintah. Juga mengikuti misi dagang yang disponsori oleh UNDP, MEE, JETRO dan UNIDO. Pada 1998 ia mengikuti workshop di Chiangmai untuk membangkitkan warna alam. Di sana para peserta tukar-menukar biji tanaman indigo dengan peserta dari berbagai negara seperti Korea, Jepang, India, Pakistan.
Diakui Hani, sejak krisis moneter dan ledakan bom di berbagai tempat, jumlah turis asing yang datang dan membeli produk batik Winotosastro menurun drastis. Bahkan, batik Winotosastro yang dulu banyak diekspor ke berbagai negara atas pesanan departement store di Eropa, Amerika, dan Jepang, sekarang hanya ekspor sedikit dan umumnya hanya pesanan pribadi.
Namun demikian, keluarga Winotosastro tetap konsisten dalam melestarikan batik. ''Alhamdulillah meskipun sedikit-sedikit masih ada pesanan dari luar maupun dalam negeri,'' kata Hani yang berkarya membuat desain motif batik kontemporer dengan pewarna alam. ''Batik warna alam dapat bertahan ratusan tahun. Ini terbukti dari batik milik leluhur dulu yang hingga sekarang masih ada, terutama yang berwarna coklat soga, biru atau hitam dan putih. Ini warna-warna batik tradisional Yogyakarta,'' kata Hani. nri ( )
Eksplorasi Tropikal
WARNA tropis nan ceria merajai panggung mode dunia.Tidak terkecuali di Indonesia.Para desainer lokal tampilekspresif dalam berbagai nuansa.
Dari retro hingga citra etnik, semua berbalut palet semarak. Para pakar mode dunia setuju, tahun 2008 warna cerah tidak lagi digunakan saat musim semi. Melainkan menjadi palet yang wajib ada hingga tahun berakhir. Lihat saja sejumlah panggung desainer terkemuka di pekan mode internasional.
Hampir seluruhnya tampil atraktif dengan menyuguhkan palet ceria. Apalagi nuansa warna ceria tak pernah luput dari panggung busana. Para pencinta mode pun kini tak sungkan untuk mengenakan busana dan aksesori berwarna ngejreng. Malah tabrak warna beberapa palet mencolok juga sedang digandrungi. Bila pandai memadukan, padanan ini justru menjadi gaya yang asyik. Begitu pula tren mode di Tanah Air.
Bermain warna seolah menjadi pakem yang tidak bisa ditinggalkan para desainer. Apalagi, mode Indonesia tidak terkungkung musim. Alhasil pelaku mode semakin bebas menginterpretasikan ide dalam warna dan motif.Hasilnya, rancangan mereka semakin variatif. Abstrak tapi segar. Sebut saja Lenny Agustin yang mengolah kain batik Semarang dalam tone cerah menjadi koleksi siap pakai nan manis.
Bukan hanya itu, material taplak pun direkanya menjadi terusan cantik dalam cutting asimetris. Rancangan Lenny kontras dengan koleksi yang ditawarkan Ari Seputra,Ichwan Toha, dan Priyo Ocktaviano.Ketiganya menawarkan kekuatan garis rancangan modern dalam paduan gaya maskulin sekaligus feminin. Dari segi warna,tiga desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini memilih tone klasik, hitam, putih,dan keemasan.
Sementara Sofie mengaplikasikan motif tribal untuk menyuguhkan nuansa eksotis. Tidak jauh berbeda dengan Mangala Idhi Chandra yang menawarkan citra etnik melalui motif dan aksesori. Selanjutnya, Jeanny Ang menyajikan kesan Oriental melalui corak floral dan warna mineral. Berbeda dengan Jazz Pasay yang mengetengahkan warna-warna neon khas tahun ‘80-an. Adapun Denny Wirawan dan Tuty Cholid menyuguhkan koleksi atraktif lewat permainan warna sekaligus kembali mengangkat pamor kain Nusantara.
Denny tampil atraktif dengan kekayaan budaya Sumatera Selatan,songket, dan blongsong. Kedua kain itu dihadirkan dalam palet hitam dan turqouise, bercampur dengan sentuhan emas dan bronze. Kemudian Tuty mengedepankan kain tenun Nusa Penida yang dicampur dengan tenun ikat Bali. “Saya ingin menampilkan sesuatu yang modern dengan menggunakan warna-warna elektrik,” tutur desainer yang mengembangkan motif ucuk rebung Nusa Penida ini.
Berkat keuletan para desainer, ragam hias pun menjadi pusat perhatian.Apalagi, di runway lokal,mereka tidak segan menabrak motif dan garis.Membawa nuansa baru dalam gaya berbusana. Singkatnya, tahun ini desainer Indonesia semakin berani berekspresi. Jauh bereksplorasi, membawa teknik dan sentuhan baru yang menjadikan mode dalam negeri semakin kaya.Tidak kalah dengan mode internasional yang semakin gencar menyerbu pasar Nusantara.
Warna dan motif, menjadi dua bahasa desainer yang disampaikan melalui kemasan busana nan rancak. Pola, cutting,dan finishing menjadi bagian penting untuk menyampaikan pesan bahwa mode lokal siap beraksi di panggung internasional. Sayangnya, segala keindahan tersebut tidak dibarengi dengan dukungan dari semua pihak.Akibatnya, industri mode dalam negeri terkesan jalan di tempat.Tersalip berbagai brand luar yang semakin merangsek maju.
“Sebenarnya, inilah saat yang tepat bagi desainer kita untuk kembali merebut pasarnya,” sebut desainer senior Poppy Dharsono, dalam sebuah wawancara.Menurut data statistik, Poppy menyebutkan, 10 tahun yang lalu penduduk Indonesia yang memiliki income setara penduduk Singapura berjumlah 30 juta orang. “Nah, itu kan kesempatan bagi industri mode lokal,”ucapnya.
Namun diakuinya, pelaku industri mode Indonesia kalah dari berbagai segi oleh para peritel asing.“Mereka kalah produk, kalah harga, dan kalah gigih,” ujar peraih Fashion Icon Awards 2008 dari Jakarta Fashion & Food Festival ini.Untuk itu,dibutuhkan support dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. “Kita harus bersama- sama dalam hal ini,”katanya. (nsa lesthia k)
Dari retro hingga citra etnik, semua berbalut palet semarak. Para pakar mode dunia setuju, tahun 2008 warna cerah tidak lagi digunakan saat musim semi. Melainkan menjadi palet yang wajib ada hingga tahun berakhir. Lihat saja sejumlah panggung desainer terkemuka di pekan mode internasional.
Hampir seluruhnya tampil atraktif dengan menyuguhkan palet ceria. Apalagi nuansa warna ceria tak pernah luput dari panggung busana. Para pencinta mode pun kini tak sungkan untuk mengenakan busana dan aksesori berwarna ngejreng. Malah tabrak warna beberapa palet mencolok juga sedang digandrungi. Bila pandai memadukan, padanan ini justru menjadi gaya yang asyik. Begitu pula tren mode di Tanah Air.
Bermain warna seolah menjadi pakem yang tidak bisa ditinggalkan para desainer. Apalagi, mode Indonesia tidak terkungkung musim. Alhasil pelaku mode semakin bebas menginterpretasikan ide dalam warna dan motif.Hasilnya, rancangan mereka semakin variatif. Abstrak tapi segar. Sebut saja Lenny Agustin yang mengolah kain batik Semarang dalam tone cerah menjadi koleksi siap pakai nan manis.
Bukan hanya itu, material taplak pun direkanya menjadi terusan cantik dalam cutting asimetris. Rancangan Lenny kontras dengan koleksi yang ditawarkan Ari Seputra,Ichwan Toha, dan Priyo Ocktaviano.Ketiganya menawarkan kekuatan garis rancangan modern dalam paduan gaya maskulin sekaligus feminin. Dari segi warna,tiga desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini memilih tone klasik, hitam, putih,dan keemasan.
Sementara Sofie mengaplikasikan motif tribal untuk menyuguhkan nuansa eksotis. Tidak jauh berbeda dengan Mangala Idhi Chandra yang menawarkan citra etnik melalui motif dan aksesori. Selanjutnya, Jeanny Ang menyajikan kesan Oriental melalui corak floral dan warna mineral. Berbeda dengan Jazz Pasay yang mengetengahkan warna-warna neon khas tahun ‘80-an. Adapun Denny Wirawan dan Tuty Cholid menyuguhkan koleksi atraktif lewat permainan warna sekaligus kembali mengangkat pamor kain Nusantara.
Denny tampil atraktif dengan kekayaan budaya Sumatera Selatan,songket, dan blongsong. Kedua kain itu dihadirkan dalam palet hitam dan turqouise, bercampur dengan sentuhan emas dan bronze. Kemudian Tuty mengedepankan kain tenun Nusa Penida yang dicampur dengan tenun ikat Bali. “Saya ingin menampilkan sesuatu yang modern dengan menggunakan warna-warna elektrik,” tutur desainer yang mengembangkan motif ucuk rebung Nusa Penida ini.
Berkat keuletan para desainer, ragam hias pun menjadi pusat perhatian.Apalagi, di runway lokal,mereka tidak segan menabrak motif dan garis.Membawa nuansa baru dalam gaya berbusana. Singkatnya, tahun ini desainer Indonesia semakin berani berekspresi. Jauh bereksplorasi, membawa teknik dan sentuhan baru yang menjadikan mode dalam negeri semakin kaya.Tidak kalah dengan mode internasional yang semakin gencar menyerbu pasar Nusantara.
Warna dan motif, menjadi dua bahasa desainer yang disampaikan melalui kemasan busana nan rancak. Pola, cutting,dan finishing menjadi bagian penting untuk menyampaikan pesan bahwa mode lokal siap beraksi di panggung internasional. Sayangnya, segala keindahan tersebut tidak dibarengi dengan dukungan dari semua pihak.Akibatnya, industri mode dalam negeri terkesan jalan di tempat.Tersalip berbagai brand luar yang semakin merangsek maju.
“Sebenarnya, inilah saat yang tepat bagi desainer kita untuk kembali merebut pasarnya,” sebut desainer senior Poppy Dharsono, dalam sebuah wawancara.Menurut data statistik, Poppy menyebutkan, 10 tahun yang lalu penduduk Indonesia yang memiliki income setara penduduk Singapura berjumlah 30 juta orang. “Nah, itu kan kesempatan bagi industri mode lokal,”ucapnya.
Namun diakuinya, pelaku industri mode Indonesia kalah dari berbagai segi oleh para peritel asing.“Mereka kalah produk, kalah harga, dan kalah gigih,” ujar peraih Fashion Icon Awards 2008 dari Jakarta Fashion & Food Festival ini.Untuk itu,dibutuhkan support dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. “Kita harus bersama- sama dalam hal ini,”katanya. (nsa lesthia k)
13 Desainer Bersolek di Lawang Sewu
MUNGKIN orang lebih mengenal Lawang Sewu sebagai tempat yang angker. Namun Jumat (2/5/2008) malam ini, Lawang Sewu disulap menjadi ajang pesta mode.
Di sepanjang area Lawang Sewu dipermanis dengan hiasan warna-warni, yang dapat membuat orang kagum. Bahkan, selain itu masyarakat setempat bisa leluasa mengintip seluruh isi ruangan dari balik pintu, yang khusus malam ini seluruh pintu dibiarkan terbuka lebar.
"Malam ini seluruh pintu di Lawang Sewu memang akan dibuka. Tujuannya untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tempat bersejarah itu tidak angker seperti anggapan orang selama ini," tutur penggagas acara Anne Avantie kepada okezone, Jumat (2/5/2008).
Selain untuk menetralkan kengerian Lawang Sewu, menurut Anne, di area itu juga akan menggelar pameran yang menjadi potensi dari Kota Semarang dan sekitarnya.
Untuk menyemarakkan ajang berjudul "Smaradhana Batik ing Lawang Sewu", sederet desainer top yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) akan ambil bagian menampilkan koleksi paling baru. Mereka adalah Ferry Sunarto, Anne Avantie, Taruna K Kusmayadi, Lenny Agustin, Defrico Audy, Rudy Chandra, Ali Charisma, Oka Diputra, Inge Chu, Gregorius Vici Hari Pradana, Teja Nogo Laksono, Kesdik Tur Wiryono, dan Jeanny Ang.
"Malam ini akan ditampilkan keindahan dari batik Semarang, yang sampai saat ini masih kalah pamor dengan batik-batik yang berada di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Setiap desainer mendapat kesempatan menampilkan 10 pieces," jelas Anne yang kini bergabung dengan APPMI Jakarta.
"Batik-batik itu sudah diolah oleh 14 desainer menjadi busana. Masing-masing desainer akan menampilkan 10 pieces," jelasnya.
Khusus untuk acara ini Lenny Agustin mengatakan akan menampilkan koleksi bercitra etnik. Etnik yang Lenny tampilkan bukanlah yang terlihat secara tradisional, tetapi desain busananya jauh lebih kekinian. Ringkasnya, Lenny menyebut koleksi yang berjumlah 10 oufit itu berjudul etnik modern.
"Memang di ajang itu kami disodori bermacam-macam tema. Apakah etnik modern, Jepang, Timur Tengah, atau tema seru lainnya. Saya tertarik ambil tema itu, ya karena cocok dengan jiwa saya," kata Lenny.
Menurut alumnus Akademi Seni Rupa dan Desain Mode ISWI, ajang yang berpotensi untuk memasyarakatkan kekayaan warisan daerah itu memang patut mendapat dukungan. Makanya ketika dirinya diajak ikut berpartisipasi, dengan senang hati Lenny pun langsung menerimanya.
"Saya senang bisa menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya setempat. Makanya saya berusaha mengolah batik Semarang jadi lebih cantik dan wearable," katanya.
Tak berbeda dengan Lenny, Taruna K Kusmayadi juga menyambut ajakan Anne Avantie. Meski Nuna-panggilan Taruna K Kusmayadi- mengakui mengolah batik bukan perkara mudah. Makanya dia pun tertantang ingin menampilkan batik Semarang lebih kekinian.
Menurutnya, corak dan motif yang terdapat pada batik Semarang cukup unik dan tidak kalah dengan batik-batik yang sudah populer selama ini. Selain itu, warna yang tersemburat pada batik Semarang juga lebih monokromatik, sehingga tampil indah setelah diolah.
"Ajang tersebut cukup bagus untuk menggali potensi lokal yang selama ini ada, namun belum terpublikasi secara luas. Saya pikir itu juga harus diikuti oleh daerah-daerah lain agar bisa memaksimalkan potensi daerahnya," tutur Nuna.
Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini mengatakan, konon batik Semarang itu pernah "melejit" sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Namun saat itu banyak pengrajinnya yang hijrah ke Klaten, Solo, dan daerah-daerah di sekitarnya. Makanya pengrajin yang mengerjakan batik Semarang pun sangat sedikit.
Mengenai koleksi pribadi yang akan ditampilkannya nanti, Nuna mengaku akan mengusung tema koleksi "Eclectic Asia", di mana inspirasinya tercuat dari gaya berbusana Jepang dan Korea.
"Koleksi saya lebih ready to wear dengan look yang tak lepas dari karakter pribadi yang cantik dan feminim," jelasnya.
Lain pula dengan Rudy Chandra yang ingin menampilkan batik batik Semarang lebih dikenal masyarakat. Menurutnya, motif yang terdapat pada batik Semarang itu tidak kalah bagus dengan motif dari daerah lain. Hanya, tidak banyak orang yang mengetahuinya. "Makanya tugas kita para desainer untuk memopulerkan batik tersebut," ujar Rudy Chandra.
Di ajang tersebut, Rudy akan banyak mempresentasikan busana-busana ala Jepang, yang berwujud kimono berpotongan pendek, permainan obi dan lengan longgar. Selain itu sentuhan oriental juga tak ditinggalkan dengan bentukan leher tinggi.
"Saya ingin menawarkan koleksi yang terlihat modis saat dikenakan anak muda. Selama ini mereka masih memandang batik sebelah mata, yang mana hanya cocok dipakai oleh kelompok tua saja," katanya.
Koleksi Rudy yang akan ditampilkan di hadapan ratusan masyarakat itu tetap saja terlihat feminim dan seksi, meski kain tenun dijadikan sebagai salah satu material utama untuk gaunnya. Model busananya tetap menampilkan siluet press body dan model busana mini.
"Gaya rancangan saya memang begitu. Meski materialnya berubah, modelnya tetap seksi dan feminim. Bedanya dengan koleksi tahun lalu kali ini lebih simpel saja," jelas Rudy yang menjadikan tenun Klungkung sebagai aplikasi pada gaunnya.
Rudy yang akan mengambil tema "Oriental Illusion" menambahkan, koleksinya terbagi dalam busana cocktail dan busana malam yang ringan. Pilihan busana ini, kata Rudy, dapat mengakomodasi kebutuhan para wanita yang akan menghadiri acara pesta.
"Tidak semua wanita nyaman dengan gaun panjang. Mereka yang ingin memperlihatkan kakinya yang indah memilih pakai gaun mini," tukas desainer multitalenta ini.
(tty)
Di sepanjang area Lawang Sewu dipermanis dengan hiasan warna-warni, yang dapat membuat orang kagum. Bahkan, selain itu masyarakat setempat bisa leluasa mengintip seluruh isi ruangan dari balik pintu, yang khusus malam ini seluruh pintu dibiarkan terbuka lebar.
"Malam ini seluruh pintu di Lawang Sewu memang akan dibuka. Tujuannya untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tempat bersejarah itu tidak angker seperti anggapan orang selama ini," tutur penggagas acara Anne Avantie kepada okezone, Jumat (2/5/2008).
Selain untuk menetralkan kengerian Lawang Sewu, menurut Anne, di area itu juga akan menggelar pameran yang menjadi potensi dari Kota Semarang dan sekitarnya.
Untuk menyemarakkan ajang berjudul "Smaradhana Batik ing Lawang Sewu", sederet desainer top yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) akan ambil bagian menampilkan koleksi paling baru. Mereka adalah Ferry Sunarto, Anne Avantie, Taruna K Kusmayadi, Lenny Agustin, Defrico Audy, Rudy Chandra, Ali Charisma, Oka Diputra, Inge Chu, Gregorius Vici Hari Pradana, Teja Nogo Laksono, Kesdik Tur Wiryono, dan Jeanny Ang.
"Malam ini akan ditampilkan keindahan dari batik Semarang, yang sampai saat ini masih kalah pamor dengan batik-batik yang berada di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Setiap desainer mendapat kesempatan menampilkan 10 pieces," jelas Anne yang kini bergabung dengan APPMI Jakarta.
"Batik-batik itu sudah diolah oleh 14 desainer menjadi busana. Masing-masing desainer akan menampilkan 10 pieces," jelasnya.
Khusus untuk acara ini Lenny Agustin mengatakan akan menampilkan koleksi bercitra etnik. Etnik yang Lenny tampilkan bukanlah yang terlihat secara tradisional, tetapi desain busananya jauh lebih kekinian. Ringkasnya, Lenny menyebut koleksi yang berjumlah 10 oufit itu berjudul etnik modern.
"Memang di ajang itu kami disodori bermacam-macam tema. Apakah etnik modern, Jepang, Timur Tengah, atau tema seru lainnya. Saya tertarik ambil tema itu, ya karena cocok dengan jiwa saya," kata Lenny.
Menurut alumnus Akademi Seni Rupa dan Desain Mode ISWI, ajang yang berpotensi untuk memasyarakatkan kekayaan warisan daerah itu memang patut mendapat dukungan. Makanya ketika dirinya diajak ikut berpartisipasi, dengan senang hati Lenny pun langsung menerimanya.
"Saya senang bisa menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya setempat. Makanya saya berusaha mengolah batik Semarang jadi lebih cantik dan wearable," katanya.
Tak berbeda dengan Lenny, Taruna K Kusmayadi juga menyambut ajakan Anne Avantie. Meski Nuna-panggilan Taruna K Kusmayadi- mengakui mengolah batik bukan perkara mudah. Makanya dia pun tertantang ingin menampilkan batik Semarang lebih kekinian.
Menurutnya, corak dan motif yang terdapat pada batik Semarang cukup unik dan tidak kalah dengan batik-batik yang sudah populer selama ini. Selain itu, warna yang tersemburat pada batik Semarang juga lebih monokromatik, sehingga tampil indah setelah diolah.
"Ajang tersebut cukup bagus untuk menggali potensi lokal yang selama ini ada, namun belum terpublikasi secara luas. Saya pikir itu juga harus diikuti oleh daerah-daerah lain agar bisa memaksimalkan potensi daerahnya," tutur Nuna.
Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini mengatakan, konon batik Semarang itu pernah "melejit" sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Namun saat itu banyak pengrajinnya yang hijrah ke Klaten, Solo, dan daerah-daerah di sekitarnya. Makanya pengrajin yang mengerjakan batik Semarang pun sangat sedikit.
Mengenai koleksi pribadi yang akan ditampilkannya nanti, Nuna mengaku akan mengusung tema koleksi "Eclectic Asia", di mana inspirasinya tercuat dari gaya berbusana Jepang dan Korea.
"Koleksi saya lebih ready to wear dengan look yang tak lepas dari karakter pribadi yang cantik dan feminim," jelasnya.
Lain pula dengan Rudy Chandra yang ingin menampilkan batik batik Semarang lebih dikenal masyarakat. Menurutnya, motif yang terdapat pada batik Semarang itu tidak kalah bagus dengan motif dari daerah lain. Hanya, tidak banyak orang yang mengetahuinya. "Makanya tugas kita para desainer untuk memopulerkan batik tersebut," ujar Rudy Chandra.
Di ajang tersebut, Rudy akan banyak mempresentasikan busana-busana ala Jepang, yang berwujud kimono berpotongan pendek, permainan obi dan lengan longgar. Selain itu sentuhan oriental juga tak ditinggalkan dengan bentukan leher tinggi.
"Saya ingin menawarkan koleksi yang terlihat modis saat dikenakan anak muda. Selama ini mereka masih memandang batik sebelah mata, yang mana hanya cocok dipakai oleh kelompok tua saja," katanya.
Koleksi Rudy yang akan ditampilkan di hadapan ratusan masyarakat itu tetap saja terlihat feminim dan seksi, meski kain tenun dijadikan sebagai salah satu material utama untuk gaunnya. Model busananya tetap menampilkan siluet press body dan model busana mini.
"Gaya rancangan saya memang begitu. Meski materialnya berubah, modelnya tetap seksi dan feminim. Bedanya dengan koleksi tahun lalu kali ini lebih simpel saja," jelas Rudy yang menjadikan tenun Klungkung sebagai aplikasi pada gaunnya.
Rudy yang akan mengambil tema "Oriental Illusion" menambahkan, koleksinya terbagi dalam busana cocktail dan busana malam yang ringan. Pilihan busana ini, kata Rudy, dapat mengakomodasi kebutuhan para wanita yang akan menghadiri acara pesta.
"Tidak semua wanita nyaman dengan gaun panjang. Mereka yang ingin memperlihatkan kakinya yang indah memilih pakai gaun mini," tukas desainer multitalenta ini.
(tty)
Batik ing Lawang Sewu Spektakuler
AJANG mode bertajuk "Smaradhana Batik Semarang ing Lawang Sewu" tampil spetakuler. Seluruh penampil pun terlihat apik memamerkan kekayaan budaya kebanggaan Indonesia.
Mereka adalah Anne Avantie, Tejo Nogo Laksono, Rudi Chandra, Defrico Audy, Taruna K Kusmayadi, Lenny Agustin, Jeanny Ang, Oka Diputra, Ali Kharisma, Ferry Sunarto, Gregorius Vici Hari Pradana, Inge Tjoe dan Kesdik Tur Wijoyo. Sebanyak 13 desainer itu merupakan orang-orang hebat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Karya terbaik anak negeri itu mulai menyapa masyarakat setempat pada pukul 21.00 WIB. Para model peraga pun begitu piawai menghipnotis mata para pecinta mode dadakan tersebut. Meskipun saat itu area Lawang Sewu diguyur hujan, namun tak satu pun masyarakat beranjak dari tempat semula. Mereka seakan tahu bahwa itulah saatnya mereka mendukung upaya Pemerintah Kota Semarang yang ingin memopulerkan batik.
Suguhan musik yang ditata oleh Haryanto M ED, tutur menemani dari awal hingga akhir acara. Suasana pun makin syahdu oleh alunan merdu dua penyanyi legendaris Indonesia, Titiek Puspa dan Waljinah. Keduanya melantunkan lagu yang menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Sebanyak empat lagu meluncur dari bibir Titiek Puspa. Lagu tersebut seperti Jatuh Cinta, Marilah Kemari, Kupu-Kupu Malam, dan Blues as You. Sementara lagu andalan Waljinah di antaranya Jangkrik Jenggrong dan Walang Kekek ikut membuat suasana menjadi lebih hangat.
Acara yang dihelat bertepatan dengan HUT Kota Semarang ke-461 itu memang memberi arti puas bagi para desainer dan juga penyelenggara. Mimpi mereka ingin memopulerkan Batik Semarang ternyata bisa direalisasikan secara sempurna.
"Kami memang berupaya mengangkat kembali batik Semarang yang kurang populer. Sebenarnya batik Semarang itu sudah lama ada, tapi kemudian punah. Makanya ajang Smaradhana Batik ing Lawang Sewu ini adalah kesempatan emas buat kami untuk memopulerkan kembali batik Semarang," beber wanita ayu ini di Hotel Pandanaran, Semarang, Jumat (2/5/2008).
Sementara dipilihnya lokasi pergelaran di Lawang Sewu, menurut Anne, untuk mengangkat keberadaan bangunan kuno yang selama ini terkenal angker, juga untuk bersinergi dengan keragaman seni budaya Jawa Tengah.
"Sinergi ini untuk membonceng popularitas Lawang Sewu untuk mendongkrak batik Semarang," pungkas desaainer yang kini berbasis di Kota Semarang ini. (nsa)
Mereka adalah Anne Avantie, Tejo Nogo Laksono, Rudi Chandra, Defrico Audy, Taruna K Kusmayadi, Lenny Agustin, Jeanny Ang, Oka Diputra, Ali Kharisma, Ferry Sunarto, Gregorius Vici Hari Pradana, Inge Tjoe dan Kesdik Tur Wijoyo. Sebanyak 13 desainer itu merupakan orang-orang hebat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Karya terbaik anak negeri itu mulai menyapa masyarakat setempat pada pukul 21.00 WIB. Para model peraga pun begitu piawai menghipnotis mata para pecinta mode dadakan tersebut. Meskipun saat itu area Lawang Sewu diguyur hujan, namun tak satu pun masyarakat beranjak dari tempat semula. Mereka seakan tahu bahwa itulah saatnya mereka mendukung upaya Pemerintah Kota Semarang yang ingin memopulerkan batik.
Suguhan musik yang ditata oleh Haryanto M ED, tutur menemani dari awal hingga akhir acara. Suasana pun makin syahdu oleh alunan merdu dua penyanyi legendaris Indonesia, Titiek Puspa dan Waljinah. Keduanya melantunkan lagu yang menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Sebanyak empat lagu meluncur dari bibir Titiek Puspa. Lagu tersebut seperti Jatuh Cinta, Marilah Kemari, Kupu-Kupu Malam, dan Blues as You. Sementara lagu andalan Waljinah di antaranya Jangkrik Jenggrong dan Walang Kekek ikut membuat suasana menjadi lebih hangat.
Acara yang dihelat bertepatan dengan HUT Kota Semarang ke-461 itu memang memberi arti puas bagi para desainer dan juga penyelenggara. Mimpi mereka ingin memopulerkan Batik Semarang ternyata bisa direalisasikan secara sempurna.
"Kami memang berupaya mengangkat kembali batik Semarang yang kurang populer. Sebenarnya batik Semarang itu sudah lama ada, tapi kemudian punah. Makanya ajang Smaradhana Batik ing Lawang Sewu ini adalah kesempatan emas buat kami untuk memopulerkan kembali batik Semarang," beber wanita ayu ini di Hotel Pandanaran, Semarang, Jumat (2/5/2008).
Sementara dipilihnya lokasi pergelaran di Lawang Sewu, menurut Anne, untuk mengangkat keberadaan bangunan kuno yang selama ini terkenal angker, juga untuk bersinergi dengan keragaman seni budaya Jawa Tengah.
"Sinergi ini untuk membonceng popularitas Lawang Sewu untuk mendongkrak batik Semarang," pungkas desaainer yang kini berbasis di Kota Semarang ini. (nsa)
Sebuah Upaya Meminimalisir Pembajakan Batik
SETIAP pengrajin batik sudah seharusnya mengukir nama dan judul karyanya pada sebuah lembaran kain. Hal itu penting guna meminimalisir terjadinya pembajakan atau penipuan pada produk batik.
Pesan itulah yang mencuat dari acara talkshow berjudul "Pemahaman & Penghayatan Seni Batik". Digelar di Jalan Cikini Raya 24, acara yang dikemas dalam obrolan santai itu cukup menjawab kegelisahaan para anggota dari Himpunan Ratna Busana, selaku penggagas acara.
"Sebenarnya untuk melestarikan batik itu perlu campur tangan pemerintah. Pemerintah harus mengeluarkan peraturan khusus yang mengatur soal pencantuman nama pembatik dan judul koleksi batik pada lembaran kain. Artinya ada pengawasan dari pemerintah. Kalau tidak ada yang ngawasi, ya tidak karu-karuan. Jadi kayak lalu lintas aja harus ada yang ngawasi," tutur Ketua Seksi Pendidikan Himpunan Ratna Busana Noes Moeljanto Djojomartono kepada okezone, Selasa (6/5/2008).
Wanita berumur matang yang juga aktif di Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastraprema) ini mengatakan, selama ini memang sudah ada pembatik yang mencantumkan nama dan judul dari koleksinya, namun jumlahnya juga belum banyak. Sehingga masalah pembajakan atau penipuan pun tak bisa dihindari dan sangat merugikan pengrajin yang betul-betul concern pada batik.
"Apalagi sekarang, banyak perancang luar yang mamasukkan unsur batik pada koleksinya. Kalau kita tidak waspada, bisa jadi kekayaan budaya kita diklaim oleh mereka," jelasnya.
Untuk itulah para perancang lokal sudah seharusnya tersentil dengan keadaan tersebut. Hanya, lanjut Noes, para perancang Nusantara ini perlu juga dibekali dengan wawasan mengenai sejarah budaya Indonesia, agar ketika mencipta sebuah busana tidak melenceng dari pakem.
"Saya lihat perancang kita memang banyak yang sekolah tinggi, namun masih kurang mendapatkan pembekalan sejarah budaya Indonesia. Untuk itulah perlu adanya penambahan wawasan akan hal itu," tambahnya.
Sementara itu, desainer Musa Widyatmodjo yang hadir sebagai undangan mengaku tak keberatan dengan saran dari Noes. Menurutnya, busana yang memperhatikan pakem tak berarti membatasi kreativitas dari seorang desainer.
"Buat saya memang bukan menjadi suatu pembatasan, tetapi suatu kreativitas. Artinya, kreativitas yang terkontrol. Semakin saya mengetahui budaya, tata krama, dan memahami apa itu adat serta filosofi budaya, semakin membuat saya takut dan berhati-hati dalam membuat inovasi. Jangan sampai inovasi yang kita lakukan itu justru merusak warisan yang sudah ditinggalkan," paparnya panjang.
Musa pun setuju dengan usulan agar para pembatik mencantumkan nama dan koleksinya tersebut. Menurutnya, setiap batik memang harus ada satu keterangan apakah itu batik cap atau batik tulis, karena itu merupakan pembelajaran dan komitmen dari si pembuat ataupun penjual ketika mereka membuat sesuatu agar lebih sadar dan tidak melakukan penipuan.
"Untuk melakukan hal itu memang sudah menjadi panggilan jiwa, tak terkecuali bagi para desainer ketika mencipta busana. Lain apabila melakukan sesuatu dengan tulus, untuk komersial atau untuk cari muka. Kalau kita kerjakan dengan tulus, itu berarti kita harus niat untuk belajar memahami, mengolah, dan mempertanggungjawabkan karya yang kita buat," pungkasnnya.
(tty)
Pesan itulah yang mencuat dari acara talkshow berjudul "Pemahaman & Penghayatan Seni Batik". Digelar di Jalan Cikini Raya 24, acara yang dikemas dalam obrolan santai itu cukup menjawab kegelisahaan para anggota dari Himpunan Ratna Busana, selaku penggagas acara.
"Sebenarnya untuk melestarikan batik itu perlu campur tangan pemerintah. Pemerintah harus mengeluarkan peraturan khusus yang mengatur soal pencantuman nama pembatik dan judul koleksi batik pada lembaran kain. Artinya ada pengawasan dari pemerintah. Kalau tidak ada yang ngawasi, ya tidak karu-karuan. Jadi kayak lalu lintas aja harus ada yang ngawasi," tutur Ketua Seksi Pendidikan Himpunan Ratna Busana Noes Moeljanto Djojomartono kepada okezone, Selasa (6/5/2008).
Wanita berumur matang yang juga aktif di Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastraprema) ini mengatakan, selama ini memang sudah ada pembatik yang mencantumkan nama dan judul dari koleksinya, namun jumlahnya juga belum banyak. Sehingga masalah pembajakan atau penipuan pun tak bisa dihindari dan sangat merugikan pengrajin yang betul-betul concern pada batik.
"Apalagi sekarang, banyak perancang luar yang mamasukkan unsur batik pada koleksinya. Kalau kita tidak waspada, bisa jadi kekayaan budaya kita diklaim oleh mereka," jelasnya.
Untuk itulah para perancang lokal sudah seharusnya tersentil dengan keadaan tersebut. Hanya, lanjut Noes, para perancang Nusantara ini perlu juga dibekali dengan wawasan mengenai sejarah budaya Indonesia, agar ketika mencipta sebuah busana tidak melenceng dari pakem.
"Saya lihat perancang kita memang banyak yang sekolah tinggi, namun masih kurang mendapatkan pembekalan sejarah budaya Indonesia. Untuk itulah perlu adanya penambahan wawasan akan hal itu," tambahnya.
Sementara itu, desainer Musa Widyatmodjo yang hadir sebagai undangan mengaku tak keberatan dengan saran dari Noes. Menurutnya, busana yang memperhatikan pakem tak berarti membatasi kreativitas dari seorang desainer.
"Buat saya memang bukan menjadi suatu pembatasan, tetapi suatu kreativitas. Artinya, kreativitas yang terkontrol. Semakin saya mengetahui budaya, tata krama, dan memahami apa itu adat serta filosofi budaya, semakin membuat saya takut dan berhati-hati dalam membuat inovasi. Jangan sampai inovasi yang kita lakukan itu justru merusak warisan yang sudah ditinggalkan," paparnya panjang.
Musa pun setuju dengan usulan agar para pembatik mencantumkan nama dan koleksinya tersebut. Menurutnya, setiap batik memang harus ada satu keterangan apakah itu batik cap atau batik tulis, karena itu merupakan pembelajaran dan komitmen dari si pembuat ataupun penjual ketika mereka membuat sesuatu agar lebih sadar dan tidak melakukan penipuan.
"Untuk melakukan hal itu memang sudah menjadi panggilan jiwa, tak terkecuali bagi para desainer ketika mencipta busana. Lain apabila melakukan sesuatu dengan tulus, untuk komersial atau untuk cari muka. Kalau kita kerjakan dengan tulus, itu berarti kita harus niat untuk belajar memahami, mengolah, dan mempertanggungjawabkan karya yang kita buat," pungkasnnya.
(tty)
Langganan:
Postingan (Atom)