Geliat peragaan busana yang digelar di beberapa penjuru Tanah Air semakin bersinar. Beberapa waktu lalu, Kota Gudeg Yogyakarta tidak mau ketinggalan dan ikut ambil bagian.
Dengan mengusung tema "Jogja Fashion Week (JFW) 2008", peragaan akbar yang berlangsung selama lima hari ini mengambil tempat di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Ajang ini menampilkan karya para perancang setempat dan melibatkan perancang dari kota lain, seperti Solo, Klaten, Pekalongan, Bandung, Semarang dan Bali.
"Batik kini menjadi idola, dipakai dalam berbagai kesempatan. Kian digemari tak hanya oleh kaum tua, orang muda pun mulai melirik dan menyukai batik. Ini sangat menggembirakan sekaligus menjadi tantangan," ujar Afif Syakur, perancang busana asal Pekalongan yang lama berkiprah di Yogyakarta.
Afif menyajikan tema "Culturally Plural" yang diharapkan menjadi ajang promosi yang semakin meningkatkan potensi industri tekstil dalam negeri. "Saya ingin masyarakat tahu batik pun bisa tampil dalam berbagai pernik, seperti tas, ikat pinggang, topi, bahkan sepatu."
Sementara itu, perancang Ari Sudewo menampilkan karya apiknya yang terinspirasi dari ikat sarung. "Saya ingin masyarakat menyukai keindahan kain lokal Indonesia tidak hanya batik, tapi sarung juga jadi sumber inspirasi yang memikat," ucapnya. Di tangan Ari, tercipta aneka busana sederhana dari ikat sarung. Dengan ragam sederhana tapi manis, ia menyajikan celana panjang warna cokelat hijau, blus lengan pendek bermotif garis-garis, blus cokelat hijau, dan sebagainya.
Lain halnya dengan Endi, perancang asal Bali yang mengusung keindahan batik pesisiran. Keberaniannya menampilkan aneka warna ceria. Ia menyajikan koleksi baju panjang, bagian atas berbentuk tank top, rok lebar berkerut, serta busana mini untuk saat bersantai yang di bagian bawahnya diberi aksen rempel.
"Dengan busana begini, saya ingin remaja atau kaum muda punya kebanggaan mengenakan batik. Mereka (para remaja) sangat cocok, menyukai batik bernuansa santai," tukas Endi.
Kemudian beberapa perancang lainnya, seperti Dewi Sifa, Cicik Mulyaningtyas (keduanya asal Yogyakarta), dan Zikin (Pekalongan) lagi-lagi mengusung batik dipadu tekstil polos. "Menghadirkan gaya padu padan begini sebagai alternatif yang semakin disukai para pecinta batik," papar Dewi bersemangat.
Untuk gaya serius dengan memadukan berbagai motif batik dengan brokat, songket, ataubordir disajikan perancang asal Yogyakarta, seperti Manik Puspita, Iis, Dina Isfandiary, dan Budi Susanto. "Keindahan batik akan lebih memukau bila dipadukan dengan brokat, songket, dan bordir. Selain nilai eksotis, batik bisa lebih tampil mewah menawan," ucap Manik.
Perancang Nita Azhar menyambut baik perhelatan ini. Di mata perancang batik senior asal Yogyakarta itu, JFW merupakan ajang positif yang memberikan ruang serta tempat bagi para perancang muda bisa terus maju, mengembangkan tekstil tradisional, serta semakin mencintai produk sendiri. "Biar bagaimanapun, para perancang harus mampu mendesain karya yang bisa dijual," ujarnya. LM Idayanie
Batik Fractal Dianugrahi UNESCO Award of Excellence
Inilah satu contoh lagi bahwa sumber daya manusia Indonesia kreatif dan mampu bersaing dengan negara-negara lainnya di dunia.
Kabar terakhir, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Pixel People Project, melalui karya Batic Fractal, menerima penghargaan Award of Excellence 2008 dari UNESCO. Batic Fractal telah mengalahkan puluhan kerajinan unggulan lainnya yang berasal dari sepuluh negara di Asia Tenggara.
Menurut Nancy Margried, salah satu awak Pixel People Project, penghargaan ini mengharuskan suatu produk kerajinan memenuhi sejumlah syarat yang ditentukan. Produk kerajinan harus memenuhi criteria Excellent (menunjukkan standard yang tinggi dalam kualitas pengerjaan kerajinan/craftmanship, Authentic (mencerminkan identitas budaya dan nilai tradisional, Innovative (menggunakan kreatifitas dalam desain dan proses produksi), dan Marketable (menunjukkan potensi untuk diterima pasar dunia).
Selain itu juga Eco-friendly (proses pengerjaan yang ramah lingkungan dalam penggunaan material dan teknik produksi, dan Fair (tidak melanggar hukum ketenagakerjaan atau mengeksploitasi pihak manapun secara tidak adil dalam proses produksi kerajinan).
"Penghargaan ini menunjukkan bahwa Batic Fractal memiliki kualitas tinggi serta mempunyai potensi pasar internasional dan domestik yang besar," ujar Nancy kepada Kompas.com, Jumat (10/10).
Nancy mengatakan, Pixel People Project sebagai penerima Award of Excellence, akan mendapatkan keuntungan dari UNESCO berupa sertifikat kesempurnaan, pelatihan dalam produksi dan desain, kesempatan tampil di ajang pameran internasional, dukungan dalam promosi dan media komunikasi, serta kemudahan dalam pendaftaran HAKI regional.
Dengan adanya penghargaan ini, Nancy berharap ada banyak investor yang melirik kepada produk kerajinan tersebut. "Sampai saat ini kami belum punya investor," ujar Nancy.
Berdasarkan rencana, penghargaan ini akan diserahkan UNESCO pada tanggal 14 Oktober 2008 dalam rangkaian acara Bangkok International BIG Fair di Bangkok, Thailand.
Berawal dari Coba-Coba
Menurut Nancy, awalnya ia bersama temannya hanya mencoba-coba mengirimkan aplikasi ke penghargaan tersebut. "Saya mengirimkan aplikasi sejak bulan Juli 2008. Dewan Kerajinan Nasional lah yang awalnya mendorong kami berpartisipasi dalam acara penghargaan tersebut," ujar Nancy.
Selang dua bulan kemudian, mereka menerima surat elektronik dari UNESCO yang mengatakan bahwa mereka mendapat penghargaan Award of Excellence. "Kami senang sekali. Awalnya kami sempat lupa tentang penghargaan ini karena kesibukan kami," kata Nancy.
Nancy, bersama dua rekannya di Pixel People Project, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi berharap, generasi muda Indonesia ikut terpacu untuk berkarya mengangkat seni budaya tradisional Indonesia menjadi karya yang mengharumkan nama bangsa di dalam negeri terlebih pada level internasional.
Kabar terakhir, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Pixel People Project, melalui karya Batic Fractal, menerima penghargaan Award of Excellence 2008 dari UNESCO. Batic Fractal telah mengalahkan puluhan kerajinan unggulan lainnya yang berasal dari sepuluh negara di Asia Tenggara.
Menurut Nancy Margried, salah satu awak Pixel People Project, penghargaan ini mengharuskan suatu produk kerajinan memenuhi sejumlah syarat yang ditentukan. Produk kerajinan harus memenuhi criteria Excellent (menunjukkan standard yang tinggi dalam kualitas pengerjaan kerajinan/craftmanship, Authentic (mencerminkan identitas budaya dan nilai tradisional, Innovative (menggunakan kreatifitas dalam desain dan proses produksi), dan Marketable (menunjukkan potensi untuk diterima pasar dunia).
Selain itu juga Eco-friendly (proses pengerjaan yang ramah lingkungan dalam penggunaan material dan teknik produksi, dan Fair (tidak melanggar hukum ketenagakerjaan atau mengeksploitasi pihak manapun secara tidak adil dalam proses produksi kerajinan).
"Penghargaan ini menunjukkan bahwa Batic Fractal memiliki kualitas tinggi serta mempunyai potensi pasar internasional dan domestik yang besar," ujar Nancy kepada Kompas.com, Jumat (10/10).
Nancy mengatakan, Pixel People Project sebagai penerima Award of Excellence, akan mendapatkan keuntungan dari UNESCO berupa sertifikat kesempurnaan, pelatihan dalam produksi dan desain, kesempatan tampil di ajang pameran internasional, dukungan dalam promosi dan media komunikasi, serta kemudahan dalam pendaftaran HAKI regional.
Dengan adanya penghargaan ini, Nancy berharap ada banyak investor yang melirik kepada produk kerajinan tersebut. "Sampai saat ini kami belum punya investor," ujar Nancy.
Berdasarkan rencana, penghargaan ini akan diserahkan UNESCO pada tanggal 14 Oktober 2008 dalam rangkaian acara Bangkok International BIG Fair di Bangkok, Thailand.
Berawal dari Coba-Coba
Menurut Nancy, awalnya ia bersama temannya hanya mencoba-coba mengirimkan aplikasi ke penghargaan tersebut. "Saya mengirimkan aplikasi sejak bulan Juli 2008. Dewan Kerajinan Nasional lah yang awalnya mendorong kami berpartisipasi dalam acara penghargaan tersebut," ujar Nancy.
Selang dua bulan kemudian, mereka menerima surat elektronik dari UNESCO yang mengatakan bahwa mereka mendapat penghargaan Award of Excellence. "Kami senang sekali. Awalnya kami sempat lupa tentang penghargaan ini karena kesibukan kami," kata Nancy.
Nancy, bersama dua rekannya di Pixel People Project, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi berharap, generasi muda Indonesia ikut terpacu untuk berkarya mengangkat seni budaya tradisional Indonesia menjadi karya yang mengharumkan nama bangsa di dalam negeri terlebih pada level internasional.
Batik Oey Soe Tjoen, Orang yang Bekerja dengan Ingatan Kuat
Keindahan itu sebenarnya ada dalam ruang-ruang tersembunyi. Keindahan bukan tidak tampak, tetapi hanya bersetia dalam keheningan....
Ba adalah titik, dot, yang terangkai menyusun sebuah garis. Saat dirangkai, garis-garis itu menjadi sebuah lukisan atau gambar yang memesona. Bunga mawar dengan kupu-kupu cantik yang mengitarinya, terpampang indah dengan latar belakang biru kehijauan, cantik tentunya.
”Itu adalah motif khas karya batik kami. Dulu awalnya, motif itu dikumpulkan dari gambar kartu pos zaman Belanda. Bapak mertua saya, Oey Soe Tjoen, meminta kepada karyawannya untuk menggambar motif itu sebagai pola untuk batik yang diproduksinya. Ada lebih dari 100 motif bunga telah dikumpulkan,” kata Istianti Setiono, penerus batik halus khas Pekalongan yang dikenal dengan Batik Oey Soe Tjoen.
Namun, kecantikan batik Oey Soe Tjoen tidak hanya karena polanya yang bunga atau kupu-kupu itu. Kecermatan dan proses membatik serta mewarnai yang lumayan rumit, njlimet, memberinya nilai tersendiri.
Awalnya adalah memberi kanji (tepung dari ketela) pada kain mori yang 100 persen dibuat dari kapas. ”Kesulitan ada sejak itu. Menarik dan membentangkan kain yang menyusut karena dikanji bukan hal mudah. Dahulu saya sering menyobekkan kain yang baru dikanji sebab menariknya terlalu kuat,” kata Istianti.
Setelah kembali dibentangkan pada ukuran semula, kain mulai diberi pola dan diberi malam (lilin untuk membatik). Berbeda dari pembatik pada umumnya yang menarik garis atau menyusun titik seturut garis lurus dari atas ke bawah ke atas, garis dan rangkaian titik batik produk Oey Soe Tjoen dibuat melengkung. Ini untuk memberi kesan lembut, sesuai pesan Oey Soe Tjoen.
Petani yang menjadi pembatik pada usaha milik keluarga Oey Soe Tjoen, lanjut Istianti, terbiasa dengan pola itu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketenangan sehingga mampu membatik dengan cermat dan teliti. Namun, efeknya adalah waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Apalagi, batik Oey Soe Tjoen adalah batik yang dibuat bolak-balik. Artinya, dua sisi kain dilukis dengan pola dan cara yang sama.
Setelah semua pola awal ditutup malam, kain dicelup dalam pewarna, lalu dikerok, ditutup malam lagi untuk memberi warna berikutnya. Setidaknya lebih dari 12 kali kain itu melalui proses diberi malam, diwarnai, dan dikerok, sebelum akhirnya kain batik itu selesai.
Setiap memberi warna baru, pola yang diberi warna ditutup kembali dengan malam. Gradasi yang dimunculkan betul-betul melalui pemalaman, pewarnaan, dan pengerokan yang berulang-ulang.
Sejak mewarisi usaha batik dari orangtuanya, tahun 1930, Oey Soe Tjoen sengaja mengalihkan cara memproduksi batik dari cap ke batik tulis halus. Istrinya, Kwee Tjoan Giok, pun terlibat aktif dalam usaha itu.
Berdua mereka merintisnya. Mulai dari membina pembatik yang umumnya adalah petani yang tinggal di sekitar Kedungwuni, tempat keluarga itu tinggal, hingga membina relasi dengan pendukung usaha, seperti pembuat canting dan penyedia malam tawon.
Tidak heran jika sepeninggal Oey Soe Tjoen pada tahun 1975, pembatik itu tetap setia bekerja pada Oey Kam Long, anak ketiga Oey Soe Tjoen. Ketika Oey Kam Long atau Muljadi Widjaja menikahi Istianti Setiono, Kwee Tjoan Giok pun melatih Istianti, yang sarjana lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma Yogyakarta, menjadi penerus.
Istianti kerap diajak menjenguk pembatik di rumah mereka. Ia juga ditunjukkan kepada siapa canting dibeli. Tak jarang ia diajak bertandang ke rumah mereka, tidak hanya untuk urusan pekerjaan, tetapi sekadar untuk berkunjung. ”Kami memilih tetap mempertahankan cara dan proses sebagaimana bapak mertua saya memulainya,” kata Istianti, yang kemudian meneruskan usaha itu setelah suaminya wafat tahun 2002.
Kunjungan itu kerap dipakai untuk mengontrol kualitas dan kinerja pembatik. ”Setiap proses harus diperiksa dengan cermat dan detail. Jangan sampai ada satu tetesan malam yang tidak pada tempatnya karena kalau terlewat dan telanjur diwarnai sulit sekali hilang,” kata Istianti lagi.
Jika ada yang sobek atau tercoret saat proses, Istianti segera menelepon si pemesan. ”Kami jelaskan kondisinya dan bertanya apakah akan diteruskan atau dihentikan. Biasanya mereka akan meminta dibuatkan baru dan yang telanjur rusak tetap diteruskan,” papar Istianti.
Dengan pola kerja seperti itu, dalam satu tahun Istianti hanya mampu memproduksi 15 lembar kain batik. ”Semuanya adalah pesanan,” kata Istianti yang menjual kain produksinya Rp 6,5 juta dan Rp 7,5 juta per lembar.Josie Susilo Hardianto
Ba adalah titik, dot, yang terangkai menyusun sebuah garis. Saat dirangkai, garis-garis itu menjadi sebuah lukisan atau gambar yang memesona. Bunga mawar dengan kupu-kupu cantik yang mengitarinya, terpampang indah dengan latar belakang biru kehijauan, cantik tentunya.
”Itu adalah motif khas karya batik kami. Dulu awalnya, motif itu dikumpulkan dari gambar kartu pos zaman Belanda. Bapak mertua saya, Oey Soe Tjoen, meminta kepada karyawannya untuk menggambar motif itu sebagai pola untuk batik yang diproduksinya. Ada lebih dari 100 motif bunga telah dikumpulkan,” kata Istianti Setiono, penerus batik halus khas Pekalongan yang dikenal dengan Batik Oey Soe Tjoen.
Namun, kecantikan batik Oey Soe Tjoen tidak hanya karena polanya yang bunga atau kupu-kupu itu. Kecermatan dan proses membatik serta mewarnai yang lumayan rumit, njlimet, memberinya nilai tersendiri.
Awalnya adalah memberi kanji (tepung dari ketela) pada kain mori yang 100 persen dibuat dari kapas. ”Kesulitan ada sejak itu. Menarik dan membentangkan kain yang menyusut karena dikanji bukan hal mudah. Dahulu saya sering menyobekkan kain yang baru dikanji sebab menariknya terlalu kuat,” kata Istianti.
Setelah kembali dibentangkan pada ukuran semula, kain mulai diberi pola dan diberi malam (lilin untuk membatik). Berbeda dari pembatik pada umumnya yang menarik garis atau menyusun titik seturut garis lurus dari atas ke bawah ke atas, garis dan rangkaian titik batik produk Oey Soe Tjoen dibuat melengkung. Ini untuk memberi kesan lembut, sesuai pesan Oey Soe Tjoen.
Petani yang menjadi pembatik pada usaha milik keluarga Oey Soe Tjoen, lanjut Istianti, terbiasa dengan pola itu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketenangan sehingga mampu membatik dengan cermat dan teliti. Namun, efeknya adalah waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Apalagi, batik Oey Soe Tjoen adalah batik yang dibuat bolak-balik. Artinya, dua sisi kain dilukis dengan pola dan cara yang sama.
Setelah semua pola awal ditutup malam, kain dicelup dalam pewarna, lalu dikerok, ditutup malam lagi untuk memberi warna berikutnya. Setidaknya lebih dari 12 kali kain itu melalui proses diberi malam, diwarnai, dan dikerok, sebelum akhirnya kain batik itu selesai.
Setiap memberi warna baru, pola yang diberi warna ditutup kembali dengan malam. Gradasi yang dimunculkan betul-betul melalui pemalaman, pewarnaan, dan pengerokan yang berulang-ulang.
Sejak mewarisi usaha batik dari orangtuanya, tahun 1930, Oey Soe Tjoen sengaja mengalihkan cara memproduksi batik dari cap ke batik tulis halus. Istrinya, Kwee Tjoan Giok, pun terlibat aktif dalam usaha itu.
Berdua mereka merintisnya. Mulai dari membina pembatik yang umumnya adalah petani yang tinggal di sekitar Kedungwuni, tempat keluarga itu tinggal, hingga membina relasi dengan pendukung usaha, seperti pembuat canting dan penyedia malam tawon.
Tidak heran jika sepeninggal Oey Soe Tjoen pada tahun 1975, pembatik itu tetap setia bekerja pada Oey Kam Long, anak ketiga Oey Soe Tjoen. Ketika Oey Kam Long atau Muljadi Widjaja menikahi Istianti Setiono, Kwee Tjoan Giok pun melatih Istianti, yang sarjana lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma Yogyakarta, menjadi penerus.
Istianti kerap diajak menjenguk pembatik di rumah mereka. Ia juga ditunjukkan kepada siapa canting dibeli. Tak jarang ia diajak bertandang ke rumah mereka, tidak hanya untuk urusan pekerjaan, tetapi sekadar untuk berkunjung. ”Kami memilih tetap mempertahankan cara dan proses sebagaimana bapak mertua saya memulainya,” kata Istianti, yang kemudian meneruskan usaha itu setelah suaminya wafat tahun 2002.
Kunjungan itu kerap dipakai untuk mengontrol kualitas dan kinerja pembatik. ”Setiap proses harus diperiksa dengan cermat dan detail. Jangan sampai ada satu tetesan malam yang tidak pada tempatnya karena kalau terlewat dan telanjur diwarnai sulit sekali hilang,” kata Istianti lagi.
Jika ada yang sobek atau tercoret saat proses, Istianti segera menelepon si pemesan. ”Kami jelaskan kondisinya dan bertanya apakah akan diteruskan atau dihentikan. Biasanya mereka akan meminta dibuatkan baru dan yang telanjur rusak tetap diteruskan,” papar Istianti.
Dengan pola kerja seperti itu, dalam satu tahun Istianti hanya mampu memproduksi 15 lembar kain batik. ”Semuanya adalah pesanan,” kata Istianti yang menjual kain produksinya Rp 6,5 juta dan Rp 7,5 juta per lembar.Josie Susilo Hardianto
Santosa Doellah: Antara Batik dan Kalender
SOSOKNYA terlihat tenang tatkala berbicara. Dengan tutur kata tak meledak-ledak, Santosa Doellah meladeni semua pertanyaan tentang batik, dunia yang digelutinya sejak kecil
Anak dokter kelahiran 7 Desember 1941 ini, mendirikan Batik Danar Hadi pada 1967, bersama sang istri, Danarsih. Nama "Danar Hadi" adalah gabungan dari nama "Danarsih", perempuan kelahiran 26 September 1946, dengan nama keluarga besar istri yakni "Hadi".
Seturut penuturan kolektor lebih dari 10.000 kain batik dari kuno hingga modern ini, Kamis (21/8), di kediaman keluarga di Jalan Rajiman, Kota Solo, kebanyakan orang Indonesia memang bangkit perhatiannya tatkala Malaysia mengklaim batik sebagai milik negeri jiran ini sekitar setahun lalu. "Lha wong sekarang apa-apa ya dibatik. Itu kucing- kucingan (boneka-red) juga batik," ujarnya terkekeh.
Namun, bagi penulis buku Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan, ini, sejak abad 19 orang Indonesia memang kurang menaruh perhatian pada batik. Yang mempunyai kesadaran memelihara itu kebanyakan orang Belanda. Maklumlah, kala itu, mereka lebih punya pikiran lebih maju.
Buat orang Belanda, lagipula, batik bukan untuk pakaian sehari-hari. Kalau orang Indonesia justru mengenakan kain batik untuk seluruh kegiatan. "Makanya orang Belanda lebih memelihara batik. Saya maklum itu," katanya.
Akan tetapi, soal klaim tadi, ada hal yang mesti diingat, imbuh Santosa. Batik sejatinya adalah proses pewarnaan kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan lilin atau malam atau wax. Corak dari lilin itu kemudian diaplikasikan ke atas kain. Lilin yang digunakan menahan masuknya bahan pewarna (dye). Dulunya, tahap ini dikerjakan manual dengan alat khas canting.
Pada tahap selanjutnya, pewarnaan kain melewati pencelupan ke dalam air yang sudah diberi pewarna alami. Usai pada bagian itu, kain dibersihkan dari malam dan dijemur dengan cara diangin-anginkan, tanpa langsung terkena sinar matahari.
Kemajuan teknologi kemudian memunculkan teknik pengecapan malam dengan alat cetak dari plat besi. Lebih mengemuka, industri tekstil kemudian membuat tekstil bermotif batik. "Kalangan dunia batik menyebutnya sebagai printing atau tekstil bermotif batik," terang Santosa.
Dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, proses baik dengan pengerjaan manual (disebut batik tulis-red) maupun cap tersebut memang begitu berkembang berikut pembuatan motif-motifnya. Namun, seperti juga Santosa yang tidak menampik kalau proses ini ditemukan pula di berbagai negara tak cuma Indonesia, batik kemudian sesungguhnya menjadi milik publik. "Jadi, ya, biarkan saja Malaysia mengklaim.
Tapi, akar budaya batik tetap Indonesia," begitu pandangan Santosa yang sempat diminta mantan Jaksa Agung Ismail Saleh, kala itu, untuk mematenkan motif batik ciptaannya.
Berkecimpung di dunia batik dengan landasan kecintaan, Santosa Doellah yang juga pemilik House of Danar Hadi (HDH) ini, malahan melihat "demam" batik sudah terjadi sejak 1975. Di masa itu, batik tak sekadar berfungsi sebagai jarik (kain panjang berukuran sekitar 275 cm X 110 cm-red) penutup tubuh. "Masyarakat kembali menggunakan batik untuk berbagai keperluan," kenangnya.
Terdorong oleh naluri bisnisnya untuk memanfaatkan peluang tadi, lalu, bapak beranak empat (satu orang sudah meninggal dunia-red) ini mulai membangun tim di Danar Hadi yang mengurusi soal motif dan desain. "Membuat motif dan desain itu seperti air mengalir. Bergerak terus dari hulu," katanya.
Perkembangan zaman, kemudian, adalah salah satu alasan mengapa Danar Hadi, aku Santosa, selalu memutakhirkan motif dan desain tersebut. Ide -ide mengenai motif baru bahkan bisa diperoleh dari manapun mulai dari pameran batik hingga peragaan busana di negara-negara Eropa. "Bukan saya meniru. Tapi dari kesempatan-kesempatan itu, saya sering mendapat ide," ungkapnya.
Saat ini, Santosa memang banyak dibantu oleh anak-anaknya. Diana Santosa, anak kedua, menjadi direktur marketing di perusahaan. Sementara, Dewanto Santosa mengurusi hal-hal keuangan. "Dari anak sayalah, saya mendapat informasi mengenai tren motif dan desain," ucapnya.
Soal tren motif dan desain terbaru, jelas Santosa, pihaknya memang menyasar pasar anak muda. Makanya, warna cokelat tua atau sogan (diambil dari pewarna alami soga-red) yang lazim menjadi warna khas batik dikembangkan dan dilengkapi dengan warna lain yang lebih cerah. "Warna lama kami olah lagi begitu," ujarnya.
Desain pun menjadi perhatian Santosa. Beserta timnya, desain pakaian batik dikembangkan sebagai jawaban cepatnya perubahan kebutuhan masyarakat. "Kami yang membuat desain kardigan bermotif batik," paparnya.
Untuk soal berpromosi, Santosa yang berkali-kali mengatakan keberhasilan bisnis batiknya berangkat dari restu Yang Mahakuasa berikut kerja sama tim, menerangkan, Danar Hadi menjadi pelopor yang menampilkan ragam busana batik di kalender. Khususnya, kalender meja. "Kami melakukannya setahun lalu dengan model anak-anak muda memakai batik," terang pengusaha sukses yang salah satu gerainya di Ibu Kota mampu meraih pendapatan sekitar Rp2 miliar per bulan. Josephus Primus
Anak dokter kelahiran 7 Desember 1941 ini, mendirikan Batik Danar Hadi pada 1967, bersama sang istri, Danarsih. Nama "Danar Hadi" adalah gabungan dari nama "Danarsih", perempuan kelahiran 26 September 1946, dengan nama keluarga besar istri yakni "Hadi".
Seturut penuturan kolektor lebih dari 10.000 kain batik dari kuno hingga modern ini, Kamis (21/8), di kediaman keluarga di Jalan Rajiman, Kota Solo, kebanyakan orang Indonesia memang bangkit perhatiannya tatkala Malaysia mengklaim batik sebagai milik negeri jiran ini sekitar setahun lalu. "Lha wong sekarang apa-apa ya dibatik. Itu kucing- kucingan (boneka-red) juga batik," ujarnya terkekeh.
Namun, bagi penulis buku Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan, ini, sejak abad 19 orang Indonesia memang kurang menaruh perhatian pada batik. Yang mempunyai kesadaran memelihara itu kebanyakan orang Belanda. Maklumlah, kala itu, mereka lebih punya pikiran lebih maju.
Buat orang Belanda, lagipula, batik bukan untuk pakaian sehari-hari. Kalau orang Indonesia justru mengenakan kain batik untuk seluruh kegiatan. "Makanya orang Belanda lebih memelihara batik. Saya maklum itu," katanya.
Akan tetapi, soal klaim tadi, ada hal yang mesti diingat, imbuh Santosa. Batik sejatinya adalah proses pewarnaan kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan lilin atau malam atau wax. Corak dari lilin itu kemudian diaplikasikan ke atas kain. Lilin yang digunakan menahan masuknya bahan pewarna (dye). Dulunya, tahap ini dikerjakan manual dengan alat khas canting.
Pada tahap selanjutnya, pewarnaan kain melewati pencelupan ke dalam air yang sudah diberi pewarna alami. Usai pada bagian itu, kain dibersihkan dari malam dan dijemur dengan cara diangin-anginkan, tanpa langsung terkena sinar matahari.
Kemajuan teknologi kemudian memunculkan teknik pengecapan malam dengan alat cetak dari plat besi. Lebih mengemuka, industri tekstil kemudian membuat tekstil bermotif batik. "Kalangan dunia batik menyebutnya sebagai printing atau tekstil bermotif batik," terang Santosa.
Dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, proses baik dengan pengerjaan manual (disebut batik tulis-red) maupun cap tersebut memang begitu berkembang berikut pembuatan motif-motifnya. Namun, seperti juga Santosa yang tidak menampik kalau proses ini ditemukan pula di berbagai negara tak cuma Indonesia, batik kemudian sesungguhnya menjadi milik publik. "Jadi, ya, biarkan saja Malaysia mengklaim.
Tapi, akar budaya batik tetap Indonesia," begitu pandangan Santosa yang sempat diminta mantan Jaksa Agung Ismail Saleh, kala itu, untuk mematenkan motif batik ciptaannya.
Berkecimpung di dunia batik dengan landasan kecintaan, Santosa Doellah yang juga pemilik House of Danar Hadi (HDH) ini, malahan melihat "demam" batik sudah terjadi sejak 1975. Di masa itu, batik tak sekadar berfungsi sebagai jarik (kain panjang berukuran sekitar 275 cm X 110 cm-red) penutup tubuh. "Masyarakat kembali menggunakan batik untuk berbagai keperluan," kenangnya.
Terdorong oleh naluri bisnisnya untuk memanfaatkan peluang tadi, lalu, bapak beranak empat (satu orang sudah meninggal dunia-red) ini mulai membangun tim di Danar Hadi yang mengurusi soal motif dan desain. "Membuat motif dan desain itu seperti air mengalir. Bergerak terus dari hulu," katanya.
Perkembangan zaman, kemudian, adalah salah satu alasan mengapa Danar Hadi, aku Santosa, selalu memutakhirkan motif dan desain tersebut. Ide -ide mengenai motif baru bahkan bisa diperoleh dari manapun mulai dari pameran batik hingga peragaan busana di negara-negara Eropa. "Bukan saya meniru. Tapi dari kesempatan-kesempatan itu, saya sering mendapat ide," ungkapnya.
Saat ini, Santosa memang banyak dibantu oleh anak-anaknya. Diana Santosa, anak kedua, menjadi direktur marketing di perusahaan. Sementara, Dewanto Santosa mengurusi hal-hal keuangan. "Dari anak sayalah, saya mendapat informasi mengenai tren motif dan desain," ucapnya.
Soal tren motif dan desain terbaru, jelas Santosa, pihaknya memang menyasar pasar anak muda. Makanya, warna cokelat tua atau sogan (diambil dari pewarna alami soga-red) yang lazim menjadi warna khas batik dikembangkan dan dilengkapi dengan warna lain yang lebih cerah. "Warna lama kami olah lagi begitu," ujarnya.
Desain pun menjadi perhatian Santosa. Beserta timnya, desain pakaian batik dikembangkan sebagai jawaban cepatnya perubahan kebutuhan masyarakat. "Kami yang membuat desain kardigan bermotif batik," paparnya.
Untuk soal berpromosi, Santosa yang berkali-kali mengatakan keberhasilan bisnis batiknya berangkat dari restu Yang Mahakuasa berikut kerja sama tim, menerangkan, Danar Hadi menjadi pelopor yang menampilkan ragam busana batik di kalender. Khususnya, kalender meja. "Kami melakukannya setahun lalu dengan model anak-anak muda memakai batik," terang pengusaha sukses yang salah satu gerainya di Ibu Kota mampu meraih pendapatan sekitar Rp2 miliar per bulan. Josephus Primus
Belajar Sejarah Batik di Galeri Danar Hadi
Perkembangan batik sepanjang tahun 2008 ini di luar dugaan. Batik menjadi tren busana, bukan hanya dikenakan oleh ibu-ibu dalam bentuk kain, tapi juga para sosialita yang sudah berbentuk gaun berpotongan internasional.
Kita pun berani jalan sendiri, mengedepankan batik di kancah mode, meskipun tidak sesuai dengan tren yang ada di kota mode dunia seperti Paris, Milan, dan New York. Ini seperti cita-cita Afif Syakur, perancang batik asal Yogyakarta, dalam peragaan tunggalnya di Hotel Gran Melia, Jakarta, 2005 silam. Banyak yang menertawakan ide itu, tapi tidak sampai tiga tahun, orang yang menertawakannya harus gigit jari.
Bukan hanya Afif Syakur yang berjuang memopulerkan batik di tingkat nasional, atau mungkin internasional. Tapi, tahukah kita, batik apakah yang sedang kita kenakan? Batik memang melalui proses penciptaan yang unik, bukan sembarang motif dan warna, setiap batik merupakan pengejawantahan pola pikir manusia di zamannya. Semuanya melalui proses yang tidak sederhana. Kesakralan batik motif parang rusak, misalnya, menjadi bagian ketidaksederhanaan itu.
Menurut Asti Suryo Astuti, Asisten Manajer Galeri Batik Kuno Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, yang menjadi bagian dari kompleks wisata House Of Danar Hadi di Jalan Slamet Riyadi, motif itu diciptakan oleh Panembahan Senopati dalam sebuah perjalanan suci ketika hendak mendirikan Kerajaan Mataram.
“Dalam perjalanan itu, Panembahan Senopati melihat pereng-pereng (tebing) yang rusak akibat terjangan ombak. Itu yang mengilhami terciptanya motif parang rusak. Karena diciptakan oleh Panembahan Senopati, motif ini hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan,” kata Asti ketika membawa sejumlah wartawan mengelilingi Galeri Batik Kuno Danar Hadi dalam peresmian House of Danar Hadi, Jumat (22/8) silam.
Kesakralan itu masih bertahan sampai sekarang. Memang, motif parang rusak saat ini tersebar di mana-mana, namun antara motif parang rusak untuk keluarga kerajaan dan untuk dijual di pasar bebas ada perbedaannya, entah itu kesejajaran motif atau pilihan warna.
Batik Pengaruh Asing
Ketika budaya asing masuk ke tanah Jawa, batik kemudian berkembang pesat. Muncul pula batik variasi yang penggunaannya meluas. Penjelasan itu juga dimuat di Galeri Batik Kuno Danar Hadi. Setiap kain yang dipamerkan ada penjelasannya.
Dimulai dengan batik Belanda yang berkembang dari tahun 1840 sampai dengan 1910. “Batik ini dikembangkan oleh perempuan-perempuan keturunan Belanda dan dikerjakan oleh orang-orang desa di sekitar Pekalongan. Pelopornya Catharina Carolina van Oosterom, tapi yang paling terkenal adalah Liez Metzlar,” kata Asti menjelaskan.
Ciri khas batik ini terletak pada pola yang berupa bunga, dedaunan, dan binatang seperti bangau, burung-burung kecil, kupu-kupu, bahkan ilustrasi cerita-cerita dari Eropa antara lain Puteri Salju, Si Topi Merah, Hansel and Gretel. Warnanya berbeda dari batik keraton yang umumnya cokelat, krem, putih, dan hitam. Batik Belanda memiliki warna-warna cerah, dari merah, biru, hijau, oranye, meskipun tetap menggunakan warna soga (warna cokelat yang berasal dari pohon soga). Sayangnya, pembuatan batik Belanda ini berhenti pada tahun 1940-an, ketika Jepang mulai menguasai Indonesia.
Usai perkembangan pesat batik Belanda yang sampai tahun 1910, muncullah batik China. Batik yang berkembang di Kudus, Pekalongan, Lasem, Cirebon, dan Demak ini memiliki ciri khas motif yang berupa karakter-karakter dari mitos, antara lain naga, phoenix, kilin (singa berkepala anjing), dan singa. Seeprti batik Belanda, batik China didominasi warna cerah, terutama biru dan merah, atau paduan keduanya. Awalnya, batik China digunakan untuk keperluan upacara keagamaan berbentuk sarung, kain, dan kain altar. Batik China kemudian berkembang lagi dengan motif yang lebih banyak, mengikuti pola batik Belanda, antara lain bunga-bungaan, dedaunan, burung-burungan, dan kupu-kupu, disertai dengan isen (motif isi) yang sangat halus.
Dari batik Chinalah berkembang batik yang disebut dengan batik tiga negeri atau batik dua negeri. Disebut demikian karena satu kain batik diproduksi di tiga atau dua tempat yang berbeda. Batik tiga negeri, yang sangat terkenal di antara kain batik China, dibuat di Lasem untuk pencelupan warna merah, di Kudus atau Pekalongan untuk warna biru, dan di Surakarta atau Yogyakarta untuk warna soga. Sementara batik dua negeri dibuat di Lasem dan Kudus atau Pekalongan saja.
Satu lagi budaya asing yang berpengaruh kental terhadap perkembangan batik adalah India, batik nitik dan batik sembagi namanya. Batik nitik yang dibuat awal abad ke-19 mengikuti pola kain patola (atau di Indonesia dikenal dengan kain cinde) yang diimpor dari Gujarat, India. Pada perkembangannya, batik ini berkembang menjadi dua, di pesisiran seperti Pekalongan, batik ini dikenal sebagai batik Jlamprang dengan warna-warna yang khas Pantai Utara, sementara di Yogyakarta dan Surakarta disebut dengan batik nitik dengan warna-warna yang dominan cokelat. Batik nitik yang hanya dibuat dalam bentuk kain sampai saat ini masih digunakan untuk ritual dan upacara pernikahan tradisi Jawa.
Masih dari India, ada batik sembagi yang dipengaruhi oleh motif kain Chintz atau kain sembagi dari pantai Koromandel yang terletak di sebelah tenggara Semenanjung India. Kain ini sangat digemari oleh para bangsawan, masyarakat Indo-belanda, China, dan masyakarat pribumi kelas atas.
Ketika terjadi penurunan impor kain sembagi, sementara permintaan tetap banyak, dibuatlah kain batik dengan motif kain sembagi oleh perajin-perajin batik dari Lasem dan Cirebon yang kebanyakan keturunan China. Kain-kain ini juga sangat digemari orang Sumatera, terutama Jambi dan Palembang, sehingga motif ini juga terlihat pada batik dari Jambi.n
Kita pun berani jalan sendiri, mengedepankan batik di kancah mode, meskipun tidak sesuai dengan tren yang ada di kota mode dunia seperti Paris, Milan, dan New York. Ini seperti cita-cita Afif Syakur, perancang batik asal Yogyakarta, dalam peragaan tunggalnya di Hotel Gran Melia, Jakarta, 2005 silam. Banyak yang menertawakan ide itu, tapi tidak sampai tiga tahun, orang yang menertawakannya harus gigit jari.
Bukan hanya Afif Syakur yang berjuang memopulerkan batik di tingkat nasional, atau mungkin internasional. Tapi, tahukah kita, batik apakah yang sedang kita kenakan? Batik memang melalui proses penciptaan yang unik, bukan sembarang motif dan warna, setiap batik merupakan pengejawantahan pola pikir manusia di zamannya. Semuanya melalui proses yang tidak sederhana. Kesakralan batik motif parang rusak, misalnya, menjadi bagian ketidaksederhanaan itu.
Menurut Asti Suryo Astuti, Asisten Manajer Galeri Batik Kuno Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, yang menjadi bagian dari kompleks wisata House Of Danar Hadi di Jalan Slamet Riyadi, motif itu diciptakan oleh Panembahan Senopati dalam sebuah perjalanan suci ketika hendak mendirikan Kerajaan Mataram.
“Dalam perjalanan itu, Panembahan Senopati melihat pereng-pereng (tebing) yang rusak akibat terjangan ombak. Itu yang mengilhami terciptanya motif parang rusak. Karena diciptakan oleh Panembahan Senopati, motif ini hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan,” kata Asti ketika membawa sejumlah wartawan mengelilingi Galeri Batik Kuno Danar Hadi dalam peresmian House of Danar Hadi, Jumat (22/8) silam.
Kesakralan itu masih bertahan sampai sekarang. Memang, motif parang rusak saat ini tersebar di mana-mana, namun antara motif parang rusak untuk keluarga kerajaan dan untuk dijual di pasar bebas ada perbedaannya, entah itu kesejajaran motif atau pilihan warna.
Batik Pengaruh Asing
Ketika budaya asing masuk ke tanah Jawa, batik kemudian berkembang pesat. Muncul pula batik variasi yang penggunaannya meluas. Penjelasan itu juga dimuat di Galeri Batik Kuno Danar Hadi. Setiap kain yang dipamerkan ada penjelasannya.
Dimulai dengan batik Belanda yang berkembang dari tahun 1840 sampai dengan 1910. “Batik ini dikembangkan oleh perempuan-perempuan keturunan Belanda dan dikerjakan oleh orang-orang desa di sekitar Pekalongan. Pelopornya Catharina Carolina van Oosterom, tapi yang paling terkenal adalah Liez Metzlar,” kata Asti menjelaskan.
Ciri khas batik ini terletak pada pola yang berupa bunga, dedaunan, dan binatang seperti bangau, burung-burung kecil, kupu-kupu, bahkan ilustrasi cerita-cerita dari Eropa antara lain Puteri Salju, Si Topi Merah, Hansel and Gretel. Warnanya berbeda dari batik keraton yang umumnya cokelat, krem, putih, dan hitam. Batik Belanda memiliki warna-warna cerah, dari merah, biru, hijau, oranye, meskipun tetap menggunakan warna soga (warna cokelat yang berasal dari pohon soga). Sayangnya, pembuatan batik Belanda ini berhenti pada tahun 1940-an, ketika Jepang mulai menguasai Indonesia.
Usai perkembangan pesat batik Belanda yang sampai tahun 1910, muncullah batik China. Batik yang berkembang di Kudus, Pekalongan, Lasem, Cirebon, dan Demak ini memiliki ciri khas motif yang berupa karakter-karakter dari mitos, antara lain naga, phoenix, kilin (singa berkepala anjing), dan singa. Seeprti batik Belanda, batik China didominasi warna cerah, terutama biru dan merah, atau paduan keduanya. Awalnya, batik China digunakan untuk keperluan upacara keagamaan berbentuk sarung, kain, dan kain altar. Batik China kemudian berkembang lagi dengan motif yang lebih banyak, mengikuti pola batik Belanda, antara lain bunga-bungaan, dedaunan, burung-burungan, dan kupu-kupu, disertai dengan isen (motif isi) yang sangat halus.
Dari batik Chinalah berkembang batik yang disebut dengan batik tiga negeri atau batik dua negeri. Disebut demikian karena satu kain batik diproduksi di tiga atau dua tempat yang berbeda. Batik tiga negeri, yang sangat terkenal di antara kain batik China, dibuat di Lasem untuk pencelupan warna merah, di Kudus atau Pekalongan untuk warna biru, dan di Surakarta atau Yogyakarta untuk warna soga. Sementara batik dua negeri dibuat di Lasem dan Kudus atau Pekalongan saja.
Satu lagi budaya asing yang berpengaruh kental terhadap perkembangan batik adalah India, batik nitik dan batik sembagi namanya. Batik nitik yang dibuat awal abad ke-19 mengikuti pola kain patola (atau di Indonesia dikenal dengan kain cinde) yang diimpor dari Gujarat, India. Pada perkembangannya, batik ini berkembang menjadi dua, di pesisiran seperti Pekalongan, batik ini dikenal sebagai batik Jlamprang dengan warna-warna yang khas Pantai Utara, sementara di Yogyakarta dan Surakarta disebut dengan batik nitik dengan warna-warna yang dominan cokelat. Batik nitik yang hanya dibuat dalam bentuk kain sampai saat ini masih digunakan untuk ritual dan upacara pernikahan tradisi Jawa.
Masih dari India, ada batik sembagi yang dipengaruhi oleh motif kain Chintz atau kain sembagi dari pantai Koromandel yang terletak di sebelah tenggara Semenanjung India. Kain ini sangat digemari oleh para bangsawan, masyarakat Indo-belanda, China, dan masyakarat pribumi kelas atas.
Ketika terjadi penurunan impor kain sembagi, sementara permintaan tetap banyak, dibuatlah kain batik dengan motif kain sembagi oleh perajin-perajin batik dari Lasem dan Cirebon yang kebanyakan keturunan China. Kain-kain ini juga sangat digemari orang Sumatera, terutama Jambi dan Palembang, sehingga motif ini juga terlihat pada batik dari Jambi.n
Batik dari Titik Menjadi Abadi
Siapa yang tak kenal batik. Hampir semua orang mengenalnya. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik. Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. ” Bukan nilai uangnya yang menjadi ukuran, tapi kepuasan jika berhasil memiliki,” ujar Thomas Sigar, kolektor batik yang juga seorang perancang busana.
Kenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Batik klasik memiliki pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif flora dan fauna.
Dulu sempat berkembang polemik soal arti kata batik berasal dari mana. Sampai sekarang pun mereka belum sepakat soal apa arti sebenarnya kata batik itu. Ada yang bilang bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang dalam pembuatan kain batik dilakukan penetesan lilin di atas kain putih.
Ada juga yang mencari asal kata batik dalam sumber tertulis kuno. Oleh mereka yang menelusuri dari data kuno itu dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Pendek kata, asal mula batik lalu dikaitkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. Setuju atau tidak, batik tak terpengaruh. Kain khas ini sudah hadir selama berabad-abad.
Bisa Punah
Pada awalnya batik adalah pakaian raja-raja di Jawa di masa silam. Kemudian berkembang menjadi pakaian sehari-hari orang Jawa. Walau batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini sudah menjadi pakaian nasional, bahkan cukup dikenal di mancanegara. Kepopuleran batik seakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikannya komoditas yang bernilai, di sisi lainnya batik kuno bakal punah karena dibeli oleh orang asing.untuk koleksi.
” Sebenarnya itu ketakutan yang nggak beralasan,” ujar Thomas. Batik kuno memang harganya mahal. Ada yang jutaan rupiah sampai ratusan juta rupiah. Orang-orang asing itu, lanjutnya, punya apresiasi yang baik terhadap batik dan punya uang. Mereka tak hanya sekadar mengoleksi tapi juga belajar tentang batik. Berbeda dengan orang kita yang sekadar koleksi dan cenderung ikut-ikutan. Apa itu batik dan apa makna di dalamnya, kurang dipahami.
Menurut Thomas, memang ada banyak juga warga Indonesia yang sangat mengerti batik. Mereka berusaha menyelamatkan dan melestarikan lewat perkumpulan atau upaya pribadi. Mereka ini saling bertukar informasi dengan berbagai kolektor, termasuk kolektor asing. ” Jadi saya nggak setuju kalau batik kuno bakal hilang. Mereka menyimpannya teliti dan sangat baik,” katanya.
Motif Langka
Thomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain itu. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.
Dari sekian banyak koleksinya, ada batik yang amat disukainya, yakni batik Van Zuylen. Thomas memiliki tiga batik buatan orang Indo Belanda itu. Dalam perkembangan perbatikan di Tanah Air, ada fase penjajahan Belanda. Dalam fase ini, batik lokal dipengaruhi oleh selera Eropa. Makanya dalam motif-motif batik yang ada dalam masa itu terdapat buket, kartu remi, meriam dan sebagainya yang berbau-bau Eropa.
Koleksi Thomas lainnya adalah batik Cirebon yang bermotif mega mendung. Bagi penggemar batik, rasanya tak mungkin tak mengoleksi jenis batik pesisiran itu. Tapi yang ini, sambungnya, unik. Dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Belum pernah Thomas melihat dasar kain batik Cirebonan berwarna hitam. Koleksi ini didapat seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI.
Untuk menghadirkan motif klasik yang langka, ada upaya dari penggemar batik Mereka membuat batik baru dengan motif-motif lama. Ini salah satu pelestarian motif sehingga tidak hilang. Tetapi dari segi mutu, berbeda karena proses yang dilakukan pada zaman dulu berbeda dengan masa kini. Sehingga bagi kolektor fanatik, jenis batik replika ini kurang digemari. Tetapi bagi pecinta batik lainnya, ketimbang tidak dapat yang asli yang replika pun boleh-boleh saja.
Sulit Membedakan
Membedakan yang asli dan replika bagi penggemar pemula, memang agak susah. Apalagi jika ia tak pernah melihat sebelumnya di literatur. Tapi bagi yang ahli, mudah membedakannya, jika memegangnya. Terutama dilihat dari tekstur kain dan tampilan warna. ” Yang replika biasanya lebih bagus dari aslinya,” sambung Thomas.
Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sebab banyak batik Belanda, begitu julukannya, disimpan secara apik oleh pemiliknya. Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah, kainnya mirip kain baru. Mungkin karena sama sekali tidak pernah dipakai. Begitu pun jenis batik klasik lainnya yang tetap bagus kondisinya hinga kini. ” Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya. Sebaiknya jika ingin mengoleksi batik kuno, kita harus rajin tanya. Atau membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya,” saran Thomas.
Etty Tejalaksana, penggemar baru, mengakui awalnya dia sering tertipu. Membedakan antara batik yang bagus dan tidak saja, sulit. Makanya sarannya jika seseorang ingin menekuni hobi batik, harus belajar. Ilmu batik tak hanya yang ada di buku-buku. Semakin sering terjun ke lapangan yakni mendatangi pembatik tradisional, berburu ke pelosok, bisa mengasah pengetahuan. Ibarat bayi, semakin sering jatuh maka semakin cepat berdiri.
Ibu tiga anak itu mencontohkan batik Pekalongan yang diperlihatkan pada SH. Secara kasat mata, penampakannya sempurna. Warna-warnanya serasi, motifnya menarik, namun kalau diperhatikan ada warna yang tidak merata. ” Dalam proses pembuatan, mungkin perajin kurang cermat mencelupkanya saat pewarnaan. Jadi batiknya belang-belang tipis. Ini produk gagal, namun ada yang suka karena gradasi warnanya serasi,” tuturnya.
Etty mengaku jumlah koleksinya baru sekitar 150 lembar, terdiri dari kain dan selendang. Maklum dia baru menyukai batik pada 1998 akhir. Ketika itu dia jatuh hati pada batik Hohokay. Dikatakannya, ini batik spesial yang dibuat pada masa penjajahan Jepang. Motifnya banyak dipengaruhi unsur Jepang. Seperti warnya yang condong kebiru-biruan dan kekuning-kuningan.
Dari sinilah dia kemudian mulai mengoleksi satu demi satu. Pikirnya ketimbang kebarat-baratan, lebih baik melestarikan karya leluhur saja.
(SH/gatot irawan /bayu dwi mardana)
Kenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Batik klasik memiliki pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif flora dan fauna.
Dulu sempat berkembang polemik soal arti kata batik berasal dari mana. Sampai sekarang pun mereka belum sepakat soal apa arti sebenarnya kata batik itu. Ada yang bilang bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang dalam pembuatan kain batik dilakukan penetesan lilin di atas kain putih.
Ada juga yang mencari asal kata batik dalam sumber tertulis kuno. Oleh mereka yang menelusuri dari data kuno itu dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Pendek kata, asal mula batik lalu dikaitkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. Setuju atau tidak, batik tak terpengaruh. Kain khas ini sudah hadir selama berabad-abad.
Bisa Punah
Pada awalnya batik adalah pakaian raja-raja di Jawa di masa silam. Kemudian berkembang menjadi pakaian sehari-hari orang Jawa. Walau batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini sudah menjadi pakaian nasional, bahkan cukup dikenal di mancanegara. Kepopuleran batik seakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikannya komoditas yang bernilai, di sisi lainnya batik kuno bakal punah karena dibeli oleh orang asing.untuk koleksi.
” Sebenarnya itu ketakutan yang nggak beralasan,” ujar Thomas. Batik kuno memang harganya mahal. Ada yang jutaan rupiah sampai ratusan juta rupiah. Orang-orang asing itu, lanjutnya, punya apresiasi yang baik terhadap batik dan punya uang. Mereka tak hanya sekadar mengoleksi tapi juga belajar tentang batik. Berbeda dengan orang kita yang sekadar koleksi dan cenderung ikut-ikutan. Apa itu batik dan apa makna di dalamnya, kurang dipahami.
Menurut Thomas, memang ada banyak juga warga Indonesia yang sangat mengerti batik. Mereka berusaha menyelamatkan dan melestarikan lewat perkumpulan atau upaya pribadi. Mereka ini saling bertukar informasi dengan berbagai kolektor, termasuk kolektor asing. ” Jadi saya nggak setuju kalau batik kuno bakal hilang. Mereka menyimpannya teliti dan sangat baik,” katanya.
Motif Langka
Thomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain itu. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.
Dari sekian banyak koleksinya, ada batik yang amat disukainya, yakni batik Van Zuylen. Thomas memiliki tiga batik buatan orang Indo Belanda itu. Dalam perkembangan perbatikan di Tanah Air, ada fase penjajahan Belanda. Dalam fase ini, batik lokal dipengaruhi oleh selera Eropa. Makanya dalam motif-motif batik yang ada dalam masa itu terdapat buket, kartu remi, meriam dan sebagainya yang berbau-bau Eropa.
Koleksi Thomas lainnya adalah batik Cirebon yang bermotif mega mendung. Bagi penggemar batik, rasanya tak mungkin tak mengoleksi jenis batik pesisiran itu. Tapi yang ini, sambungnya, unik. Dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Belum pernah Thomas melihat dasar kain batik Cirebonan berwarna hitam. Koleksi ini didapat seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI.
Untuk menghadirkan motif klasik yang langka, ada upaya dari penggemar batik Mereka membuat batik baru dengan motif-motif lama. Ini salah satu pelestarian motif sehingga tidak hilang. Tetapi dari segi mutu, berbeda karena proses yang dilakukan pada zaman dulu berbeda dengan masa kini. Sehingga bagi kolektor fanatik, jenis batik replika ini kurang digemari. Tetapi bagi pecinta batik lainnya, ketimbang tidak dapat yang asli yang replika pun boleh-boleh saja.
Sulit Membedakan
Membedakan yang asli dan replika bagi penggemar pemula, memang agak susah. Apalagi jika ia tak pernah melihat sebelumnya di literatur. Tapi bagi yang ahli, mudah membedakannya, jika memegangnya. Terutama dilihat dari tekstur kain dan tampilan warna. ” Yang replika biasanya lebih bagus dari aslinya,” sambung Thomas.
Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sebab banyak batik Belanda, begitu julukannya, disimpan secara apik oleh pemiliknya. Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah, kainnya mirip kain baru. Mungkin karena sama sekali tidak pernah dipakai. Begitu pun jenis batik klasik lainnya yang tetap bagus kondisinya hinga kini. ” Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya. Sebaiknya jika ingin mengoleksi batik kuno, kita harus rajin tanya. Atau membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya,” saran Thomas.
Etty Tejalaksana, penggemar baru, mengakui awalnya dia sering tertipu. Membedakan antara batik yang bagus dan tidak saja, sulit. Makanya sarannya jika seseorang ingin menekuni hobi batik, harus belajar. Ilmu batik tak hanya yang ada di buku-buku. Semakin sering terjun ke lapangan yakni mendatangi pembatik tradisional, berburu ke pelosok, bisa mengasah pengetahuan. Ibarat bayi, semakin sering jatuh maka semakin cepat berdiri.
Ibu tiga anak itu mencontohkan batik Pekalongan yang diperlihatkan pada SH. Secara kasat mata, penampakannya sempurna. Warna-warnanya serasi, motifnya menarik, namun kalau diperhatikan ada warna yang tidak merata. ” Dalam proses pembuatan, mungkin perajin kurang cermat mencelupkanya saat pewarnaan. Jadi batiknya belang-belang tipis. Ini produk gagal, namun ada yang suka karena gradasi warnanya serasi,” tuturnya.
Etty mengaku jumlah koleksinya baru sekitar 150 lembar, terdiri dari kain dan selendang. Maklum dia baru menyukai batik pada 1998 akhir. Ketika itu dia jatuh hati pada batik Hohokay. Dikatakannya, ini batik spesial yang dibuat pada masa penjajahan Jepang. Motifnya banyak dipengaruhi unsur Jepang. Seperti warnya yang condong kebiru-biruan dan kekuning-kuningan.
Dari sinilah dia kemudian mulai mengoleksi satu demi satu. Pikirnya ketimbang kebarat-baratan, lebih baik melestarikan karya leluhur saja.
(SH/gatot irawan /bayu dwi mardana)
Menyusuri Rumah Industri Batik
Batik adalah rangkaian ribuan titik. Namun, usianya tidak hanya sesaat seperti saat mata canting meneteskan titik demi titik malam cair. Rangkaian itu sekaligus menyimpan seribu satu cerita, suka-duka, sedih-gembira, tangis- tawa. Pendeknya, setiap mata canting merekam setiap hela napas si pembatik dalam titik malam yang menetes.
Kalau yang sudah terampil, satu kain dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Tetapi, bisa juga jadi lama, apalagi kalau hatinya sedang susah. Membatik itu kan seperti melukis juga,” kata Nila, pembatik yang bekerja di rumah produksi batik di Pekalongan, Jawa Tengah.
Seorang pembatik sepuh di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah mengatakan, membatik itu bukan hanya bekerja. Membatik juga melibatkan batin si pembatik. Jika ingin menghasilkan batik tulis yang halus, hati si pembatik tidak boleh gundah, curiga, dan menyimpan prasangka atau menyimpan niat untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari karya itu. ”Selain niat, batin harus tulus. Tidak bisa membatik dengan rasa hati selalu dikejar-kejar,” katanya.
Meskipun tidak mengenal atau bertemu dengan pembatik sepuh dari Imogiri itu, tampaknya Nila membenarkan ungkapannya. ”Bisa juga, untuk mengejar penghasilan, kami membatik cepat, tetapi hasilnya jelek. Hati jadi tidak sreg,” kata Nila.
Hati harus tenang, Jika perlu membenamkan dalam-dalam kegundahan yang mungkin saja sempat datang mengganggu.
Industri
Datang setiap pagi dengan mengendarai sepeda tua miliknya, Nila mesti bekerja seharian demi upah Rp 6.000 ditambah uang makan Rp 2.500. Jika mengambil borongan, ia bisa memperoleh tambahan Rp 40.000 untuk setiap lembar kain yang ditulisnya.
Demikian juga Paleha. ”Karena masih baru, upah harian saya Rp 8.500, termasuk uang makan. Yang sudah empat atau lima tahun mendapat upah Rp 10.000,” kata Paleha, pembatik di Wiradesa, Pekalongan.
Paleha yang masih ikut orangtuanya harus bersusah payah mengatur pengeluaran. Ia mesti lentur menyiasati hidup, selentur ketika tangannya membatik. Ia menjadi sandaran kehidupan keluarga, apalagi ibunya yang mewariskan keahlian membatik sudah berangsur tua dan tidak kuat lagi membatik.
Untuk menambah pemasukan, Paleha ikut kerja borongan. ”Dalam keadaan sekarang, sangat sulit mengatur pengeluaran dan pemasukan sebesar itu,” kata Paleha, yang bertugas memopok atau melapisi bagian-bagian tertentu pada kain dengan lilin cair atau malam.
Sebagai ilustrasi, upah minimal di Kota dan Kabupaten Pekalongan untuk tahun 2008 sebesar Rp 615.000, sementara upah minimal rata-rata untuk Jawa Tengah masih Rp 601.418,92.
Pekalongan telah tumbuh menjadi satu pusat batik di Indonesia. Di sepanjang jalan utama dan lorong-lorong kota itu, sangat gampang ditemui gerai dan pusat produksi batik rumahan. Geliatnya telah menarik ratusan ribu warga, termasuk Nila dan Paleha, dalam kerja budaya yang telah menjadi industri itu. Ada ribuan anak putus sekolah terlibat dalam rangkaian kerja industri yang telah mengubah wajah Pekalongan.
Sebagian dari mereka bertugas menulisi kain sutra atau katun putih dengan malam-cair seturut pola motif yang telah digambar. Ada pula yang mewarnai, membuat pola, melepaskan lilin, hingga membuat batik cap. Motif yang dibuat antara lain jawa hokokai dan jelamprangan. Juga ada motif pakem batik solo atau yogyakarta, seperti kawung, parang rusak, atau sidomukti.
Dalam dua tahun terakhir ini, kerajinan dan industri batik di Pekalongan maju pesat. Seiring niat pemerintah menjadikan batik sebagai pakaian nasional pengganti jas, batik tak lagi menjadi ciri khas pakaian orang tua. Tahun ini batik telah menjadi arus utama mode di kalangan anak muda.
Bukan hanya pemilik industri batik yang meraup keuntungan dari ledakan itu. Warga pinggiran dan anak-anak putus sekolah pun memperoleh penghasilan sebagai pekerja pada industri batik. Namun, di tengah kemeriahan itu, kehadiran mereka masih sebatas penikmat remahan kue besar industri batik di Pekalongan. ”Perlu modal besar jika ingin membatik sendiri. Jika sekarang masih ikut orang, ya dijalani dulu,” kata Nila.
Pembatik
Kesabaran, itulah kekayaan sebenarnya para pembatik. Begitulah kebijakan si pembatik meskipun kain itu nantinya tidak lagi menjadi miliknya. Setiap hela napas dan batinnya terekam kuat dalam keindahan karya budaya itu.
Setelah semua proses usai, selembar kain batik tulis halus bisa jadi berharga jutaan rupiah. Nyaris dapat dipastikan si pembeli tidak mengenal siapa si pembatik sesungguhnya. Namun, dari sudut pandang lain, bisa jadi si pembeli hanya memiliki lembaran kain batik yang indah dan mahal itu, tetapi ada ”pemilik” lain yang dengan tulus tinggal di balik bilik-bilik rumah pembatikan di Pekalongan.
Merekalah sang pemilik sesungguhnya, mereka yang meneteskan titik demi titik malam cair menjadi lukisan nan menawan….
mbatik menyelesaikan batik tulis pekalongan bermotif Jlamprang di Desa Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (19/8). Makin banyak pengusaha beralih ke batik cap yang dibuat lebih cepat dan murah.
B Josie Susilo Hardianto dan Agustinus Handoko
Kalau yang sudah terampil, satu kain dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Tetapi, bisa juga jadi lama, apalagi kalau hatinya sedang susah. Membatik itu kan seperti melukis juga,” kata Nila, pembatik yang bekerja di rumah produksi batik di Pekalongan, Jawa Tengah.
Seorang pembatik sepuh di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah mengatakan, membatik itu bukan hanya bekerja. Membatik juga melibatkan batin si pembatik. Jika ingin menghasilkan batik tulis yang halus, hati si pembatik tidak boleh gundah, curiga, dan menyimpan prasangka atau menyimpan niat untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari karya itu. ”Selain niat, batin harus tulus. Tidak bisa membatik dengan rasa hati selalu dikejar-kejar,” katanya.
Meskipun tidak mengenal atau bertemu dengan pembatik sepuh dari Imogiri itu, tampaknya Nila membenarkan ungkapannya. ”Bisa juga, untuk mengejar penghasilan, kami membatik cepat, tetapi hasilnya jelek. Hati jadi tidak sreg,” kata Nila.
Hati harus tenang, Jika perlu membenamkan dalam-dalam kegundahan yang mungkin saja sempat datang mengganggu.
Industri
Datang setiap pagi dengan mengendarai sepeda tua miliknya, Nila mesti bekerja seharian demi upah Rp 6.000 ditambah uang makan Rp 2.500. Jika mengambil borongan, ia bisa memperoleh tambahan Rp 40.000 untuk setiap lembar kain yang ditulisnya.
Demikian juga Paleha. ”Karena masih baru, upah harian saya Rp 8.500, termasuk uang makan. Yang sudah empat atau lima tahun mendapat upah Rp 10.000,” kata Paleha, pembatik di Wiradesa, Pekalongan.
Paleha yang masih ikut orangtuanya harus bersusah payah mengatur pengeluaran. Ia mesti lentur menyiasati hidup, selentur ketika tangannya membatik. Ia menjadi sandaran kehidupan keluarga, apalagi ibunya yang mewariskan keahlian membatik sudah berangsur tua dan tidak kuat lagi membatik.
Untuk menambah pemasukan, Paleha ikut kerja borongan. ”Dalam keadaan sekarang, sangat sulit mengatur pengeluaran dan pemasukan sebesar itu,” kata Paleha, yang bertugas memopok atau melapisi bagian-bagian tertentu pada kain dengan lilin cair atau malam.
Sebagai ilustrasi, upah minimal di Kota dan Kabupaten Pekalongan untuk tahun 2008 sebesar Rp 615.000, sementara upah minimal rata-rata untuk Jawa Tengah masih Rp 601.418,92.
Pekalongan telah tumbuh menjadi satu pusat batik di Indonesia. Di sepanjang jalan utama dan lorong-lorong kota itu, sangat gampang ditemui gerai dan pusat produksi batik rumahan. Geliatnya telah menarik ratusan ribu warga, termasuk Nila dan Paleha, dalam kerja budaya yang telah menjadi industri itu. Ada ribuan anak putus sekolah terlibat dalam rangkaian kerja industri yang telah mengubah wajah Pekalongan.
Sebagian dari mereka bertugas menulisi kain sutra atau katun putih dengan malam-cair seturut pola motif yang telah digambar. Ada pula yang mewarnai, membuat pola, melepaskan lilin, hingga membuat batik cap. Motif yang dibuat antara lain jawa hokokai dan jelamprangan. Juga ada motif pakem batik solo atau yogyakarta, seperti kawung, parang rusak, atau sidomukti.
Dalam dua tahun terakhir ini, kerajinan dan industri batik di Pekalongan maju pesat. Seiring niat pemerintah menjadikan batik sebagai pakaian nasional pengganti jas, batik tak lagi menjadi ciri khas pakaian orang tua. Tahun ini batik telah menjadi arus utama mode di kalangan anak muda.
Bukan hanya pemilik industri batik yang meraup keuntungan dari ledakan itu. Warga pinggiran dan anak-anak putus sekolah pun memperoleh penghasilan sebagai pekerja pada industri batik. Namun, di tengah kemeriahan itu, kehadiran mereka masih sebatas penikmat remahan kue besar industri batik di Pekalongan. ”Perlu modal besar jika ingin membatik sendiri. Jika sekarang masih ikut orang, ya dijalani dulu,” kata Nila.
Pembatik
Kesabaran, itulah kekayaan sebenarnya para pembatik. Begitulah kebijakan si pembatik meskipun kain itu nantinya tidak lagi menjadi miliknya. Setiap hela napas dan batinnya terekam kuat dalam keindahan karya budaya itu.
Setelah semua proses usai, selembar kain batik tulis halus bisa jadi berharga jutaan rupiah. Nyaris dapat dipastikan si pembeli tidak mengenal siapa si pembatik sesungguhnya. Namun, dari sudut pandang lain, bisa jadi si pembeli hanya memiliki lembaran kain batik yang indah dan mahal itu, tetapi ada ”pemilik” lain yang dengan tulus tinggal di balik bilik-bilik rumah pembatikan di Pekalongan.
Merekalah sang pemilik sesungguhnya, mereka yang meneteskan titik demi titik malam cair menjadi lukisan nan menawan….
mbatik menyelesaikan batik tulis pekalongan bermotif Jlamprang di Desa Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (19/8). Makin banyak pengusaha beralih ke batik cap yang dibuat lebih cepat dan murah.
B Josie Susilo Hardianto dan Agustinus Handoko
Langganan:
Postingan (Atom)