Kota Solo merupakan kota yang memiliki citra sebagai sebagai salah satu kota wisata dan kota budaya di Indonesia. Kota ini telah mengalami berbagai krisis multidimensional dalam perjalanan pertumbuhannya. Karena itu, tentunya mendambakan suatu kondisi kota yang damai dan berbudaya.
Salah satu hal yang menjadi bagian dari budaya Solo adalah Batik. Yaitu batik yang dilahirkan dari tradisi Kota Solo dan menjadi salah satu akar pertumbuhan tradisi batik nusantara.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan dan citra Kota Solo sebagai Kota Batik di tingkat nasional maupun internasional, Solo Center Point Foundation (SCP) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta menggelar Royal Dinner dan pencananangan program Solo Batik Carnival 2008.
Pada 12 April, dielenggarakan peragaan 100 peserta Indoor Solo Batik Carnival yang bertempat di Pura Mangkunegaran. Sementara pada 13 April, digelar Solo Batik Carnival. Rute karnaval ini dimulai dari Solo Center Point (Purwosari, Jalan Slamet Riyadi) dan berakhir di Balaikota Pemetintah Kota Surakarta (Jalan Jendral Sudirman).
Solo Batik Carnival adalah suatu karnaval Batik Solo yang melibatkan seluruh masyarakat. Pada karnaval ini, batik dijadikan sebagai sumber ide dasar dan semangat kreativitas masyarakat. Ini sesuai selaras dengan jiwa Solo, yaitu sebagai 'The Spirit of Java'.
Dengan diselenggarakannya karnaval ini, diharapkan akan lebih mendekatkan masyarakat Solo kepada kearifan lokal kotanya. Juga mencintai pertumbuhan kotanya yang makin plural dan multikultural. Oleh karena itu, untuk mematangkan kualitas karnaval, peserta harus mengikuti berbagai workshop. Mulai dari workshop untuk kostum, tarian, dan cara berjalan yang dipandu oleh Jember Fashion Carnival.
Diselenggarakan juga workshop untuk menggali kreativitas dan memahami esensi karnaval yang diselenggarakan. Sekitar 500 orang yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat ikut terlibat dalam karnaval tersebut. Mulai dari siswa SMU, organisasi profesi, organisasi kebudayaan, organisasi swasta dan BUMN, institusi pemerintah dan swasta, grup kesenian, individu, dan sebagainya.
Sebagai acara pendamping, diselenggarakan Srawung Batik. Yaitu suatu pameran batik dan ragam produk kerajinan tangan. Acara ini diikuti oleh UKM batik dan kerajinan tangan dari Kota Solo. Srawung Batik bertujuan untuk merekatkan hubungan perajin-perajin batik, para UKM batik dan UKM kerajinan tangan batik dengan konsumen. Sehingga dapat memberdayakan ekonomi kerakyatan Kota Solo dan mengkokohkan Kota Solo sebagai Kota Batik. Pameran ini digelar di sepanjang city walk Jalan Slamet Riyadi.
Ada alasan tersendiri kenapa kawasan Jalan Slamet Riyadi dipilih sebagai tempat karnaval dan pameran. Menurut sejarah, pada abad ke-19 sepanjang kawasan ini disebut dengan sebutan Jalan Wihelminaan. Jalan ini membagi kota Surakarta menjadi dua. Sebelah utara menjadi komplek Belanda dan selatan menjadi komplek Keraton. Jalan inilah yang seolah�olah menjadi 'pembelah' kota Surakarta.
Dengan dibukanya jalan menuju Semarang, terjadi pertumbuhan ekonomi dan kultural pada masyarakat Solo. Sejak itu keberagaman etnis, tradisi dan kesenian tumbuh di lingkungan masyarakat kedua wilayah, utara dan selatan kota.
(ci1 )
Saatnya Berbusana Batik
Siapa sih orang Indonesia yang tak kenal batik? Rasanya, semua kenal. Maklumlah, batik memang salah satu warisan berharga nenek moyang kita yang hingga kini masih bertahan. Bahkan, akhir-akhir ini, batik kian berkibar.
Batik tak lagi hanya dikenakan oleh orang-orang tua untuk kondangan atau menghadiri acara resmi. Anak-anak muda pun kini bangga dan merasa trendy dengan baju batik. Mengusung corak, motif, dan model yang up to date, batik jadi kian menarik dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk acara-acara santai.
Pengamat mode Aju Isni Karim pun mengamati perkembangan ini. Menurut dia, batik sekarang tampil dengan motif dan model yang lebih ringan, tapi full modifikasi. Alhasil, batik bisa digunakan oleh semua usia. Modelnya? Sangat beragam. Tak hanya berupa blouse, tapi juga baby doll, blazer, blouse panjang sepaha, blouse tanpa lengan, dan rompi. Saat memakainya, Anda pun tak perlu cemas bakal terlihat kuno alias jadul. ''Pemakainya malah terkesan modern, apalagi batik bisa dipadukan dengan aksesori lain,'' ujar Isni.
Bagaimana memadukan batik agar si pemakai tampil modis dan trendy? ''Tidak ada batasan,'' kata Isni. Namun, ia memberikan beberapa panduan. Jika memakai atasan batik, bawahannya tak harus rok atau celana kain polos. Celana jeans, legging atau rok rajutan juga pas berpadu dengan batik. Bagaimana jika batik digunakan sebagai bawahan? Anda bisa memadukannya dengan atasan polos plus aksesori berupa kalung. ''Semua itu sah-sah saja, asal sesuai dengan kepribadian si pemakai. Yang penting, pandai-pandai memadukannya.''
Untuk yang bertubuh besar
Anda yang kebetulan memiliki postur tubuh besar, tentu saja bisa berbatik ria. Hanya saja, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Hindari batik bermotif ramai dan besar-besar. Begitupun batik dengan warna kontras, kurang cocok untuk Anda. Sebaiknya, pilih motif kecil-kecil dengan warna lembut. Jangan pula memilih aksesori ukuran besar, karena akan terlihat makin besar.
Batik cocok juga dikenakan oleh para Muslimah yang berkerudung. Satu hal yang perlu diperhatikan, ketika Anda mengenakan busana Muslimah dari batik, jangan kenakan kerudung bermotif batik pula. ''Kesannya jadi ramai, colourfull. Jilbabnya polos saja. Jika akan memakai tambahan batik, sebaiknya sebagai aksesori saja.'' n vie
( )
Batik tak lagi hanya dikenakan oleh orang-orang tua untuk kondangan atau menghadiri acara resmi. Anak-anak muda pun kini bangga dan merasa trendy dengan baju batik. Mengusung corak, motif, dan model yang up to date, batik jadi kian menarik dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk acara-acara santai.
Pengamat mode Aju Isni Karim pun mengamati perkembangan ini. Menurut dia, batik sekarang tampil dengan motif dan model yang lebih ringan, tapi full modifikasi. Alhasil, batik bisa digunakan oleh semua usia. Modelnya? Sangat beragam. Tak hanya berupa blouse, tapi juga baby doll, blazer, blouse panjang sepaha, blouse tanpa lengan, dan rompi. Saat memakainya, Anda pun tak perlu cemas bakal terlihat kuno alias jadul. ''Pemakainya malah terkesan modern, apalagi batik bisa dipadukan dengan aksesori lain,'' ujar Isni.
Bagaimana memadukan batik agar si pemakai tampil modis dan trendy? ''Tidak ada batasan,'' kata Isni. Namun, ia memberikan beberapa panduan. Jika memakai atasan batik, bawahannya tak harus rok atau celana kain polos. Celana jeans, legging atau rok rajutan juga pas berpadu dengan batik. Bagaimana jika batik digunakan sebagai bawahan? Anda bisa memadukannya dengan atasan polos plus aksesori berupa kalung. ''Semua itu sah-sah saja, asal sesuai dengan kepribadian si pemakai. Yang penting, pandai-pandai memadukannya.''
Untuk yang bertubuh besar
Anda yang kebetulan memiliki postur tubuh besar, tentu saja bisa berbatik ria. Hanya saja, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Hindari batik bermotif ramai dan besar-besar. Begitupun batik dengan warna kontras, kurang cocok untuk Anda. Sebaiknya, pilih motif kecil-kecil dengan warna lembut. Jangan pula memilih aksesori ukuran besar, karena akan terlihat makin besar.
Batik cocok juga dikenakan oleh para Muslimah yang berkerudung. Satu hal yang perlu diperhatikan, ketika Anda mengenakan busana Muslimah dari batik, jangan kenakan kerudung bermotif batik pula. ''Kesannya jadi ramai, colourfull. Jilbabnya polos saja. Jika akan memakai tambahan batik, sebaiknya sebagai aksesori saja.'' n vie
( )
Jerman Keluarkan Sepatu Adidas Bermotif Batik
Surabaya-RoL-- Perusahaan sepatu Jerman yakni Adidas telah mengeluarkan sepatu, jaket, dan topi bermotif batik.
"Sepatu, jaket, dan topi bermotif batik itu terbatas jumlahnya dan untuk koleksi," kata desainer Yogyakarta, Miko, di Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu dalam workshop "Desain Wayang Modern" yang diikuti sekitar 30 mahasiswa desain asal Surabaya-Solo di Perpustakaan ITS.
Didampingi isterinya yang juga desainer, Santi, ia mengatakan sepatu Adidas bermotif batik "priyayi" itu membuktikan "Think Global Act Local."
"Konsep 'Berpikir Global Bertindak Lokal' itu mengharuskan kita untuk lebih mencintai keunikan lokal, sebab orang lain sudah ke sana," katanya.
Alumnus ISI Yogyakarta itu menilai sepatu Adidas menunjukkan orang Jerman mencintai keunikan lokal di Indonesia.
"Apa kita justru diam saja? Karena itu, saya mengembangkan berbagai bentuk karya desain bernuansa wayang sejak tahun 2000," katanya.
Bahkan, katanya, karya desain buatannya sudah pernah dipamerkan di Amerika dan Eropa yang ternyata mendapat perhatian cukup membanggakan.
"Konsepnya adalah menggabungkan kekinian (global) dengan tradisi (lokal), misalnya wayang, sandal jepit, batik, dan sejenisnya," katanya.
Ia mengaku dirinya terinspirasi tiga desainer Jepang yang memberi nuansa samurai, kimono, dan nilai khas Jepang lainnya dalam desain buatannya.
"Karena itu, saya membuat desain buku, tas, kosmetik, sepatu, stiker, boneka, bungkus HP, dan lainnya dengan nuansa wayang," katanya.
Ia menambahkan nuansa wayang itu pun dibuat dengan konsep kekinian, seperti bagong yang memakai sepatu, topi, kacamata, sabuk, dan hal-hal yang diminati anak-anak muda.
"Saya juga membuat karya tentang buto (raksasa) cakil yang giginya menonjol tapi saya beri kawat gigi yang sedang 'in' sehingga anak-anak muda suka," katanya. antara/abi
"Sepatu, jaket, dan topi bermotif batik itu terbatas jumlahnya dan untuk koleksi," kata desainer Yogyakarta, Miko, di Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu dalam workshop "Desain Wayang Modern" yang diikuti sekitar 30 mahasiswa desain asal Surabaya-Solo di Perpustakaan ITS.
Didampingi isterinya yang juga desainer, Santi, ia mengatakan sepatu Adidas bermotif batik "priyayi" itu membuktikan "Think Global Act Local."
"Konsep 'Berpikir Global Bertindak Lokal' itu mengharuskan kita untuk lebih mencintai keunikan lokal, sebab orang lain sudah ke sana," katanya.
Alumnus ISI Yogyakarta itu menilai sepatu Adidas menunjukkan orang Jerman mencintai keunikan lokal di Indonesia.
"Apa kita justru diam saja? Karena itu, saya mengembangkan berbagai bentuk karya desain bernuansa wayang sejak tahun 2000," katanya.
Bahkan, katanya, karya desain buatannya sudah pernah dipamerkan di Amerika dan Eropa yang ternyata mendapat perhatian cukup membanggakan.
"Konsepnya adalah menggabungkan kekinian (global) dengan tradisi (lokal), misalnya wayang, sandal jepit, batik, dan sejenisnya," katanya.
Ia mengaku dirinya terinspirasi tiga desainer Jepang yang memberi nuansa samurai, kimono, dan nilai khas Jepang lainnya dalam desain buatannya.
"Karena itu, saya membuat desain buku, tas, kosmetik, sepatu, stiker, boneka, bungkus HP, dan lainnya dengan nuansa wayang," katanya.
Ia menambahkan nuansa wayang itu pun dibuat dengan konsep kekinian, seperti bagong yang memakai sepatu, topi, kacamata, sabuk, dan hal-hal yang diminati anak-anak muda.
"Saya juga membuat karya tentang buto (raksasa) cakil yang giginya menonjol tapi saya beri kawat gigi yang sedang 'in' sehingga anak-anak muda suka," katanya. antara/abi
Kadin Dorong Batik Jadi Ikon Industri Kreatif RI
AKARTA-- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong batik sebagai ikon industri kreatif Indonesia di pasar global, karena memiliki basis budaya yang kuat dan telah memiliki nilai ekonomi yang besar baik di pasar dalam negeri maupun internasional.
"Meningkatnya minat masyarakat mengenakan pakaian bercorak batik harus dijadikan momentum mendorong batik sebagai ikon industri kreatif Indonesia ke pasar internasional," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Kamis (5/6).
Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat pengguna corak batik pada pakaian mereka cenderung meningkat. Bahkan di sejumlah pusat perbelanjaan mewah bahkan grosir seperti Tanah Abang, pakaian corak batik banyak dijual, dengan desain sesuai mode terkini yang sedang diminati.
Bahkan pemilik perusahaan piranti lunak terkemuka, Bill Gates mau menggunakan batik saat melakukan "Presidential Lecture" di Jakarta beberapa waktu lalu yang ditonton jutaan pemirsa televisi di berbagai belahan dunia.
Rachmat menilai batik tidak hanya memiliki nilai budaya yang kuat khas Indonesia, tapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar bila mampu didesain sesuai dengan selera pasar, seperti yang terjadi pada peningkatan minat masyarakat mengenakan pakaian corak batik saat ini. "Salah satu karakteristik ekonomi kreatif adalah persaingan pada desain produk bukan pada harga, sehingga peran mutu sumber daya manusia dan teknologi sangat penting, agar pelaku di sektor ini mampu melakukan inovasi dan terus tumbuh," katanya.
Untuk itu, Kadin, lanjut dia, mengharapkan dukungan pemerintah dalam upaya menjadikan batik sebagai ikon industri kreatif di pasar global dengan kebijakan yang mendorong industri yang banyak digeluti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu. "Kuncinya adalah ketersediaan program pengembangan yang sistematis dan visioner serta membumi," ujar Rachmat yang mengharapkan pemerintah bisa memberi insentif yang lebih besar pada industri tersebut.
Ia melihat pentingnya penguasaan teknologi diberi ruang yang lebih luas kepada pelaku industi kreatif, termasuk batik. Pemerintah diharapkan bisa memberi kemudahan atau kelonggaran seperti insentif fiskal untuk masuknya barang modal (mesin-mesin) yang diperlukan oleh sektor industri kreatif tersebut.
Industri kreatif sendiri, kata dia, tidak hanya batik, tapi juga jamu, tenun ikat, kerajinan kayu, rotan, kulit dan logam, industri jamu, industri kreatif seperti product desain, seni, musik, film. Namun batik yang akan didorong lebih dulu sebagai ikon produk kreatif Indonesia.
(ant/zak )
"Meningkatnya minat masyarakat mengenakan pakaian bercorak batik harus dijadikan momentum mendorong batik sebagai ikon industri kreatif Indonesia ke pasar internasional," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Kamis (5/6).
Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat pengguna corak batik pada pakaian mereka cenderung meningkat. Bahkan di sejumlah pusat perbelanjaan mewah bahkan grosir seperti Tanah Abang, pakaian corak batik banyak dijual, dengan desain sesuai mode terkini yang sedang diminati.
Bahkan pemilik perusahaan piranti lunak terkemuka, Bill Gates mau menggunakan batik saat melakukan "Presidential Lecture" di Jakarta beberapa waktu lalu yang ditonton jutaan pemirsa televisi di berbagai belahan dunia.
Rachmat menilai batik tidak hanya memiliki nilai budaya yang kuat khas Indonesia, tapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar bila mampu didesain sesuai dengan selera pasar, seperti yang terjadi pada peningkatan minat masyarakat mengenakan pakaian corak batik saat ini. "Salah satu karakteristik ekonomi kreatif adalah persaingan pada desain produk bukan pada harga, sehingga peran mutu sumber daya manusia dan teknologi sangat penting, agar pelaku di sektor ini mampu melakukan inovasi dan terus tumbuh," katanya.
Untuk itu, Kadin, lanjut dia, mengharapkan dukungan pemerintah dalam upaya menjadikan batik sebagai ikon industri kreatif di pasar global dengan kebijakan yang mendorong industri yang banyak digeluti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu. "Kuncinya adalah ketersediaan program pengembangan yang sistematis dan visioner serta membumi," ujar Rachmat yang mengharapkan pemerintah bisa memberi insentif yang lebih besar pada industri tersebut.
Ia melihat pentingnya penguasaan teknologi diberi ruang yang lebih luas kepada pelaku industi kreatif, termasuk batik. Pemerintah diharapkan bisa memberi kemudahan atau kelonggaran seperti insentif fiskal untuk masuknya barang modal (mesin-mesin) yang diperlukan oleh sektor industri kreatif tersebut.
Industri kreatif sendiri, kata dia, tidak hanya batik, tapi juga jamu, tenun ikat, kerajinan kayu, rotan, kulit dan logam, industri jamu, industri kreatif seperti product desain, seni, musik, film. Namun batik yang akan didorong lebih dulu sebagai ikon produk kreatif Indonesia.
(ant/zak )
Untuk Pesta Bisa, Buat Gaul Oke
JAKARTA, SELASA - Kain batik terus dieksplorasi di negeri ini untuk dijadikan bagian dari fashion masa kini. Ada yang membuat motif-motif baru batik. Ada juga yang membikin busana dengan desain up to date dari bahan batik bermotif tradisional. Para pelaku eksplorasi itupun bermacam-macam. Ada perancang ternama Tanah Air yang menargetkan konsumen kelas atas dan dunia internasional. Ada pula butik batik dalam negeri dengan pasar kelas menengah-atas.
Chossy Latu, contohnya, belum lama ini di Jakarta mengeluarkan koleksi baru 2008-nya dalam pergelaran busana karyanya yang berjudul Malam. Dari sederet busana ciptaannya--berupa gaun cocktail yang ringan hingga gaun pesta yang anggun--ada yang dibuatnya dari bahan batik hasil garapannya bersama The Art of Palohy Batik by Pauli Patipeilohy.
Motifnya bunga Bali dan ada yang diberinya sentuhan prada atau tinta warna emas. Motif tersebut dibuatnya di atas tekstil eksklusif sutera Thailand, sutera satin, organsa, sifon, shantung, krep, tafeta, dan sutera tafeta.
Chossy, yang pernah menjadi konsultan dan perancang busana untuk rumah batik Iwan Tirta (1982-2000), justru menjauhkan aroma etnik dari busana batik karyanya, demi menjadikannya bagian dari fashion modern kelas atas, tidak terkecuali di dunia global.
Sementara itu, di jalur lain ada, sebut saja, busana kasual dari bahan batik Pekalongan keluaran butik batik Nilakandi di Kuta, Bali, milik Rachmani Endrawati. Dengan mendirikan butik tersebut, ia berharap bisa menghidupkan lagi eksistensi batik Pekalongan, yang memiliki motif dan warna khas sekaligus semarak.
Produk-produknya, yang serbabatik, tak hanya berupa pakaian, tapi juga pernik-pernik fashion lainnya, seperti tas, sepatu sandal, ikat pinggang, kalung, gelang, dan bandana. Desainnya trendy, karena yang disasarnya terutama orang-orang muda, yang umumnya selama ini "alergi" terhadap batik. Tak heran, dalam koleksinya ada, antara lain, rok dari bahan jean campur bahan batik katun yang bisa dikenakan dengan blus katun polos penuh ruffle tanpa lengan.
Supaya bisa memasang harga yang terjangkau untuk kelas menengah-atas, ia memakai batik cap (bukan batik tulis!) di atas katun atau shantung sebagai bahan.
ATI
Chossy Latu, contohnya, belum lama ini di Jakarta mengeluarkan koleksi baru 2008-nya dalam pergelaran busana karyanya yang berjudul Malam. Dari sederet busana ciptaannya--berupa gaun cocktail yang ringan hingga gaun pesta yang anggun--ada yang dibuatnya dari bahan batik hasil garapannya bersama The Art of Palohy Batik by Pauli Patipeilohy.
Motifnya bunga Bali dan ada yang diberinya sentuhan prada atau tinta warna emas. Motif tersebut dibuatnya di atas tekstil eksklusif sutera Thailand, sutera satin, organsa, sifon, shantung, krep, tafeta, dan sutera tafeta.
Chossy, yang pernah menjadi konsultan dan perancang busana untuk rumah batik Iwan Tirta (1982-2000), justru menjauhkan aroma etnik dari busana batik karyanya, demi menjadikannya bagian dari fashion modern kelas atas, tidak terkecuali di dunia global.
Sementara itu, di jalur lain ada, sebut saja, busana kasual dari bahan batik Pekalongan keluaran butik batik Nilakandi di Kuta, Bali, milik Rachmani Endrawati. Dengan mendirikan butik tersebut, ia berharap bisa menghidupkan lagi eksistensi batik Pekalongan, yang memiliki motif dan warna khas sekaligus semarak.
Produk-produknya, yang serbabatik, tak hanya berupa pakaian, tapi juga pernik-pernik fashion lainnya, seperti tas, sepatu sandal, ikat pinggang, kalung, gelang, dan bandana. Desainnya trendy, karena yang disasarnya terutama orang-orang muda, yang umumnya selama ini "alergi" terhadap batik. Tak heran, dalam koleksinya ada, antara lain, rok dari bahan jean campur bahan batik katun yang bisa dikenakan dengan blus katun polos penuh ruffle tanpa lengan.
Supaya bisa memasang harga yang terjangkau untuk kelas menengah-atas, ia memakai batik cap (bukan batik tulis!) di atas katun atau shantung sebagai bahan.
ATI
Oscar Peduli Warisan Tekstil Nusantara
Perancang busana Oscar Lawalata telah membuka butik khusus sebagai tribute-nya untuk estetika kain nusantara. Butik ini dinamakannya Oscar Lawalata Culture yang bertempat di Jl. Panglima Polim 7.
Sebelumnya Oscar telah melakukan serangkaian perjalana keliling nusantara untuk mengintip sedikit rona warisan budaya Indonesia yang primitif namun tetap kreatif. Oscar mengatakan selama hampir setahun terakhir, dia sudah melakukan perjalanan mengelilingi Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi hingga kawasan Indonesia Timur. Hanya Kalimantan yang belum dikunjunginya.
Dari perjalanannya ini, Oscar mengaku sangat terkesan dengan kekayaan warisan tekstil Indonesia yang sangat beraneka ragam. "Semua sangat menarik tapi karena kita melihat tekstil kan kurang diperhatikan ya. Bahwa sebenarnya kalau bicarakan tekstil kan bukan sekedar, Batik bagus ya, oh kain Songket bagus ya, tapi tekniknya," ujar Oscar di sela-sela acara 10 Pond's Beautiful Women di Jakarta, Jumat (23/5).
Dari rangkaian perjalanannya itu, Oscar mengaku sangat terkesan dengan perjalanannya selama satu bulan di daerah NTT yang terkenal dengan tenun ikatnya. "NTT itu tenun ikatnya itu macem-macem. Sama kayak Batik, ada Batik Cirebon, Jogja, Pekalongan beda. Tenun ikat juga, setiap pulau beda. Kupang beda, Flores beda, Sumba beda. Bagus-bagus dan lucu," tukasnya.
Namun, Oscar juga merasa miris melihat kekayaan seperti ini tidak didukung penuh sehingga para pengrajinnya bisa bersaing dalam dunia usaha, misalnya dengan memikirkan bagaimana para pengrajin ini dapat didukung dengan industri.
"Kain kan persaingannya dengan kain-kain modern yang buatannya pabrik, yang secara pembuatan lebih cepat dan lebih murah padahal kain-kain kita masih handmade," tukas Oscar. Menurut Oscar, salah satu jalan keluarnya adalah mendukung mereka dengan teknologi dan ia mengaku belum bisa membantu sampai taraf itu.
Sebagai perancang busana yang melihat sendiri para pengrajin tersebut menenun atau membatik, Oscar memang langsung terpikir saja ide-ide kreatif yang bisa ditularkan kepada mereka.
"Kalau saya punya imajinasi, saya harus tuangkan dengan para pengrajin yang lebih menguasai secara teknik. Mereka terkadang buntu, kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan A, ya A aja terus. Jadi saya menempatkan diri saya untuk lebih menggali, mengeksplor dan memberi wawasan lan bahwa teknik itu bisa dipadupadankan warna-warnanya, motifnya," ujar Oscar lagi.
Oscar menambahkan bahwa melalui Oscar Lawalata Culture, dia sudah memiliki rencana sendiri untuk mengembangkan kain-kain nusantara secara bertahap, sehingga orientasinya untuk ke masa depan.
"Karena kalau bukan begitu, lama-lama kita bisa lupa kain-kain kita seperti apa," tandasnya. Saat ini, butik yang dibukanya terbuka kepada siapa saja yang memang tertarik kepada kekayaan tekstil nusantara. Harga kain di tekstilnya dijual mulai Rp 1.5 juta.
LIN
Sebelumnya Oscar telah melakukan serangkaian perjalana keliling nusantara untuk mengintip sedikit rona warisan budaya Indonesia yang primitif namun tetap kreatif. Oscar mengatakan selama hampir setahun terakhir, dia sudah melakukan perjalanan mengelilingi Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi hingga kawasan Indonesia Timur. Hanya Kalimantan yang belum dikunjunginya.
Dari perjalanannya ini, Oscar mengaku sangat terkesan dengan kekayaan warisan tekstil Indonesia yang sangat beraneka ragam. "Semua sangat menarik tapi karena kita melihat tekstil kan kurang diperhatikan ya. Bahwa sebenarnya kalau bicarakan tekstil kan bukan sekedar, Batik bagus ya, oh kain Songket bagus ya, tapi tekniknya," ujar Oscar di sela-sela acara 10 Pond's Beautiful Women di Jakarta, Jumat (23/5).
Dari rangkaian perjalanannya itu, Oscar mengaku sangat terkesan dengan perjalanannya selama satu bulan di daerah NTT yang terkenal dengan tenun ikatnya. "NTT itu tenun ikatnya itu macem-macem. Sama kayak Batik, ada Batik Cirebon, Jogja, Pekalongan beda. Tenun ikat juga, setiap pulau beda. Kupang beda, Flores beda, Sumba beda. Bagus-bagus dan lucu," tukasnya.
Namun, Oscar juga merasa miris melihat kekayaan seperti ini tidak didukung penuh sehingga para pengrajinnya bisa bersaing dalam dunia usaha, misalnya dengan memikirkan bagaimana para pengrajin ini dapat didukung dengan industri.
"Kain kan persaingannya dengan kain-kain modern yang buatannya pabrik, yang secara pembuatan lebih cepat dan lebih murah padahal kain-kain kita masih handmade," tukas Oscar. Menurut Oscar, salah satu jalan keluarnya adalah mendukung mereka dengan teknologi dan ia mengaku belum bisa membantu sampai taraf itu.
Sebagai perancang busana yang melihat sendiri para pengrajin tersebut menenun atau membatik, Oscar memang langsung terpikir saja ide-ide kreatif yang bisa ditularkan kepada mereka.
"Kalau saya punya imajinasi, saya harus tuangkan dengan para pengrajin yang lebih menguasai secara teknik. Mereka terkadang buntu, kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan A, ya A aja terus. Jadi saya menempatkan diri saya untuk lebih menggali, mengeksplor dan memberi wawasan lan bahwa teknik itu bisa dipadupadankan warna-warnanya, motifnya," ujar Oscar lagi.
Oscar menambahkan bahwa melalui Oscar Lawalata Culture, dia sudah memiliki rencana sendiri untuk mengembangkan kain-kain nusantara secara bertahap, sehingga orientasinya untuk ke masa depan.
"Karena kalau bukan begitu, lama-lama kita bisa lupa kain-kain kita seperti apa," tandasnya. Saat ini, butik yang dibukanya terbuka kepada siapa saja yang memang tertarik kepada kekayaan tekstil nusantara. Harga kain di tekstilnya dijual mulai Rp 1.5 juta.
LIN
Kreasi Baru dari Warisan Budaya
Di antara berbagai pertunjukan di Pekan Produk Budaya Indonesia di Balai Sidang Jakarta yang berlangsung hingga Minggu (8/6) yang berhubungan dengan industri kreatif, ada peragaan busana karya perancang Indonesia.
Mode memang termasuk satu dari 14 industri yang dimasukkan pemerintah ke dalam industri kreatif untuk dikembangkan.
Dalam industri ini, unsur kreativitas dalam penciptaan menjadi amat penting. Tetapi, untuk dapat bersaing di pasar global, interaksi dengan kekayaan Indonesia menjadi penting karena warisan budaya itu dapat memberi keunikan pada karya. Interpretasi terhadap dialog antara nilai-nilai warisan dan kebutuhan saat ini menjadi sangat personal.
Itu terlihat dalam pergelaran Stephanus Hamy, Tuty Cholid, Oscar Lawalata, dan Yongki Budisutisna, Kamis (5/6) di Balai Sidang Jakarta. Hamy, misalnya, menggunakan berbagai batik dari Jawa Barat dalam komposisi baru. Paduannya bisa antara motif Mega Mendung batik Cirebon dan batik Garut yang kekuningan.
Yongki menggunakan batik dari Jambi yang disediakan Pemerintah Provinsi Jambi, sementara Oscar Lawalata memeragakan Oscar Culture, rangkaian busana yang berangkat dari tekstil dan busana Indonesia.
Sedangkan Tuty Cholid menggunakan sulam tapis dari Lampung. Sejak enam bulan lalu Tuty bekerja sama dengan Yanti, perajin tapis di Lampung, untuk menghasilkan tapis yang lebih cocok dengan kebutuhan saat ini.
”Saya meminta mereka memakai kain yang lebih tipis, mengganti benangnya supaya tidak selalu benang emas. Motifnya juga disederhanakan. Mulai kelihatan hasilnya meskipun masih harus terus diperbaiki,” jelas Tuty.
Kesertaan 12 perancang Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dalam pergelaran di Pekan Produk Budaya Indonesia ini menurut pengurus IPMI, Sjamsidar Isa, adalah untuk membuka wawasan perajin tentang berbagai peluang pengembangan teknik dan peningkatan kualitas. Kali ini, IPMI bekerja sama dengan 12 pemerintah provinsi.
Tentang karya perancang yang dapat dengan mudah ditiru, Tuty Cholid tidak khawatir. Sebab, perancang akan selalu bergerak maju dengan ide baru hasil olahan pengalaman dan wawasan pribadi. Itulah industri kreatif, hak cipta patut dilindungi, tetapi ide dan kreativitas menjadi intinya.
NMP
Mode memang termasuk satu dari 14 industri yang dimasukkan pemerintah ke dalam industri kreatif untuk dikembangkan.
Dalam industri ini, unsur kreativitas dalam penciptaan menjadi amat penting. Tetapi, untuk dapat bersaing di pasar global, interaksi dengan kekayaan Indonesia menjadi penting karena warisan budaya itu dapat memberi keunikan pada karya. Interpretasi terhadap dialog antara nilai-nilai warisan dan kebutuhan saat ini menjadi sangat personal.
Itu terlihat dalam pergelaran Stephanus Hamy, Tuty Cholid, Oscar Lawalata, dan Yongki Budisutisna, Kamis (5/6) di Balai Sidang Jakarta. Hamy, misalnya, menggunakan berbagai batik dari Jawa Barat dalam komposisi baru. Paduannya bisa antara motif Mega Mendung batik Cirebon dan batik Garut yang kekuningan.
Yongki menggunakan batik dari Jambi yang disediakan Pemerintah Provinsi Jambi, sementara Oscar Lawalata memeragakan Oscar Culture, rangkaian busana yang berangkat dari tekstil dan busana Indonesia.
Sedangkan Tuty Cholid menggunakan sulam tapis dari Lampung. Sejak enam bulan lalu Tuty bekerja sama dengan Yanti, perajin tapis di Lampung, untuk menghasilkan tapis yang lebih cocok dengan kebutuhan saat ini.
”Saya meminta mereka memakai kain yang lebih tipis, mengganti benangnya supaya tidak selalu benang emas. Motifnya juga disederhanakan. Mulai kelihatan hasilnya meskipun masih harus terus diperbaiki,” jelas Tuty.
Kesertaan 12 perancang Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dalam pergelaran di Pekan Produk Budaya Indonesia ini menurut pengurus IPMI, Sjamsidar Isa, adalah untuk membuka wawasan perajin tentang berbagai peluang pengembangan teknik dan peningkatan kualitas. Kali ini, IPMI bekerja sama dengan 12 pemerintah provinsi.
Tentang karya perancang yang dapat dengan mudah ditiru, Tuty Cholid tidak khawatir. Sebab, perancang akan selalu bergerak maju dengan ide baru hasil olahan pengalaman dan wawasan pribadi. Itulah industri kreatif, hak cipta patut dilindungi, tetapi ide dan kreativitas menjadi intinya.
NMP
Langganan:
Postingan (Atom)