Asal Mula Batik

Batik Kata Batik berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing".

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Sejarah batik di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya.Kesenian batik ini secara umumnya menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya aktivitas membuat batik hanya terbatas dalam kraton saja dan hanya dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga serta para pembesar. Oleh kerana banyak dari pembesar tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari kraton dan dihasilkan pula ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangga mereka untuk mengisi waktu lapang.

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Batik Modern

Dalam perkembangannya, batik tidak hanya bersifat etnik dan tradisional, namun juga bisa diaplikasikan pada kebudayaan modern. Corak batik belakangan ini banyak digunakan designer di Indonesia dalam merancang gaun adibusananya.

Perkembangan batik ini sayangnya tidak didukung oleh kesigapan pemerintah dalam melindungi hak atas kekayaan intelektual warisan leluhur tsb, sehingga corak batik kita banyak diklaim dan dipatenkan oleh bangsa lain.
Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Antara bahan-bahan pewarna yang dipakai adalah tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jenis batik

* Batik tulis, jika motif batik dibentuk dengan tangan
* Batik cap, jika motif batik dibentuk dengan cap (biasanya dibuat dari tembaga)

Source : Wikipedia Indonesia
www.duniasastra.com

Bersaing Menggenggam Batik

Bila tidak dilakukan sekarang, kita harus menunggu empat tahun lagi.

Siapa yang tak kenal batik. Kain yang digambar dengan canting dan prosesnya dibantu lilin panas itu dikenal sejak abad ke-17 di negeri ini. Di Jawa Tengah, ada Pekalongan yang disebut sebagai Kota Batik, dan catatan menunjukkan kesenian membatik mulai menyentuh keseharian masyarakat pada 1800-an. Kata batik sendiri pun berasal dari bahasa Jawa.

Batik berkembang pesat pada 1825-1830 di Kerajaan Mataram ketika Perang Diponegoro. Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa, seperti Cina, Belanda, Arab, India, dan Melayu, melahirkan aneka motif. Ada batik Jlamprang dengan sentuhan India dan Arab. Ada pula batik Encim dan Klengenan yang dipengaruhi Cina, serta batik Pagi-Sore dan Hokokai yang muncul di zaman pendudukan Jepang. Keragaman itu menjadikan batik Indonesia benar-benar kaya.

Tak hanya Pekalongan yang punya batik. Daerah lain pun mempunyai ciri motifnya sendiri, seperti Cirebon, Solo, dan Yogyakarta. Nah, pada 1900-an teknik membatik ini menyeberang hingga ke negeri jiran. Pertama kali dikenal di Kelantan, Malaysia, pada 1910. Tak aneh jika kemudian batik diakui sebagai kekayaan negeri ini. Industri batik pun berkembang di Kelantan dan Terengganu.

Namun, batik kemudian lebih berkembang pada 1970-an. Romi Oktabirawa, Ketua Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan, menyebutkan sekitar 1.973 pembatik Desa Kerapyak dan Pasir Sari--sekitar Pekalongan--diboyong ke Malaysia. Kebanyakan dari mereka karyawan batik yang dirayu dengan jaminan kesejahteraan. Budaya setempat pun akhirnya terbawa bersama para pembatik yang hijrah.

Nah, sebagai salah satu negara pengusung motif batik, Malaysia rupanya tergiur untuk mendaftarkannya sebagai kekayaan negara ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Jika berhasil mendapatkan hak patennya, apa kata dunia? "Bayangkan nanti kalau pembatik Indonesia mau bikin batik dan memasarkannya, harus bayar hak cipta ke Malaysia," ujarnya.

Sebuah tim pun dibentuk dan gencar melancarkan gerakan penyelamatan budaya tradisional itu. Tim yang tak bernama ini hanya dimotori beberapa orang. Ada Romi Oktabirawa, Asmoro Damais (kurator Museum Batik Pekalongan), Iwan Tirta (seniman batik), dan Dudung Alie Syahbana (pembatik Pekalongan), dengan menggandeng Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Departemen Industri.

"Kini kami tengah melakukan usaha pendekatan dan pencarian bukti guna meyakinkan UNESCO," ujar Romi. Tim ini, kata dia, masih menjaring pembatik dari daerah lain untuk bergabung. Perjuangannya lebih pada upaya mempertahankan merek dagang. Sebenarnya mudah saja mendaftarkan hak cipta ke UNESCO. Apalagi Indonesia telah menjadi anggota sejak dulu. "Tinggal daftar, kumpulkan data riset, lalu diuji oleh UNESCO dan kemudian dinilai. Jika data layak, UNESCO akan turun langsung kelapangan untuk memastikan kebenaran data," ucapnya.

Bila tidak dilakukan sekarang, Romi menyebutkan kita harus menunggu empat tahun lagi, karena pendaftaran hak cipta kebudayaan dibuka setiap empat tahun. Rencananya, pihak UNESCO akan datang ke Pekalongan pada April ini untuk melihat langsung apakah proses budaya tersebut masih berlangsung.

Selain lewat jalur birokrasi, perjuangan juga dilakukan dengan memenangi perlombaan bergengsi yang membuat produk Tanah Air ini tak hanya dikenal secara internasional tapi juga dianggap berkualitas. Penghargaan itu juga bisa dimanfaatkan sebagai pijakan saat melakukan pemasaran dan publikasi. Selain itu, akan dibuka peluang bagi pembatik untuk ikut dalam workshop, seminar, dan pameran internasional. Selain juga jaringan akan diperluas, setidaknya untuk kawasan ASEAN.

Dari sejarah geografis, memang benar batik bukan cuma ada di Indonesia atau Malaysia. Di Jepang, misalnya, kain ini terkenal dengan nama jawa sarasa atau biasa dikenal dengan nama sarasa, sedangkan di India dikenal dengan nama lakra. Batik pun banyak disebut dalam beragam bahasa, ada yang bilang batick, bathik, battik, batique, batek, serta batix. Orang Jawa biasa menyebut aktivitas membuat batik dengan istilah mbatik, artinya menorehkan titik. Seperti peribahasa yang biasa dipakai Romi, "ngemban titik, mbabate teko setitik, sabar subur telaten bakal panen". Artinya kurang-lebih begini: menorehkan titik sedikit demi sedikit, sabar dan telaten, akan membuahkan hasil.

Menurut Romi, Malaysia juga sempat mendeklarasikan kain tradisionalnya yang mirip batik dengan nama bateek. "Nah, ini dia sekarang masalahnya, Malaysia kini menggunakan kata batik," katanya. Kata yang digunakan ini akhirnya mendunia hingga masyarakat internasional mengenal batik dari Malaysia.

Nah, sampai sekarang iming-iming "indah" agar pembatik Indonesia hijrah ke negeri tetangga itu masih berjalan. Seperti gerakan bawah tanah, perlahan tapi pasti. Inilah cerita Romi, yang pernah sempat dirayu. Saat itu ia meraih Seal of Excellence for Handicraft 2007 dari UNESCO Asia-Pasifik yang berpusat di Bangkok, dan ia dihampiri perempuan dari asosiasi batik di Malaysia. "Bicaranya manis dan menjanjikan," ia mengenang.

Orang Malaysia itu hendak mempekerjakan Romi dengan tawaran yang, alamak, mantap kali. Romi dijanjikan sebuah pabrik batik, biaya kepindahan keluarganya ke Malaysia ditanggung penuh, dan lebih seru lagi: Petronas akan membiayai pameran batiknya di Jepang selama setengah bulan. "Belum lagi, saya bakal digaji 4.000 dolar sebulan," pengakuannya. Tak kurang dari Rp 36 juta bakal dikantongi tiap tanggal satu.

Romi sempat goyah, tapi ternyata kemarahannya terhadap kelakuan Malaysia lebih besar. "Saya menolak dengan alasan halus," ujarnya. Tanpa dusta, ia menyebutkan istrinya segera melahirkan hingga tak mungkin melakoni tawaran itu. Ia sempat iseng bertanya kepada salah satu kontestan batik asal Malaysia. "Kenapa, sih, mengaku batik berasal dari Malaysia?" begitulah pertanyaannya kala itu. Jawabnya sederhana tapi nyeleneh. "Nggak apa-apa, kan nenek moyang kita sama-sama Melayu juga," ujar orang Malaysia itu.

Kalau dicermati, menurut Romi, batik Malaysia belum bisa menandingi batik Indonesia. Tekstur batik Malaysia lebih sederhana, tekstil dan warna desainnya pun seperti daster batik. "Lebih kontemporer dan tidak detail, tak seperti batik sesungguhnya," ucapnya. Apalagi jika dibandingkan dengan motif batik Pekalongan. AGUSLIA HIDAYAH

Kain Nusantara Dalam Tampilan Baru

Di Hall B Balai Sidang Jakarta selama Rabu lalu sampai Minggu ini sepanjang mata memandang dipenuhi gerai yang menawarkan batik.

Meskipun penjualan itu bagian dari Pameran Kain Tradisional Unggulan Nusantara, tetapi batik tetap menjadi yang dominan. Hanya satu-dua gerai yang menawarkan kain Indonesia lainnya. Dari berbagai gerai penjualan batik itu, yang ramai pembeli adalah yang menjual blus batik.

Batik saat ini memang kembali naik daun, terutama sebagai blus dan gaun. Pada tahun 2006 Edward Hutabarat merancang sesuatu dari yang lama tak disentuh, yaitu batik katun. Dia mengubah batik katun menjadi baju dengan desain yang sedang digemari, seperti gaun atau blus bergaris A dan jaket panjang longgar.

Sekarang, blus atau gaun batik katun ada di mana-mana, dari yang berharga Rp 250.000 per buah sampai yang batas atas harganya ditentukan si pembuat. Bukan hanya dari batik dalam arti sebenarnya, yaitu teknik membuat ragam hias dengan merintang warna memakai malam, tetapi juga dari tekstil cetak (print) dengan motif batik. Mereka yang tak terbiasa mungkin tidak dapat membedakan antara batik dengan teknik batik dengan tekstil bermotif print batik.

Upaya membuat kain tradisi lebih relevan dengan situasi saat ini melalui perbaikan teknik pembuatan juga terjadi pada jenis kain lain. Rumah Songket, misalnya, telah menghasilkan songket Sumatera Barat yang benangnya lebih ringan dan luwes sehingga lebih nyaman dipakai. Di Palembang, Tria Gunawan membuat pembaruan songket palembang, antara lain dengan mengubah benang songketnya menjadi lebih ringan, memakai benang warna tembaga, atau memadukan songket dengan jumputan.

Kain Nusantara

Sementara itu, di Hall A ditampilkan kain unggulan dari berbagai provinsi, negara, seniman dan rumah kain, serta karya perancang busana yang berangkat dari kain tradisional. Adapun kain-kain warisan budaya dipamerkan di Prefunction Hall A, dari batik, songket, tenun, ikat, hingga sulam dari berbagai daerah Indonesia.

Selain ditampilkan dalam bentuk kain dan selendang, pengenalan kain tradisional dilakukan melalui desain pakaian karya perancang. Cara ini cukup efektif untuk mengajak masyarakat melihat berbagai kemungkinan baru memanfaatkan kain Indonesia ke dalam karya baru. Harapannya, cara ini akan mendorong masyarakat memakai produk Indonesia sehingga membantu perajin terus berproduksi.

Guruh Soekarnoputra, yang kembali membuat batik, menyuguhkan ragam hias yang lebih kontemporer yang dia sebut sebagai batik Indonesia untuk kemeja, gaun, hingga celana jins, tawaran yang akan menarik orang berjiwa muda.

Stephanus Hamy memadukan ikat Nusa Tenggara Timur dengan batik yang semua dia olah dalam warna baru, seperti hijau dan merah marun, sementara Didi Budiardjo memperlihatkan batik klasik sogan bisa dipadukan dengan sesuatu yang mewah, seperti gaun dari susunan logam.

Bila Oscar Lawalata menampilkan kebaya dengan pengaruh baju bodo dipadukan dengan batik lasem, tenun dari Lampung, atau tenun dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, Ghea Panggabean meminjam ide dari Sumatera Barat, Carmanita memakai jumputan dan batik khas Carmanita, maka Tuty Cholid mengembangkan lebih lanjut tenun dari Nusa Penida bermotif zigzag dalam warna cerah, sedangkan Denny Wirawan mengangkat songket palembang berbenang tembaga buatan Tria Gunawan dan ikat blongsong.

Bukan hanya di Indonesia, kecenderungan menggunakan motif dari kain tradisional juga terjadi pada perancang dunia. Miuccia Prada menggunakan cara pewarnaan yang efeknya mengingatkan pada jumputan, Chloe mengambil motif mega mendung batik Cirebon, Balenciaga meminjam motif tenun ikat Nusa Tenggara, dan Paul Smith berulang kali memakai motif batik pesisir.

Hal tersebut memberi sudut pandang baru dalam memandang kain adati/tradisional. Seperti dikatakan pengajar di Institut Kesenian Jakarta, Dr Ananda Moersid, dalam seminar Wastraprema, apa yang baru adalah hasil ciptaan yang dapat berasal dari yang lama.

Masalahnya, peminjaman oleh para perancang dari rumah mode dengan bisnis mengglobal itu nyaris tak memberi apa-apa bagi perajin yang terus setia membuat kain adat itu. Bahkan, pemakai produk pun mungkin tak tahu asal-usul ide ragam hias baju yang dia pakai. Ajakan mari mencintai produk sendiri tampaknya semakin penting di tengah globalisasi.

Ninuk Mardiana Pambudy

Bangkitnya Batik Nasional

Beberapa tahun lalu, perancang Edward Hutabarat pernah diledek karena terlalu berambisi mengutak-atik batik untuk karyanya. Toh, Edo--sapaan akrabnya--bergeming dan tetap menekuni batik. "Sekarang saya bersukacita, batik nasional bangkit, berada di deretan dunia mode Indonesia dan mancanegara," bisiknya di sela-sela peragaan "Upperground" yang digelarnya dua pekan lalu di Taman Sriwedari, Hotel Sultan, Jakarta.

Pada 2006, Edo penuh percaya diri mengenalkan Part One sebagai rangkaian produk gaya hidup yang terinspirasi oleh berbagai etnis Indonesia yang pengerjaannya sangat profesional oleh para seniman di berbagai wilayah.

"Saat itu saya memakai katun sebagai materi yang saya kombinasikan dengan semua kekayaan bumi pertiwi, seperti bebatuan, aneka tanduk, perak, dan lainnya," kata Edo, yang merancang karyanya menjadi busana santai, berlibur, baju sehari-hari, dan busana pesta. Mengenai pengerjaannya, semua seniman serta perajin batik dan kain dari Laweyan di Solo, Lasem, Pekalongan, Cirebon, Bukittinggi di Sumatera Barat; perajin perak di Bali dan Sumba; sampai penganyam rotan di Kalimantan.

Edo pantas berbangga hati. Langkahnya menampilkan batik katun menjadi rancangan berdaya pakai tinggi bagi masyarakat urban atau kehidupan kosmopolitan sontak diikuti produsen garmen dan usaha kecil menengah yang giat mengembangkan batik nasional. "Pokoknya, inspirasi saya selalu mengerjakan sesuatu yang baru. Ketika mendirikan Part One, saya punya obsesi untuk the next part tidak berhenti di satu titik, tapi selanjutnya tanpa batas."

Pada peragaan ini, Edo memang masih menampilkan Part One yang memakai batik. Hanya, busana itu kini menggunakan materi sutra yang ditenun dengan alat tenun konvensional, bukan mesin. Perancang kelahiran 31 Agustus 1957 ini mengemas batik menjadi tiga hal, yaitu identitas bangsa, sumber kehidupan meliputi air, tanah, udara dan angin, serta devisa atau sumber pariwisata untuk meningkatkan perekonomian bangsa.

"Mumpung masih hangat, tapi saya ingin menciptakan sesuatu yang baru. Batik is not yesterday or today, batik is tomorrow, the next, next, dan seterusnya. Jadi, jangan hangat-hangat tahi ayam. Muncul mengikuti tren, lalu hilang seperti angin," ujarnya panjang lebar.

Edo mengibaratkan kebangkitan batik nasional harus terus menggema dan membahana, jangan hilang di tengah jalan seperti ingar-bingar pesta yang usai begitu saja. Dijelaskannya, keunggulan batik sangat digemari lantaran kekhasannya pada unsur be your self alias apa adanya.

Bagi dia, batik bermakna sifat kesederhanaan, sisi kualitas, serta identitas negeri. Yang harus dibenahi supaya batik bisa bersanding elegan bersama aneka kain mancanegara sekelas Christian Dior, Giorgio Armani, Louis Vuiton, atau lainnya adalah batik harus berunsur global, modern, dan dikenakan para kaum borjuis dalam dan luar negeri.

Dia melihat batik sebagai seni masa lalu yang akan selalu relevan menghadapi perjalanan waktu. Karena itu, menurut dia, di tengah globalisasi, kita harus memiliki identitas seperti batik.

"Namun, pengerjaannya harus modern seiring dengan arus globalisasi, sehingga mampu berkembang dan diterima selera internasional," ujar Edo, yang memakai motif batiknya dalam sentuhan modernisasi serta tuntutan globalisasi masa kini. Dia menghadirkan paduan motif-motif pesisir dan klasik menjadi bentuk busana modern, seperti gaun mini, atasan halter, celana balon, bolero batik, rok mini dan gaun terbuka bermotif polkadot.

"Batik bukan sebuah kelawasan atau masa lalu. Batik adalah bangkit mengikuti relevansi dan perkembangan waktu di masa mendatang," ucap perancang yang dikenal piawai menyulap kekayaan kain lokal selain batik. Dia pernah membuat songket, ulos, tenun ikat, dan batik besurek Jambi menjadi busana siap pakai masa kini nan trendi. HADRIANI P

Pesanan Batik Warna Alam Sulit Dipenuhi

Denpasar (ANTARA News) - Produk batik warna alam produk perajin Bali mulai banyak diminati, termasuk oleh kalangan wisatawan dari berbagai negara, namun sulit untuk bisa memenuhi permintaan pasar secara cepat.

"Pesanan dari peminat di Bali dan dalam negeri lainnya maupun wisatawan asing terus meningkat, tetapi kami sulit untuk bisa memenuhinya secara cepat," kata pengusaha batik warna alam di Denpasar, Anak Agung Inten kepada ANTARA News, Rabu.

Ditemui di stan pameran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-29 di Taman Budaya Denpasar, disebutkan bahwa pembuatan batik warna alam untuk sehelai kain saja bisa memerlukan waktu berbulan-bulan.

Kalaupun dikerahkan tenaga perajin sesuai kebutuhan, untuk mendapatkan bahan baku pewarna alam juga tidak mudah. "Kami seringkali juga terbentur kesulitan mendapatkan akar, batang dan daun pepohonan sebagai bahan baku pewarna," ucap pemilik Puri Kebaya dan Batik Diamanta di Jalan Merdeka, Denpasar ini.

Istri pengusaha AA Ngurah Darmaja ini menyebutkan, wisatawan asing yang sudah melihat-lihat hasil produksi batik warna alam, biasanya akan memesan beberapa helai kain yang diinginkan. Seperti dari Jepang, biasanya menyukai warna merah tua.

Tetapi setelah diberi tahu harus menunggu beberapa bulan untuk bisa dikirim ke negerinya, banyak diantaranya yang kemudian meminta nantinya dilakukan konfirmasi dulu sebelum melakukan pengiriman dan penyelesaian pembayarannya.

"Mereka inginnya pesan dan langsung bayar, kemudian kainnya bisa dibawa pulang saat kembali dari Bali. Ini yang agak sulit, sementara untuk membuat persediaan dalam jumlah banyak juga tidak gampang," kata Inten.

Ibu dua orang putra dan putri ini menjelaskan, untuk membuat pewarna alam, seperti warna merah, diperlukan bahan akar mengkudu (Morinda Tinctoria). Lebih bagus lagi dari akar dan batang mangrove, namun kini tumbuhan pantai itu dilarang ditebang.

Kemudian untuk warna biru bisa dari traum, nila dan tom (Indigofera Tinctoria). Warna kuning dan coklat dari kunyit (Curcuma Longa).

Banyak lagi akar, batang dan daun tanaman yang bisa dibuat bahan pewarna, seperti dari tumbuhan pasak bumi, jati, dan lainnya, namun umumnya tidak bisa cepat didapat, atau tumbuhan itu sudah termasuk yang harus dilestarikan.

Sementara proses pembuatan batik warna alam tidak bisa dilakukan seperti produk mesin, melainkan perajinnya harus benar-benar memiliki mood yang mendukung. Saat perajin bekerja tidak dengan senang hati, maka hasilnya akan gagal.

Oleh karena itu perajin hanya bekerja membatik saat suasana hatinya benar-benar kondusif, dan jika sudah merasa malas, maka harus ditinggalkan sementara waktu untuk nantinya dilanjutkan lagi. "Sama seperti orang melukislah," ucapnya.

Harga kain batik warna alam cukup bervariasi, sehelai kain berukuran panjang sekitar 2,5 meter, ada yang Rp150 ribu, Rp200 ribu, Rp300 ribu, hingga yang jutaan rupiah.(*)

Depkumham Keluarkan Hak Cipta Batik Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata meresmikan hak cipta batik atau "batikmark" Batik Indonesia yang diharapkan dapat menjadi identitas dan ciri batik buatan Indonesia.

Peluncuran "batikmark" Batik Indonesia dilakukan bersamaan dengan pameran Gebyar Batik Nusantara yang pembukaannya dilakukan Ibu Negara Ani Yudhoyono di Jakarta Convention Centre, Rabu.

Dalam kesempatan itu, Andi mengatakan peran hak kekayaan intelektual sangat penting dalam ekonomi yang dikuasai pasar global saat ini sehingga perlu dilakukan kebijakan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap produk-produk asli Indonesia seperti batik.

Andi mengharapkan, "batikmark" bisa berfungsi untuk melestarikan batik sebagai warisan masyarakat Indonesia serta bisa semakin mempopulerkan batik Indonesia di dunia internasional dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap mutu batik Indonesia.

Menurut Andi, penggunaan "batikmark" pada setiap produk batik Indonesia memerlukan standarisasi nasional dengan memberikan Sertifikat Penggunaan Batikmark bagi perusahaan yang telah memenuhi syarat yang dikeluarkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

Perusahaan yang berhak menggunakan sertifikat Batikmark antara lain adalah perusahaan yang telah memiliki merek terdaftar serta memiliki ciri batik tulis, batik cap atau batik kombinasi cap dan tulis dengan standar nasional Indonesia sebagai acuan.

"Batikmark" Batik Indonesia ditetapkan menjadi tanda yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia yang terdiri dari tiga jenis yaitu batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap dengan Hak Cipta nomor 034100 tanggal 5 Juni 2007.

Ibu Ani Yudhoyono menyambut baik dikeluarkannya hak cipta Batik Indonesia ini yang diharapkan dapat melindungi karya para perajin batik asli Indonesia dan meningkatkan mutu batik buatan Indonesia.

Sejumlah pengusaha batik yang ditemui pada pameran tersebut mengharapkan dikeluarkannya hak cipta batik dengan logo Batik Indonesia ini tidak memberatkan perajin dan pengusaha batik karena berbagai persyaratan yang mengikutinya.

Sri Koesrini pengusaha Batik dari Solo mengatakan penggunaan logo Batik Indonesia pada setiap produk batik akan sulit diterapkan pada batik cap, karena sulit untuk menyesuaikan ukuran yang pas pada ukuran baju atau kain yang dibuat.

"Tadi dianjurkan untuk tidak menggunakan logo di belakang kerah, tetapi lebih baik langsung dibordir atau dibatik langsung. Tetapi kalau itu diterapkan pada batik cap kan susah ngepasinya di baju," kata Sri yang memproduksi batik Danar Hadi dan Ratu Batik itu.

Sementara itu, Georgius Supartono pemilik batik antik "Ibu Marsiyah" mengatakan belum mengetahui perihal penggunaan logo Batik Indonesia ini, karena belum mendapat sosialisasi dari siapapun.

"Ya nanti kita nurut saja mas kalau harus pakai logo Batik Indonesia. Tetapi mudah-mudahan tidak memberatkan perajin," katanya.(*)

ekad Kansai Yamamoto Bawa Bali dan Batik Mendunia

Tokyo, (ANTARA News) - "Setelah Beijing, perhatian publik dunia akan beralih ke Bali, Indonesia," kata Kansai Yamamoto.

Perancang busana terkenal itu sedang menggambarkan bahwa peristiwa besar Olimpiade Beijing akan disusul Kansai Super Show di Bali.

Lewat pergelaran Kansai Super Show, ia ingin menyumbangkan sesuatu yang berarti dalam hubungan persahabatan Indonesia-Jepang.

"Sebuah hubungan persahabatan, tentunya suatu yang penuh dengan semangat," kata Yamamoto kepada ANTARA di Tokyo Sabtu siang.

Yamamoto dikenal tidak saja oleh karya rancangan busananya, tetapi juga karena kreatifitasnya yang memadukan kegiatan pergelaran busana dan atraksi unik serta kolosal dalam satu paket pertunjukan yang gemerlap. Kegiatan itu akan digelar di Denpasar, Bali, 6 Desember mendatang.

Bersama Dubes RI untuk Jepang, Jusuf Anwar, ANTARA dibawa berkeliling Museum Edo di Tokyo untuk menyaksikan karya-karya busana klasik dan kontemporer rancangannya. Salah satunya adalah jaket hitam milik pentolan Beatles, John Lennon. Jaket berlengan panjang yang bertuliskan huruf Kanji di lengan bagian kiri itu dipakai Lennon untuk berfoto bersama Yoko Ono, dua hari sebelum kematiannya.

"Banyak hal yang bisa diangkat ke pentas dunia dari Indonesia. Dari sisi fashion, saya juga ingin membawa kain khas Bali dan batik mendunia," kata kansai Yamamoto yang kerap ke Bali, Yogyakarta dan daerah lainnya di Indonesia untuk memetik ide.

Corak batik dan kain Bali, serta aksesorinya dalam pandangan dari sahabat Elton John, David Bowie dan Stevie Wonder itu, memiliki prospek yang luar biasa dan bisa diterima di pasaran fashion internasional.

Namun ia juga mengakui bahwa pemahaman akan selera pasar dan kualitas yang tinggi menjadi penentu utama untuk bisa diterima di pasaran internasional. Ia juga menyebutkan perlunya kolaborasi dengan para disainer internasional guna meningkatkan citra busana itu sendiri.

"Banyak bahan-bahan yang tidak bisa diperoleh di Jepang, justru banyak ditemui di Bali dan beberapa daerah lainnya di Indonesia," kata lulusan Bunka College of Fashion tahun 1967.


Bercorak Jepang-Indonesia

Khusus mengenai Kansai Super Show di Bali, Yamamoto menginginkan sesuatu yang berbeda dan bertolak belakang dengan kegemerlapan yang ditampilkan di Olimpiade Beijing.Rancangan busananya akan banyak menampilkan perpaduan corak Jepang dan Indonesia, khususnya kain Bali dan batik.

Kansai Yamamoto tetap terlihat energik di usianya yang 64 tahun, bahkan dengan lancar ia menceritakan rencana uniknya di Bali nanti. Ia menyebutkan akan menampilkan seribu model cantik, puluhan bebek peking yang mengenakan busana khusus serta berdasi untuk tampil berbaris di atas panggung

"Kalau di Peking banyak memakai ribuan lampu bercahaya terang, maka di Bali justru tidak ada, tetapi menggunakan ribuan cahaya obor. Unik bukan?" ujarnya lalu tertawa.

Setelah itu ia juga akan menggelar pertunjukan serupa di New York tahun 2009, dengan Batik dan kain Bali tetap sebagai primadonanya

Pemilik "Boutique Kansai" di Paris, Milan, New York dan Madrid itu, juga menyetujui tema pertunjukkannya yang ditawarkan oleh Dubes Jusuf Anwar "Indonesian-Jepang Friendship Super Show".

"Supershow itu nanti memang harus mengambarkan sesuatu yang bersemangat, yaitu semangat hubungan baik. Pertunjukannya diharapkan bisa dikenang bagi semua orang," ujarnya.

Sementara itu, Dubes Jusuf Anwar mengatakan, semangat yang diperlihatkan Kansai Yamamoto dan juga rencananya menggelar super show merupakan dukungan yang kongkret bagi hubungan persahabatan kedua negara.

"Bukan Kansai Yamamoto namanya kalau tidak menghasilkan sesuatu yang spektakuler dan unik. Dipilihnya Bali, juga merupakan pilihan tempat yang tepat, mengingat citra Bali di mata komunitas internasional yang sudah baik," ujarnya.

Mengenai pertunjukan yang dilaksanakan di akhir tahun, Dubes mengatakan justru menjadi kegiatan penutup yang memikat di penghujung tahun. Setelah serangkaian kegiatan yang padat selama ini aksi super menjadi penutup tahun yang akan dikenang selamanya.

Kansai Yamamoto kerap memadukan acara fashion show dengan atraksi kolosal, seperti yang biasa dilakukan dalam atraksi sulap internasional.

Aksi pertunjukan Kansai Super show di Moskow bertema "Hallo Russia" tahun 1993 dipadati 120.000 pengunjung. Sedangkan pertunjukkan "Hallo Vietnam" di Hanoi tahun 1995 mencapai 200.000 pengunjung. Juga aksi "Hello India" tahun 1997 disaksikan 50.000 orang lebih.

Panggung yang luas gemerlap dan modern, melibatkan ribuan model cantik, serta kerap menampilkan atraksi unik merupakan ciri khas dari pertunjukkannya yang menurut Yamamoto sendiri "sebuah ekspresi yang berasal dari kekuatan luar biasa energi manusia".(*)oleh Benny S Butarbutar